
“Lin Tian kenapa kamu…“ Guru Chen dalam dekapan Lin Tian.
“Ini adalah Lin Tian.“
“Kenapa kamu bisa ada di luar jendela!“ bentak Su Wumei. Ternyata ada mobil crane. Dengan itu Lin Tian naik. Dia tentu saja bisa menjangkau tempat tinggi. Alat yang memang bagus untuk memperbaiki segala sesuatu di ketinggian. Listrik yang kabelnya putus. Dengan ini akan sangat mudah membereskannya. Juga membersihkan kaca di tempat yang tinggi hingga beberapa lantai, maka akan sangat efisien kalau memakai alat demikian. Inilah yang digunakan Lin Tian untuk menolong guru cantik pacarnya itu.
“Bukankah membeli mobil proyek bangunan seperti ini sudah bisa sampai ke lantai 7?“ ujar Lin Tian nyengir. Senang sekali dia. Usahanya berhasil. Serta berhasil pula menangkap ibu guru di saat yang tepat.
Guru Chen hanya bengong. Antara takut jatuh atau puyeng.
“Bu guru Chen, aku takut ketinggian… biarkan aku istirahat sebentar,“ ujar Lin Tian yang pura-pura, kelihatan pura-pura tuh, biar bisa mendekap bu gurunya yang bahenol. Bahkan sambil menggesek gesek. Ngeri kan anak seperti itu.
“Lin Tian jangan sembarangan! Ada guru lain yang melihat!“
Bakalan bencana kalau sampai dilapor atau bahkan di video sama mereka. Akan viral. Dengan tulisan besar, ada murid yang menggesek gesek gurunya sampai kacamata gurunya basah. Repot tuh.
“Bu Chen, kalau nggak ada orang, aku boleh melakukan apapun?“ tanya nakal si Lin Tian murid paling nakal. Selain paling miskin, ternyata dia adalah murid paling nakal.
Shark…
Su marah. Besar sekali. Tak tertahankan. Akan dia ledakkan dengan kekuatan tangannya yang ampuh. Pasti akan berhasil meluluh lantakkan pemuda nakal itu andai kena. Sebab kekuatan dahsyat itu bukan main-main kala menggunakannya. Dan itu hanya dipergunakan untuk orang yang juga sama-sama memiliki kemampuan tinggi akan ilmunya itu.
Show…
Hampir mengenai Lin Tian. Untuk berhasil menghindar. Ini hanya masalah intuisi saja. Dimana akan ada lontaran, maka mesti ada daya Tarik untuk mengelaknya. Dan kali ini berhasil.
Eh…
__ADS_1
Kena telinganya. Itulah serangan yang dilakukan berulangkali membuat berhasil. Walau tipis saja. Tapi itu sudah cukup membuat panas rasanya. Dan hanya Lin Tian yang tahan akan kekuatan tersebut.
“Chen Zillin adalah perempuan yang aku incar, pergi kamu!“ ujar Su Wumei yang mengerahkan ajian dahsyat melebihi ajian serat jiwa. Bahkan tangannya sampai keluar api. Api asmara yang dahulu pernah membara.
“Yang pertama, Chen Zillin adalah milikku,“ ujar Lin Tian. “Yang kedua, cahaya di tanganmu sama dengan kak Long kan?“
Lin Tian menebak. Sangat yakin dia akan hal ini. Karena sudah beberapa kesempatan selalu berhadapan dengan Long yang begitu digdaya ini. Dan tak dinyana dia adalah penculik yang dermawan tersebut.
“Siapa kamu, beraninya ingin tahu rahasia keluarga Su! “ ujar Su yang tak ingin rahasianya diketahui. “Guru Chen aku beri kamu kesempatan terakhir. Kalau kamu pergi dengannya aku tidak bisa menjamin keselamatan ayahmu!“
“Kamu… jadi kamu adalah salah satu penculik itu?“ Guru Chen ngeri. Ternyata yang selama ini jadi temannya, bahkan sesame mengajar di tempat yang sama, justru menjadi musuh dalam selimut. Jadi bagaimanapun orang itu sudah paham akan keberadaan serta kelemahan Guru Chen, dan itu membuat apa yang dia simpan ketahuan, serta ayahnya yang kini menjadi korban. Mesti di culik oleh segerombolan manusia yang tak bertanggungjawab, serta akhirnya terbongkar, kala orang itu mengakui sendiri kalau dia yang menjadi bagian dari gerombolan penculik ayahnya itu.
