Menjadi Orang Terkaya Mulai Hari Ini

Menjadi Orang Terkaya Mulai Hari Ini
Episode 159


__ADS_3

“Hrr…“


Lin Tian terus saja melanjutkan impian nya. Tak perduli banyak orang yang tengah mengerumuni nya.


“Direktur Lin sekarang sedang tidur, pasti karena dia telah menghabiskan banyak tenaga dan pikiran. Agar perusahaan bisa meraup untung lebih banyak,“ ujar si ahli yang Cuma berani mengintip lewat pintu yang terbuka sedikit. Itu sudah cukup menyaksikan gestur tubuh sang direktur yang Nampak sangat kelelahan.


“Benar. Benar. Kalau bukan karena Direktur Lin, perusahaan sudah rugi sejak dulu,“ ujar Qian sangat yakin.


Namun…


Tap…


Terdengar langkah berat.


“Lin Tian!“ ada suara keras memanggil nya. “Aku mau bertemu dengan Lin Tian!“


“Aku mau bertemu Lin Tian!“ ujar seseorang dengan badan sangat tegap dan mengerikan menerobos masuk. Dari gestur tubuh nya benar-benar tak mengenakkan. Apalagi Bahasa tubuh nya itu Nampak sangat membuat orang cemas. Seakan dia hendak berbuat jahat saja. Sudah itu vokal nya yang kereng membuat semuanya langsung menduga kalau dia bakal berbuat yang tak baik. Mesti di cegah.


“Hai, jangan lari, tolong registrasi dulu, anda tidak bisa menerobos masuk,“ ujar wanita petugas registrasi yang kelimpungan kala menyaksikan ada tamu yang kacau begitu. Bagaimana dia bisa mendata siapa yang dating nanti kalau semua asal selonong saja. Ini jelas-jelas tak bisa di bilang dia taat adat.


Bruk!


Dengan kasar, pintu yang tak salah apa-apa itu di dobrak nya hingga ternganga lebar. Memakai tangan kuat nya lagi kala membuka paksa pintu tersebut. Benar-benar kasar orang ini, tak menghargai yang punya rumah. Padahal para karyawan dalam membuka serta mengintip, itu sangat hati-hati.


“Gawat, cepat lindungi Direktur Lin,“ ujar para karyawan panik. Jangan sampai pimpinan mereka kenapa- napa sama orang yang demikian mengerikan itu.


“Direktur Lin awas!“ Semua nya kini waspada. Bakalan menjadi tameng badan nya demi sang pimpinan yang begitu di idola ini. Sebab kalau sampai pimpinan itu mengalami musibah, mereka juga yang bakal kena imbas nya. Selain bisa tak mendapat pekerjaan alias mesti angkat kaki dari situ, bisa juga mendapat teguran dari pimpinan selanjutnya jika mendapat kerja di lain posisi, sebagai anak buah yang tak becus dalam membela si bos besar nya itu. Ini yang membuat kepercayaan orang pudar pada kinerja mereka nanti nya.

__ADS_1


“Cepat panggil satpam!“


“Eh…“ Lin Tian hanya terkejut saja, mendapati ada yang mencari dirinya.


“Hehehe, akhirnya aku menemukan mu Lin Tian,“ ujar nya dengan riang. “Aku tunjukkan sesuatu untuk mu.“


“Muncul si cabul liar!“ Semakin panik para karyawan. Mana orang tinggi besar itu sudah berada di depan bos mereka lagi. Kalau celaka bagaimana?


“Apa yang terjadi?“ ujar Lin Tian yang kini panik sendirian. Mana musuh sudah ada di depan muka lagi. Dia lalai terlampau asik tenggelam dalam mimpi tadi. Yang membuat musuh yang datang demikian mudah mendapat kan nya. “Aku belum merugi, nyawaku sudah terancam.“


“Hahaha, Lin Tian,“ ujar pria itu seraya memegang dengan erat tangan nya sesuatu yang lumayan besar.


Lin Tian semakin tercekat.


Namun orang itu kemudian menunduk seraya menyerahkan benda tersebut dengan dua tangan. “Terima hormatku.“


“Eh ini…“


Orang itu lalu membuka sebuah benda yang mirip panji. Di rentangkan lebar-lebar kain merah terlipat itu.


UNTUK LIN TIAN, SAHABAT LANSIA PENOLONG IBU KU, DARI WANG ERZHUANG.


