
Hari itu.
Di suatu gerbang megah. Seperti buatan romawi. Yang ada di negara perancis. Disitu berdiri dengan kokoh sebuah bangunan monument yang sangat megah.
Dan Chen dengan Lin Tian mencoba selfie dengan latar belakang Menara Eiffel yang menjulang.
Bertiga jalan-jalan santai. Sembari menikmati indahnya panorama kota paris yang megah. Serta jalanan lengang dan sangat lebar dengan pagar gedung-gedung menjulang di sisi kiri kanannya.
“Tak disangka, bisa jalan-jalan bersama ke negara Fa. Aku belum pernah ke Eropa sebelumnya,“ ujar Chen sembari terus selfie mencari spot yang menarik. Apalagi HP nya sangat canggih. Sehingga gambar yang dihasilkan juga begitu cerah.
“Direktur Lin, kita ke sini untuk membicarakan bisnis yang mana?“ tanya Ma keji. Dia masih kebingungan. Yang dia paham cuma banyakan foto daripada membicarakan bisnis.
“Tentu saja mempromosikan pakaian tradisional Han,“ ujar Lin Tian. Dia berusaha menguasai pasar meskipun di negara fashion begitu. Yang jelas pakaian tradisional sangat unik dan lain daripada yang lain di seluruh negara di penjuru dunia.
“Pakaian Han. Jangan-jangan ingin mengadakan pertunjukan di Paris Fashion Week. Memang bisa menjadi satu cara, tapi hasilnya mungkin akan biasa saja,“ ujar Ma Keji membayangkan betapa berharganya pakaian tersebut jika sampai ikut dalam kontes besar di negara fashion yang memang sudah sangat populer di seluruh negeri.
“Fashion week bukan diselenggarakan di minggu ini. Kita akan pergi ke pagelaran lain, menggunakan cara promosi lainnya,“ jelas Lin Tian. “Lihatlah di sanalah tempat tujuanku.“ Lin Tian menunjuk ke suatu tempat.
“Ini adalah….“ Ma Keji kebingungan begitu melihat apa yang di tunjuk Lin Tian.
KOMPETISI BERSEPEDA HUANFA.
Itu yang Nampak pada spanduk besar. Memang mengherankan. Orang biasanya datang ke Paris untuk melihat fashion taraf dunia. Atau melihat festival film. Juga ke louvre. Ini malah melihat sepeda. Jika sepeda sih mestinya ke negeri kincir angin. Disana banyak sepeda bagus.
Dalam kompetisi ini banyak orang yang sudah siap dengan sepedanya. Yang kebanyakan kembar dengan warna kuning. Meskipun pakaian mereka berbeda-beda. Ada yang ungu, ada yang coklat, dan ada lagi yang coklat mudaan. Namun sepedanya sangat keren, sepeda balap dengan setang melengkung dan roda yang kecil sehingga mampu di genjot kuat-kuat sampai kecepatan maksimumnya menyamai motor pelan. Sudah itu dengan peralatan keamanan yang ketat, membuat mereka aman selama pertandingan. Mereka mengenakan helm dan kacamata. Supaya mampu melindungi kepala jika terjadi benturan. Dan mata yang bebas debu, andai kebetulan melewati jalanan kotor.
“Direktur Lin, kompetisi bersepeda Huanfa memang merupakan acara akbar di dunia olahraga. Tapi sepertinya tidak ada hubungannya dengan perusahaan kita kan?“ ujar Ma Keji. Dia terus mengingat-ingat ada apa dengan sepeda dan fashion. Tak juga ketemu. Dia sampai menggaruk kepala gatalnya.
__ADS_1
“Kenapa aku meminta guru Chen datang?“ ujar Lin Tian. Lagian mengenakan baju seksi lagi.
“Guru Chen adalah penanggungjawab perusahaan drone kita, sehingga….“ jawan Ma Keji. “Aku mengerti. Siaran drone pada acara bersepeda Huanfa kali ini adalah sponsor dari kita. Hahaha….“
Membayangkan drone kuning yang terbang miring dengan enam baling-baling yang sangat kencang. Namun hasil kamera yang di peroleh sangat maksimal dan begitu membantu dalam berpromosi.
