Menjadi Orang Terkaya Mulai Hari Ini

Menjadi Orang Terkaya Mulai Hari Ini
Episode 34


__ADS_3

“Beraninya dia menyuruhku melayani tamu. Jorok sekali,“ ujar Cao sembari matanya memandang makanan di meja yang bagus-bagus.


“Hehehe….“


Sembari membawa anggur. Diantara tawa-tawa manusia hidung belang, sungguh memuakkan. Apalagi kalau hidungnya lebar, dan bibirnya tebal, bakalan gawat itu. Bisa menghabiskan banyak minuman hanya dengan langsung menenggaknya dari botol tanpa perlu capek menggunakan gelas dulu. Ini benar-benar sebuah pengalaman buruk yang akan kembali dia dapat gara-gara bersama Lin Tian di bawah naungan perusahaan kacau nya itu.


“Tak mungkin… ada kak Long.“ Sembari menggelengkan kepala. Kali ini dia berharap banget dan memasrahkan nasibnya itu pada orang yang demikian sakti.


“Lin Tian tidak mungkin berhasil.“ kali ini ada tiga orang berbahaya yang siap menghadang langkah pemuda itu.


“Kak long aku sudah siap.“


“Baiklah. Kamu ulur waktu Lin Tian dulu satu menit.“


“Baik,“ ujar Hao.


“Aku mau lihat apa rahasianya.“


Memandang jendela rumah itu. Rumah yang penuh misteri, dan bakal menguak misteri akan kelemahan dari seorang Lin Tian .


“Hei Lin Tian,“ ujar Hao.


“Eh si Silau. Apa urusanmu?“ ujar Lin Tian seakan terkejut saja berkali-kali berurusan dengan satu pemuda aneh yang tak pernah menang ini. Barangkali dia hendak main dan merasakan bagaimana kekalahan bakalan di derita lagi.

__ADS_1


“Benar sekali, aku adalah Jiang Hao. Tumben sekali kenapa Lin Tian hari ini bisa datang kemari,“ ujar Jiang Hao yang mencoba berbasa-basi sekedarnya supaya tak kentara kalau dia hendak mengulur waktu satu menit demi Long bisa mendapatkan informasi dari musuhnya itu. Setelahnya tentu akan dengan mudah mengalahkannya serta membawa kembali dirinya menuju ke babak tak menyenangkannya.


“Tidak ada urusannya denganmu.“


Bye…


“Tunggu dulu,“ kata Jiang Hao. Bakalan gawat kalau dia lenyap. Maka tak akan bisa di deteksi data tentang kekurangan dari manusia satu itu, andai langsung saja meninggalkan lokasi, dimana terawangan Kakak long tak bisa mengikutinya.


“Ada apa lagi?“ ujar Lin Tian. Sejenak dia terdiam. Ada apa tentang orang satu itu. Bukankah dia sudah hendak membayar. Uangnya kali ini banyak, dan tak perlu risau hanya mampu membayar nasi putih lima piring sama lauk tempe mendoan doang.


“Restoran ini adalah milik keluargaku. Aku bisa memberitahu dapur untuk melayani mu,“ kata Jiang Hao yang sangat paham jika tak mau membayar, maka pengunjung ada yang Cuma disuruh mencuci piring untuk mengganti biaya makan. Atau cukup di lempar keluar dengan baju sedikit dibuat acak-acakan.


“Tidak perlu. ingat setelah makan beri aku nota,“ ujar Lin Tian yang merasa sudah kaya, bukan anak compang-camping yang kalau pergi sekolah hanya bawa tas plastik serta pakai sandal jepit saja. Dia sudah memiliki banyak uang, dari sistem yang selalu dia menangkan pada tiap episode nya.


Semua menoleh. Mendengar teriakan Hao.


“Oh mananya yang melanggar?“ ujar Lin Tian.


“Di ruangan VIP ini kamu menyuruh artismu untuk melayani tamu. Ini adalah transaksi terlarang!“ tuduh Jiang Hao. Dengan yakin dia bicara demikian, soalnya laporan Cao Biluo juga demikian. Kakak Long bicara jelas. Apanya yang salah. Dia pasti menyuruh untuk melayani tamu. Itu yang tak benar. Dimana-mana kata-kata itu sangat menyenangkan, namun menjerumuskan, dan membuat mereka-mereka ini terjebak dalam sebuah periode terlarang yang bisa saja di jerat keduanya. Baik yang senang maupun yang membuat senang. Dan yang membayar atau dibayar, akan terseret semuanya.


