Menjadi Orang Terkaya Mulai Hari Ini

Menjadi Orang Terkaya Mulai Hari Ini
Episode 306


__ADS_3

“Semuanya jangan bergerak!“ Petugas berseragam itu mendobrak pintu yang rapat tadi dengan sangat lantang dan tegas serta berharap semua saja yang ada di baliknya sangat mengkerut ketakutan.


“Kalian sudah membuka les diam-diam itu sudah melanggar hukum!“ Lanjutnya sembari berusaha supaya jangan sampai mereka semua melarikan diri ke segenap arah dan menyisakan ruang kosong dengan tanpa hasil.


Namun berikutnya tercengang.


“Apa… Apa ini?“ Dengan penuh tanda tanya semuanya hanya bisa menatap heran ke dalam ruangan yang baru saja mereka dobrak paksa itu.


Sementara dalam ruangan tersebut dengan asyiknya mereka-mereka terus saja melakukan kegiatannya yang seakan tak terusik dan tidak mengacuhkan jika tuduhan yang tengah mereka terima kala itu benar-benar sebuah hal yang tak usah di abaikan.


Dimana pada satu sisi, di depan kelas, Nampak para murid yang terus mengoceh mengenai pelajaran hari itu.


Dan para guru dengan tertib duduk mendengarkan mereka saling memberi pengetahuan yang sangat luas.


“Murid mengajar, guru mendengar.“ Para polisi kebingungan. Tak seperti suasana les di lokasi lain, di sini justru kebalikannya. Sehingga para guru yang dengan tekun sembari ter kantuk kantuk mendengarkan apa saja celoteh anak didiknya yang sekarang tengah menjelaskan berbagai materi pelajaran.


“Betul, mereka adalah guru kami sekarang,“ ujar Pak Guru sembari menunjuk hidung muridnya yang tengah mengajar. Ibarat pepatah guru kencing berdiri, murid kencing berlari, maka sekarang murid yang berlarian itu dan guru mengejar dengan sepeda onthel, ini yang terjadi dalam ruang les perusahaan Tianlin ini. Sehingga membuat murid tidak ngedumel dengan kurikulum baru yang tengah berjalan sembari nanti setelah pulangnya masih bisa main, dan tidak ada full day, full day.


“Hmm kalau begitu, membiarkan murid yang mengajar apakah termasuk mengurangi beban? Apakah termasuk les?“ ujar para polisi tersebut kepada ketua yang juga kebingungan bagaimana memperlakukan kelas yang sebenarnya tidak sungguh-sungguh sesuai dengan ijin yang berkaitan dengan lembaga tersebut yang mana biasanya dalam suatu lembaga pendidikan adalah dimana guru yang memberikan pembelajaran kepada para murid, sementara murid yang pada terdiam setengah tolol sembari mendengarkan sampai mengantuk pada apa yang dikatakan oleh semuanya itu.

__ADS_1


Semuanya saling merenung untuk menindak lanjuti keputusan apa yang bakal di kenakan pada mereka yang kacau ini.


“Panggil penanggung jawab kemari! Tidak panggil kepala sekolah kalian kemari,“ ujar ketua hendak menindak lanjuti keanehan itu.


“Siapa yang panggil aku? Kamu… kamu panggil aku ya?“ ujar Lin Tian dari belakang sebelah paling mundur sekali. Dia merasa bakalan ada kehebohan di situ yang memerlukan dirinya menjawab dengan lantang. Makanya sebelum semuanya bertambah parah dan akan saling memanggil, maka lebih baik jika dia mendekat dulu sembari menyentuh para petugas yang sangat terkejut sebab belum ada yang bergerak memanggil, tahu-tahu yang di kehendaki sudah menampakkan batang hidungnya.


“Aku Lin Tian, ada yang bisa di bantu?“ ujarnya lagi. Takut kalau-kalau para petugas itu yang malahan terkejut.


“Tolong jelaskan apa yang sedang kalian lakukan di sini?“ tanya pak kepala sembari menunjuk anak-anak yang berlagak jadi pengajar, sementara para guru dengan santainya duduk di kursi murid.


“Oh mudah sekali. Lembaga Pendidikan Tianlin, Tugas utama adalah murid yang mengajar guru, ini baru benar-benar mengurangi beban,“ jelas Lin Tian.