“Lin Tian pahlawan ku,“ ujar Erzhuang sembari merengkuh Lin Tian. Demikian hangat nya persaudaraan yang baru terjadi ini. Sampai membuat yang di peluk gelagapan. Ini tanda kasih sayang seseorang yang demikian gembira nya, sampai tak memperdulikan apakah akan ada yang merekam atau tidak. Dia tak perduli, yang ada hanya kesukaan belaka. “Kalau tidak ada kamu, tidak ada ibu ku juga.“


Dia lalu berkisah.


“Aku dan ibuku hidup berdua setiap hari saat aku bekerja aku selalu mencemaskan nya. Ibuku sakit aku juga tidak bisa selalu menjaga nya. Dia juga takut mempengaruhi ku sehingga tidak berani keluar rumah. Tapi waktu itu takdir merubah segalanya. Ibu ku melihat brosur lowongan kerja dari perusahaan Suxue. Dengan bantuan dari supir kurir pesan antar setiap hari dia memiliki waktu untuk berjalan-jalan dan juga mencari uang. Hari itu ibu ku tidak berangkat kerja, tepat waktu supir merasa ada yang aneh. Akhirnya polisi datang ke rumah ku dan menemukan ibu ku sudah terbaring di lantai. Dengan pertolongan tepat waktu, ibu ku selamat,“ ujar Erzhuang menutup kisah nya.

__ADS_1


Lalu katanya pada Lin Tian, “Lin Tian, kamu adalah penolong ibu ku. Kamu adalah kakak ku.“


“Ini benar-benar ada hubungan nya dengan ku?“ Lin Tian malah kebingungan demi sebuah tindakan yang semestinya mendapat untung besar dari kembalian sistem akibat rugi, kini sebalik nya. Malah menambah persaudaraan. “Setelah di pikir lebih lanjut, sepertinya ada ya.“ Barulah Lin tian semakin yakin akan berarti nya diri nya yang sudah bisa berbuat sangat banyak sebelum tertidur atau saat terlelap tadi.


“Ibu mu, em… Bagaimana kondisi ibu mu apa sudah pulih sempurna?“ tanya Lin Tian. Mulai main mata sembari menjilat-jilat bibir. Nampak ada rencana hebat rupa nya.


“Sudah, walau pun aku menghabiskan tabungan untuk berobat, tapi kondisi nya sudah jauh membaik,“ jelas Erzhuang.


“Kenapa bisa seperti itu? Cepat ganti semua uang pengobatan ibu mu,“ ujar Lin Tian marah. Bagaimana dia bisa menggunakan uang perusahaan kalau orang-orang bertindak sesuka hati.


“Penolong ku jangan begitu. Aku, Wang Erzhuang, tidak punya keahlian apapun, hutang budi ini terlalu besar, aku tidak bisa membayar nya,“ ujar Erzhuang merasa sangat di perhatikan oleh orang yang demikian baik. Tak banyak kata yang bisa dia ucapkan untuk satu kesempatan indah namun demikian berat untuk dia lakoni.


“Pekerjakan Erzhuan di perusahaan kita juga. Berikan gaji sebesar wakil direktur,“ ujar Lin Tian yang sangat senang. Lagi-lagi dia punya alibi untuk memperoleh yang dia kehendaki.


“Tidak bisa, jangan. Aku benar-benar tidak bisa apa-apa,“ ujar Wang Erzhuang


“Kamu bisa belajar. Tapi bakti mu ini tidak bisa di tiru orang lain,“ ujar Lin Tian seakan bicara bijak. ‘Ah, tidak punya keahlian, bukankah dia bisa membantu ku merugi. Aku, Lin Tian akan merugi.’


Tiba-tiba pintu di ketuk…


“Lin Tian, kamu di dalam.“


Zhou Wei Wei menerobos masuk.


“Eh… Si Zhuang juga memberi mu panji,“ kata Zhou Wei Wei. “Aku datang mengantar panji penghargaan resmi. Tentu saja ada kontrak resmi kerja sama.“


Sembari menunjukkan panji berwarna merah cincai dengan tulisan ‘sahabat lansia menciptakan masyarakat yang bahagia’.

__ADS_1


Lin Tian hanya bengong saja. Tak tahu apa yang mesti kali ini dia lakukan.


__ADS_2