
Di suatu tempat .
Nampak suatu yang seram.
Penuh dengan lampion.
“Ini tempatnya? Kenapa aku merasa ada yang tidak beres,” ujar Zhao Weiwei yang tak yakin kalau lokasi ini sangat baik untuk sekolah. Padahal sudah membawa tas punggung yang unik dengan porsi kecil saja.
“Kamu takut ya?” tanya Lin Tian seakan penuh nada ejekan.
“Huh, mana mungkin! Aku adalah seorang polisi,“ ujar Zhao dengan yakin.
“Kalau begitu, kenapa kamu mencengkeram ku kuat-kuat?“ ujar Lin Tian dengan tangan gemetaran akibat di remas oleh cakar yang menyeramkan begitu.
“Karena lihat!“ tunjuk Zhao.
Nampak di sekeliling rumah tersebut, selain remang-remang cahaya lampunya, juga Nampak bayangan banyak orang dengan bayangan, lalu di langit juga Nampak muka besar, serta hantu kuda yang begitu menyeramkan. Itulah akhirnya yang membuat bayang pepohonan juga terlihat seram. Dan kaktus seakan hidup saja.
Melihat hal demikian muka Lin Tian langsung berubah kecut.
“Lihat kamu sendiri juga takut,“ ujar polisi zhao menatap perubahan pada diri pemuda itu.
__ADS_1
“Huh, mana mungkin… Aku adalah orang yang membuka rumah hantu dan escape room,“ tegas Lin Tian.
“Kalau begitu, kenapa kamu memelukku seperti ini?“ Zhao Keheranan. Lin tian memeluk kuat sekali. Bahkan seakan tak ingin lepas bagai orang yang hendak kehilangan saja. Sampai tubuhnya naik ke pelukan itu, dan kakinya terangkat semua. Ini membuktikan kalau pemuda ini sedikit saja rasa takutnya.
Lin Tian lalu sadar diri.
“Lin Tian, kenapa banyak sekali orang yang berduka di sini?“ tanya Zhao.
“Uhuk…“ Lin Tian terbatuk kecil.
Belum juga ada jawaban pasti, Zhao melihat gambar diri seseorang di sebuah bingkai yang menua. “Apa yang terjadi dengan wilayah ini?“
“Nona bukan begitu,“ jawab seseorang yang tiba-tiba muncul. Membuat sedikit terkesiap yang ada di situ.
Melihat kenyataan itu Zhao tambah gemetaran. “Lin Tian apa ini hu…“ Lalu merintih.
“Ini adalah basis upacara duka terbesar di seluruh negara. Kabupaten Cao,“ jelas Lin Tian.
“Halo, aku adalah bupati Kabupaten Cao, Bi Nanshan,“ ujar Bi Nanshan, sosok yang ada dalam pigura tersebut.
“Hah, bukannya kita kemari untuk mencari produsen pakaian tradisional Han?“ ujar Zhao.
__ADS_1
“Dua hal ini sebenarnya sama saja. Dalam sejarah kabupaten Cao memiliki ciri khas dalam kerajinan kayu nya seiring berkembangnya zaman permintaan furniture kayu menurun. Lebih banyak orang memilih furniture yang diproduksi oleh jalur perakitan atau barang-barang rumah tangga yang terbuat dari besi dan plastik. Hal ini membuat kesulitan ekonomi di kabupaten Cao, satu-satunya yang permintaannya masih tinggi hanya peti mati saja,“ ujar Lin Tian sembari membicarakan peti mati yang masih laris. Sementara furniture lain seperti kursi hita, kursi biru dan lainnya tak begitu banyak peminat.
“Selain itu, sebagai tanggapan atas permintaan kremasi bisnis peti mati kabupaten cao merosot. Namun orang miskin ingin berubah kabupaten cao berani menjadi yang pertama mengincar negara-negara di asia tenggara kep[ang dan negara-negara lain yang memiliki kebutuhan peti mati dan giat terlibat dalam bisnis ekspor. Kabupaten Cao telah mengontrak bisnis ekspor peti mati,“ ujarnya lagi sembari membayangkan peti yang unik. Bentuknya seperti sarkofagus yang bulat panjang dengan peti yang meninggi di kedua ujungnya dan pada sisi samping tergambar bendera sebuah negara di mana si pengguna tinggal. Ini yang sangat di gemari. Selain itu mesti di tanya penggunanya negaranya mana, supaya saling sinkron dan mengena. Kalau beda negara kan tidak kena nanti. Makanya mesti di tanya sejelas-jelasnya.