Semua mendengar dengan seksama.


“Karena mereka tidak serius belajar,“ ujar petugas.


“Salah. Beban sangat besar out karena pemikiran murid-murid yang berbeda tapi malah diajarkan pemikiran yang sama. Kita perlu mendidik sesuai dengan kondisi murid,“ jelas Lin Tian.


“Diam! Belajar materi yang sama baru tahu siapa yang lebih pintar.“

__ADS_1


“Mendidik sesuai kondisi murid itu hanyalah wacana palsu hal ini hanya akan menghabiskan uang orang tua murid juga tidak ada hasilnya. Semua ini karena kalian tidak bisa menentukan tipe murid! Apakah murid yang pandai matematika hanya perlu belajar matematika? Apakah murid yang pandai Bahasa Inggris hanya belajar Bahasa Inggris? Itu bukanlah mendidik murid sesuai dengan kemampuannya, melainkan kalian tidak mau capek!“ ujar Lin Tian dengan suara keras supaya yang di ajak mendengarkan bersedia berkata iya untuk semua kata panjangnya itu.


“Kenapa kamu begitu galak?“ Yang mendengar hanya bisa mengkerut.


“Mendidik sesuai kondisi adalah mengajar murid sesuai dengan pemikirannya lalu membantu meningkatnya. Dengan demikian murid baru akan merasa nyaman dan ingin belajar. Kami membiarkan murid yang memecahkan soal ini sendiri cara penyelesaian mungkin salah atau terlalu mudah mungkin juga tidak masuk akal. Kami juga memiliki guru yang akan membantu untuk menambahkan ilmu pengetahuan murid. Guru hanyalah sarana bagi murid dengan demikian murid baru bis  tumbuh dewasa secata mandiri,“ kata Lin Tian.


“Tadi pagi, aku sudah mengingatkan semua guru. ‘Guru yang sebenarnya tidak akan menjadi dewa bagi murid maupun orang tua, melainkan Menjadi sarana bagi murid. Menjadi bekingan terakhir murid. Menjadi alat bagi murid. Satu murid akan ditemani sepuluh guru pengeluaran seperti ini,“ ujar Lin Tian sangat puas dengan apa yang sudah keluar dari mulutnya. Yang dianggapnya itu suatu penjelasan akan pemikiran sebenarnya dari lembaga pendidikan yang tengah dia kelola.


“Aku merasa, Dia adalah guru idamanku di masa kecil,“ ujar Guru botak yang sangat terpengaruh dengan ucapan Lin Tian yang sudah panjang lebar dan semuanya seakan tengah memenuhi isi kepalanya.


“Kepala sekolah, Aku ingin menjadi guru,“ ujarnya memohon kepada Lin Tian supaya bersedia mengajak dia juga di lembaga yang tengah di pimpinnya itu. “Guru yang sebenarnya.“ Lalu dia bakalan mengamalkan apa yang baru saja di katakana secara panjang lebar oleh Lin Tian sebagai kepala sekolah yang sudah mengajarkan akan banyak hal mulai dari pertama tadi.


“Ketua apa yang harus kita lakukan sekarang?“ ujar para anggota yang melihat semua hanya diam tanpa melakukan apapun, sehingga dia perlu mengingatkan agar satu tujuan awal sebelumnya segera di tuntaskan serta untuk bisa melakukan kegiatan lain yang lebih bermanfaat.


“Apa lagi, ayo pergi,“ ujar ketua yang merasa sudah taka da yang bisa dilakukan di tempat itu.


Namun ia berbalik dan menghubungi Lin Tian. “Oh iya, pendaftaran di mana ya? Aku ingin mendaftarkan anakku ke sini.“


“Hehe, aku akan membawamu ke tempat pendaftaran,“ ujar Lin Tian sangat berkenan dengan keinginan orang yang sudah memulai untuk memasukkan anaknya ke lokasi yang tepat demi masa depan dan pendidikan yang sesuai dengan kurikulum terbaru.

__ADS_1


“Ketua!”


Para anggota hanya bisa keheranan seraya menghentikan langkah mereka untuk tak habis mengerti dengan kelakuannya itu.


__ADS_2