
FESTIVAL BUNGA.
Yang begitu indah, dan memikat hati. Dengan kebanyakan warna bunga dominan pink berpadu putih yang sangat cantic. Menghiasi suasana taman yang demikian mempesona. Waktu itu.
Nampak dengan anggun sesosok wanita dengan paying keunguan. Dan bergerak nyaman diantara bunga-bunga taman yang indah. Wanita itu mengenakan busana tradisional dengan warna lembut. Merah muda dan penghias rambut kepala keemasan diantara sanggul rambut di bagian memuncaknya dan uraian rambut lain di bawah sepanjang punggung itu.
Nampak terpana semua yang melihatnya. Tak terkecuali juru kamera yang lagi asyik mencari momen indah.
“Pemandangan yang indah harus diabadikan,“ ujarnya seraya memotret sosok anggun itu dengan sebaik-baiknya dan gambar yang demikian fokus pada inti gambar yang mesti terambil.
“Hei!“
Terdengar seruan si pemanggil.
“Eh…” gadis anggun itu menoleh. Nampak mukanya yang cemerlang seperti bentuk bajunya yang juga tengah cerah.
Prit!!!!
“Kamu! Iya kamu! Berhenti!“ ujarnya sembari meniup peluit keras-keras supaya yang tengah menjadi incaran ini menghentikan langkah.
“Apa yang kamu kenakan?“ tanya pemuda yang suka mengambil gambar dari suatu sudut tempat, serta menanyakan keanehan tersebut.
“Pakaian tradisional Han,“ jawab sang gadis.
__ADS_1
“Pakaian tradisional Han? Ini bisa disebut pakaian tradisional Han?” ujar si pemotret sembari memandang pakaian indah tersebut dan memegang sedikit bahan baju yang dikenakan itu. Lalu ujarnya dengan sedikit terkejut. “Aneh sekali, bahannya cukup bagus.“
“Merek apa? Workshop mana yang mendesain?“ tanyanya.
Si gadis hanya tersenyum dengan sedikit kebingungan. “Workshop? Workshop apa? Apa yang sedang kalian bicarakan?“
“Pakaian tradisional Han yang asli seperti yang kami gunakan ini, semuanya di produksi oleh workshop tertentu saja,“ jelas gadis berbaju tradisional han warna putih seraya memamerkan bajunya yang berkibar diantara rambut panjang yang terurai indah.
“Lihat ini kan?“ ujar si desain pria seraya menunjukkan kain dari bahan yang digunakan dengan sangat bangga. Bahwa apa yang mereka desain sangat sesuai dengan kriteria pembuatan pakaian tradisional Han. “Kalau tidak ada ini, namanya bukan baju tradisional han palsu. Tidak pantas disebut pakaian tradisional Han,“ ujarnya lagi seraya menunjukkan tulisan di salah satu bagian dari baju tersebut yang berisi tentang sebuah sertifikat original pakaian tradisional Han. Seperti kebiasaan kalau pakaian original bakal di beri sebuah tanda khusus yang membedakan dengan yang buatan konveksi rumahan, atau mereka yang suka menggandakan dalam suatu produksi tertentu, maka akan terus membuatnya dalam jumlah yang demikian banyak. Namun kalau yang membuat suatu produksi original maka akan di berikan suatu aturan khusus yang membuat mereka menjadi semacam ciri khas yang membedakan dengan produk tiruan. Itulah makanya sedikit ketat dalam aturan di tempat umum. Sehingga kalau ketahuan itu suatu tiruan akan di kenakan sanksi tertentu oleh si pemilik hak pembuatan yang original itu.
“Ini memang tidak ada,“ ujar Zhao yang merasa menggunakan pakaian itu akan tetapi tidak mengikuti aturan yang di berlakukan sesuai workshop yang sudah di ketahui oleh para produksi tertentu.
“Hahaha…. Mengenakan pakaian palsu, cepat lepaskan!“ ujar si pemilik pakaian original.
“Tidak bisa. Orang-orang itu juga tidak memiliki sertifikat,“ ujar si pakaian palsu.
Mereka saling tatap, sebelum tertuju pada satu sosok.