“Selain itu, walaupun kebutuhan peti mati dalam negeri menurun, tapi industri kedukaan masih. Kabupaten Cao mulai memproduksi bundel kertas karangan bunga pakaian duka dan barang-barang lainnya. Barang barang ini awalnya dijual dalam set dengan peti mati. Dan sampai hari ini telah menjadi produk utama Kabupaten Cao.“
“Ini, apa hubungannya dengan pakaian tradisional Han?“ kembali Zhao bertanya sembari garuk-garuk kepala. Dari awal tidak di jelaskan mengapa dan bagaimana, tahu-tahu langsung saja berkisah tentang keseraman, serta kerjasama yang sangat cocok antara keduanya. Makanya berkali-kali dia ingin mengetahui akan hal tersebut. Sehingga nanti dia tidak mati penasaran kalau tidak mendapat penjelasan yang sangat jelas dari mulut kedua orang penting yang sudah saling cocok untuk bekerja sama dalam hal tersebut.
“Entah ini pantas disebut atau tidak, tapi apa ciri khas pembuatan baju duka dan gaya dari pakaian tradisional han. Semuanya mempertahankan pakaian tradisional kan? Pakaian tradisional Han juga salah satu dari pakaian tradisional kan?“ jelas Lin Tian. Terbayang di matanya tentang suatu baju daerah yang demikian anggun. Dengan balutan warna kuning pucat dengan kerah yang simple namun menjadi khas, lalu dengan rajutan yang memanjang dari bagu hingga ke bawah dengan menyudut di area dadanya. Dan tiga tali mengikat tepian pakaian itu sebagai penguat agar tak mudah terbuka. Serta lengan panjang memenuhi tangan, dan hiasan yang demikian saja tak perlu penuh kemewahan.
“Hahaha tidak ada yang tidak pantas disebut, hanya sebuah bisnis, kita tidak pantang dalam hal ini,“ ujar Bi Nanzhan.
“Aku bisa mendapatkan ide ini karena tema zombie kuno baru dari rumah hantu Tianlin membutuhkan banyak kostum kuno khusus. Kemudian aku menemukan sebuah perusahaan film dan mendapati,“ kata Lin Tian. Zombie yang begitu mengerikan dengan kertas penuh mantera di dahinya yang membuat mahluk itu terdiam, lalu cakar seramnya yang mematikan, dalam balutan busana jubah besar menutupi tubuh tanpa darah sampai wajahnya memucat berwarna ungu gelap. Itu yang menginspirasi dari si penakut Lin Tian. Sehingga kalau ketakutan untung banyak bisa nemplok cewek begitu saja.
“Mendapati kalau kami kabupaten Cao sekarang tidak hanya memproduksi pakaian kedukaan, tapi juga memproduksi pakaian, tapi juga memproduksi berbagai kostum drama lagipula desainnya hampir sama. Kami kabupaten Cao memiliki teknologi, juga keterampilan, dan orang-orang terampil sampai saat ini sudah menjadi industri tulang punggung kabupaten Cao,“ kata Bi Nanzhan.
“Wow, ini adalah upgrade industri yang legendaris,“ ujar Zhao berbinar.
“Haha, namanya juga manusia, asalkan memiliki pemikiran yang fleksibel, kapanpun dia berkembang, pasti akan menemukan jalan keluar. Jadi aku sudah berdiskusi dengan bupati BI, mengenai arah upgrade industri,“ kata Lin Tian.
“Benar, benar, kita hanya kebetulan memiliki ide yang sama,“ kata Bi berbisik. Rupanya hal ini merupakan suatu kebetulan yang mengakibatkan mereka bisa bekerja sama dengan baik.
__ADS_1
“Industri pakaian tradisional Han,“ ujar Lin Tian sembari menjabat tangan Bi. “Tunggu saat kita bisa menghabisi para monopoli yang hanya ingin mendapatkan uang hitam. Aku akan memberikan barang-barang kedukaan ini untuk mereka.“