Wok…
Tak ada jawaban namun gerakan tubuh lawan benar benar menandakan kebenaran itu. Dia sudah tak ingin menutupinya lagi. Biar semua tahu. Terutama guru Chen yang sangat berkepentingan ini. Untuk berikutnya akan dia pergunakan rahasia itu untuk menekan Chen yang cantik itu supaya bersedia menuruti kemauannya tersebut.
“Tapi… bahkan polisi juga tidak bisa menemukan jejak mereka,“ kata Guru Chen Zillin yang bimbang. Tentu saja sangat khawatir dengan keberadaan orang tuanya yang begitu dia sayangi. Sampai di bela-belain mencari dana hanya demi sang ayah bisa di operasi, untuk kemudian penyembuhan yang akurat, sehingga memperingan penyakit tuanya tersebut. Makanya dengan kondisi ini dia kebingungan.
“Aku sudah menemukannya,“ ujar Lin Tian yang sekarang jadi detektif. Sepertinya dia teman Edgar Allan Poe, yang tahu begituan. Sehingga kabut misteri akan dia bongkar dengan hasil akhir yang tak terduga itu.
“Mana mungkin. Keluarga Su sudah menguasai semua atasan di seluruh instansi yang ada di kota,“ ujar Su semakin meradang. Tak menyangka si bocah sudah begitu paham akan misteri yang tengah dia sembunyikan itu. Jadi belum tentu benar kalau keberadaan sang ayah dari Chen sudah diketahui. Karena begitu tersembunyi dalam menaruh ayah si guru cantik tersebut.
Tangannya siap meluncurkan api di tangannya.
“Apa dengan mengusai atasan kamu sudah memiliki kekuatan? Banyak orang di tingkat bawah yang lebih hebat darimu,“ ujar Lin Tian.
“Kalian tidak tahu apa-apa tentang kekuatanku! Mati saja!“
__ADS_1
Su Wumei melontarkan kekuatannya. Lin Tian menghindar. Dia dan guru Chen Zillin. Ditariknya.
“Gawat!“ ujar Lin Tian mengetahui seberapa dahsyat kekuatan itu. Bahkan kotak besi pengangkat itu sampai menyala kena kekuatan mengerikan tersebut. Dan sekrupnya lepas. Membuat keduanya hampir jatuh.
Argh…
Guru Chen menjerit.
“Berhenti! “
Lin Tian melayang. Guru Chen keheranan. Penuh tanda tanya. Pokoknya serba keheranan dah kalau dengan si ganteng Lin Tian yang punya seribu akal itu.
“Ini…“ Su Wumei tercengang menyaksikan kehebatan Lin Tian. Benar-benar tiada tanding dia. Kehebatan melayang ini mungkin setara dengan Sun Go Kong atau setidaknya Gatotkaca yang bisa terbang tanpa sayap.
“Apa kamu pernah melihat orang yang sedang syuting. Kabel gantungan jauh lebih murah daripada mobil proyek bangunan. Sampai jumpa di atas,” ujar Lin Tian sembari di kerek naik.
Kerak!
Su Wumei marah. Dengan segera dia mendobrak pintu untuk mengejar buruannya itu.
“Huhu… Ayah…“
Guru Chen senang ayahnya sudah bersama mereka di atap. Sampai-sampai dia sesenggukan dengan lelehan air mata tiada tertahan. Maklumlah seorang wanita dengan perasaan yang lembut. Sangat lembut. Selembut temaram senja. Tak terkecuali dengan si cantik ini yang demikian jago kala mengeluarkan air matanya. Beda dengan Lin Tian yang buaya. Air matanya juga buaya.
“Lihat aku sudah menemukan ayah mertua duluan,“ kata Lin Tian sangat bangga dengan keberhasilannya itu. Kini orang tuanya sudah bersama mereka. Walau masih berada dalam kursi dorong dengan roda yang besar. Itu tak menyurutkan kegembiraan atas keberhasilannya itu.
Semakin marah Su.
__ADS_1