Lin Tian tengah berdiri di sana. Dalam balutan pakaian tradisional Han sembari mengenakan kacamata hitam kebanggaannya. Dia demikian gagah memegang suatu alat yang juga kuno. Pakaiannya kebiruan yang menjuntai panjang hingga sebatas mata kaki. Namun karena gombrong dan sangat lebar, membuat kakinya nyaris tak Nampak. Bisa jadi kalau lewat di jalan berdebu, maka baju yang panjang itu bakalan menyapunya hingga bersih.
Disisi lain, juga Nampak pakaian seseorang yang saling mengenakan baju tradisional tersebut. Dan kesemuanya Nampak anggun. Seperti berada dalam suatu kerajaan kuno yang demikian klasik dan penuh dengan aturan ketat.
Ada juga lelaki baju hitam dengan di sanding oleh putri cantic mengenakan baju kekuningan gading dan membawa kipas kertas nan cantic sembari menutup bibir supaya tak Nampak kala tertawa yang dianggap sebagai sebuah ejekan di jaman kuno begitu.
__ADS_1
Di lain lokasi ada polisi pakaian tradisional Han yang selalu bergerak untuk menjaga keamanan dengan kendaraan khusus yang sedikit membedakan dengan orang lain, dimana kendaraan itu Nampak terbuka dengan memperlihatkan petugasnya yang mengenakan baju tradisional sembari mengamati situasi.
“Polisi pakaian tradisional Han!“
“Bergerak.“
Keduanya, dalam kendaraan keamanan, terus meluncur untuk mengamankan situasi.
“Lagi-lagi kamu! Kamu yang mengeluarkan pakaian-pakaian ini untuk merusak acara ini kan?“ ujar si pemilik pakaian original tradisional Han.
“Hehe…“ Lin Tian hanya mengekeh. Sedikit merasa lucu dengan kata-kata orang tersebut yang seakan merasa diri paling benar.
“Ini adalah fotoku bersama dengan Zhong Yu, guru besar universitas negara. Beliau telah mengakui desain pakaian tradisional Han yang kami buat, dipastikan sama dengan zaman dulu,“ ujarnya sembari menunjukkan sebuah poto dengan bingkai manis, dan gambaran mereka yang sangat serasi pada suatu gambaran tentang keakraban.
“Sama kunonya seperti otakmu!“ ujar Lin Tian marah menyaksikan hal demikian.
“Hahaha, terima kasih pujiannya. Akhirnya kamu bisa mengerti!“ ujarnya merasa tersanjung dengan komentar orang yang menganggap bahwa apa yang tengah dia kerjakan merupakan barang yang sangat kuno termasuk pemikiran yang kuno, gagasan serta ide yang benar-benar sangat tradisional itu.
Lin Tian tersenyum kecut. Hinaannya tak mengena. “Aku sedang menghinamu.“
“Kamu! Beraninya kamu menghinaku!“ ujar otak kuno marah, setelah menyadari jika kata-kata yang demikian sesuai itu ternyata sebuah hinaan paling keji yang pernah dia dengar.
“Penjualan pakaian tradisional Han kami adalah nomor 1 di internet, semua netizen menyukainya, para produsen juga bahagia, kenapa kamu protes?“ ujar Lin Tian sembari menunjukkan data dalam layar HP kebanggaannya. Diperlihatkan juga segala keberhasilan yang dia pernah peroleh. Selain itu sebagai bagian dari proses menyebarluaskan apa yang sudah dia buat sebagai bagian dari promosi untuk bisa lebih banyak menyebarluaskan apa yang sudah berhasil di buat serta banyak di gemari para netizen itu. Dengan demikian, maka akan Nampak semakin besar juga apa yang sudah mereka publikasikan ke pihak lain demi semakin bersinarnya produk buatan mereka dalam mempopulerkan barang-barang produksi tradisional Han yang semakin lama, semakin hilang di telan kemajuan jaman saja, jika tidak dilakukan produksi serta pemberitaan dengan benar.
__ADS_1
“Huh!“
Semakin berang para pemilik pakaian tradisional dengan otak kuno mendengar akan hal tersebut. Dia dengan keempat rekannya semakin muak dengan cara berpikir orang yang selalu mengacau akan keberhasilan pembuatan pakaian yang sesuai dengan arahan sang guru yang begitu sukses di jamannya.