“Benar sekali. Lensa general dan lensa action semuanya telah kita sponsori,“ ujar Lin Tian sembari menunjukkan gambar di HP nya yang sangat jernih dengan hasil yang begitu canggih. Sehingga seakan tiap sudut terkecil dari pertandingan tersebut Nampak jelas dalam kamera itu.
“Huhu anak kecil ini, untuk pertama kalinya dalam hidupku, dia tidak salah paham padaku, tapi dia salah tebakan. Aku lega sekali,“ ujar Lin Tian sampai menangis tersedu.
“Tapi. Kenapa mereka bersedia menggunakan drone kita? Memang teknologi kita bagus, tapi tidak memiliki koneksi. Tidak mungkin pertandingan dengan skala sebesar ini menggunakan barang kita,“ kata Ma Keji.
‘Hahaha, tentu saja karena murah, kita sama sekali tidak mendapatkan untung di sini.’ Senyum Lin Tian.
“Kemudian gunakan drone untuk mengambil gambar audiens yang sudah di atur untuk mengenakan pakaian tradisional Han sehingga mencapai efek iklan, ajaib sekali.“
“Tebakanmu salah,“ ujar Lin Tian. “Aku sudah pernah bilang pemasaran pakaian tradisional pak man akan membuat semua orang terheran-heran. Kalau tidak percaya, lihatlah!“ Lin Tian menunjuk kea rah itu.
3
2
1
Pistol suar merah siap mengacung ke angkasa.
Para pesepeda sudah gemetar ingin segera menginjak pedal nya.
__ADS_1
Mulai!
Sepeda-sepeda itu segera di genjot kuat-kuat guna merebut titik start.
Dan berikutnya Nampak sepeda balap itu saling balapan menyusuri jalanan kota Paris yang sangat indah dan penuh fashion itu. Tampak sepeda yang seakan seragam dengan bentukan roda kecil, tang melengkung, serta rangka warna kuning. Hanya seragam peserta saja yang berlainan. Namun sama-sama mengenakan celana pendek yang nyaman.
“Semua sudah berangkat. Ayo cepat, kita bergegas ke lokasi pemotretan berikutnya,“ ujar tukang potret wanita yang sangat antusias.
“Atau pergi ke villa milik pamanku di desa. Di sana juga ada salah satu cabang pertandingan,“ ujar yang lain.
“Eh, coba lihat. Apa itu!“ tunjuk si kaos hijau.
Nampak di kejauhan.
Sebuah bentukan yang sangat aneh. Dimana pesepeda kali ini mengenakan baju tradisional.
Sudah itu tua-tua dan sangat lansia. Dengan sepeda biasa. Tanpa berko. Dan warna merah. Orang tua itu terus menggenjot sepedanya dengan semangat berapi-api.
Hal ini membuat ternganga para pemotret yang melihatnya. Mereka tak menyangka dengan baju gombrong begitu bisa bersepeda dengan cepat. Tanpa merasa gerah dan cepat haus.
“Ini. Darimana para lansia yang penuh semangat ini, pakaian mereka sangat unik. Menarik sekali,“ ujar para jurnalis itu. Mereka tak mengira jika para lansia ini hanyalah non peserta. Padahal sangat menarik dan begitu cepat. Sehingga kalaupun jadi peserta, bakalan bisa meraih kemenangan.
“Berita bagus. Menarik sekali. Cepat, ayo kita mengambil gambar.“ Yang lain langsung antusias. Mereka berusaha mengambil gambar dari sisi yang sangat menarik. Sehingga nanti bakalan banyak viewer yang like berita tersebut.
“Direktur Lin. Para lansia ini mengenakan pakaian tradisional Han, sebagai pengendara non peserta. Apa kamu mengaturnya?“ Mestinya menjadi peserta. Jadi kalau menang dapat tambahan hadiah bonus. Bahkan bisa mengharumkan nama bangsa dan negara.
“Setiap kalinya bisa menghasilkan banyak berita dan perbincangan drone, kita juga mengambil banyak gambar.“ Dengan dron kuning tentunya. Mengambil gambar raja lansia berapi-api.
__ADS_1
“Bersamaan dengan itu, para lansia ini sejak awal sudah gemar bersepeda di dalam negeri. Awalnya ingin berpartisipasi dalam pertandingan raja lansia berapi-api. Namun aku mengutusnya kemari. Operasi seperti ini, akulah ahlinya,“ ujar Lin Tian.