“Perkataan harus didasarkan dengan bukti bisnisku, semuanya adalah bisnis yang jujur dan besar,“ kata Lin Tian dengan pasti. Dia bukan mau mengelak, namun dia merasa kalau bisnis yang kali ini dia lakukan semata-mata hanya untuk membantu sesame yang merasa kecil dan tak berarti.


“Aku tidak percaya. Jelas-jelas Shanya memberitahukan rencanamu!“

__ADS_1


Pintu didorong dengan kuat. Untuk memastikan kalau kali ini Lin Tian tak bisa berbuat banyak dan hanya mesti mendekam dalam ruang sempit dan membelenggu itu. Kali ini. Sudah pasti. Semuanya akan terbongkar. Kedok dari si miskin itu. Dan akhirnya, dia, dia ini, si Jiang hao, yang bakalan kembali menjadi orang terkaya di kampus WW.


“Ini…“ Hao kaget. “Ini adalah tamumu?“


Nampak terlihat satu keanehan yang demikian menyayat. Dimana seorang besar tengah dikeroyok oleh belasan laki-laki. Juga wanita.


“Kakak… kakak, temani aku main. Kakak temani aku main dulu!“ mereka teriak-teriak. Dan tak ingin ditinggal serta mesti ditemani terus. Sebab itu yang mesti menjadi tugas Cao. Melayani mereka.


“Bagaimana, benar kan, ramai sekali?“ ujar Lin Tian yang merasa taka da yang ditutup-tutupi, hanya karena supaya mereka tak lepas, lalu main di jalanan yang kemungkinan nanti akan berurusan dengan kendaraan mengerikan. Kalau lepas.


“Ini yang kamu maksud tamu? Semuanya anak kecil?“ Jiang Hao keheranan.


“Memangnya apalagi?“ ujar Lin Tian yang sekarang justru tak paham dengan otak ngeres dari seseorang yang mengaku sebagai teman di kampus tapi kelakuannya menjurus pada masalah demikian. Itu tak bagus. Itu hanya akan menambah kebencian serta praduga tak bersalah yang keliru.


“Aku akui kamu hebat,“ ujar Jiang Hao yang lagi-lagi menderita kekalahan. Tentu malu, namun dia tak terlampau malu untuk lain kali bisa membalaskan sakit hati ini. Juga berharap si Kakak Long sudah bisa mendeteksi watak dari pemuda aneh ini, sehingga bisa ditelusuri lagi apa yang mesti dilakukan demi mengalahkan manusia licin itu.


“Tidak ada orang yang lebih cocok untuk melayani anak-anak kecil ini. Tuan Putri Imut Cao Biluo,“ ujar Lin Tian. Bukankah seorang wanita itu akan lebih menyenangkan jika sesuai kodratnya. Mengasuh anak, mendidik mereka supaya menjadi anak yang berbakti kepada orang tua, dan berguna buat nusa dan bangsa. Itu tugas seorang ibu. Dan kali ini si wanita ganas yang mafia itu, semestinya belajar untuk bisa menghayati hidup ini. Bukan main kasar, main injak kepala orang, lalu menyuruh dengan membentak-bentak, seakan menjadi bos yang tak terkalahkan, serta menjangkau puncak dari popularitas dengan cara-cara yang lumayan kecil begitu.


“Lin tian sebenarnya bagaimana otakmu bertumbuh?“ ujar Cao sedikit sedih. Seorang mafia yang ganas, mesti mengenang kembali riwayat kesedihan seperti saat kehilangan kedua orang tua serta tempat tinggalnya. Ini sama sekali tak benar.


Apalagi anak-anak ini benar-benar predator yang demikian ganas. Anak kecil yang nakal dan senang naik-naik ke kepala, minta di gendong. Main pukul jidat. Menyebalkan.


“Ini apa yang sebenarnya apa yang sedang terjadi. Apa kode-kode angka itu? Tubuh penuh kode angka,“ ujar Kakak Long yang keheranan. Memandang tubuh Lin Tian penuh dengan angka-angka yang rumit. Semacam rumus-rumus yang membuat pusing kepala saat pulang sekolah meskipun tanpa hujan, tanpa mendung. Puyeng.

__ADS_1


__ADS_2