
“Lin Tian,“ ujar bu guru Chen. Dia masih mengkhawatirkan murid nya yang pemberani itu. Namun bagaimana lagi. Urusan kali ini melibatkan banyak pihak. Tentang dia, ayahnya yang mesti dioperasi dan membutuhkan banyak dana. Juga bagaimana nanti tentang kariernya. Dan yang jelas, mereka tentu tak akan terima jika melihat ada yang main-main begitu. Apalagi kali ini si muda Lin Tian dianggap masih seorang bocah ingusan. Tentu banyak yang akan melawan nanti.
“Wanita mu memangnya kenapa? Dia memiliki kontrak dengan perusahaan kita. Siapa suruh dia waktu itu tidak membaca dengan jelas,“ ujar mereka terus saja omong mengungkapkan apa-apa saja yang sudah menjadi kesepakatan diantara mereka. Walau kontrak itu sepenuhnya tak terlampau benar. Ada bagian yang terlewat dari kesepakatan itu. Dan tentu saja sangat merugikan guru Chen. Dimana mesti mempertaruhkan sesuatu demi kontrak yang kacau ini. “Kamu harus tahu penalti pembatalan kontrak adalah….“
Plak!
Belum usai bicara, orang itu sudah ditampar oleh tangan sakti Lin Tian. Tidak sungkan rupanya dia menurunkan tangan pada orang-orang kasar itu. Sekarang sakit, nanti juga sakit. Begitu pikirnya. Makanya lebih dulu dia memukul orang yang sudah berbuat aneh pada gurunya yang cantik dan menjadi idola banyak orang itu.
“Kalau tidak bisa bicara jangan bicara!“ ujar Lin Tian bicara sembari mengajari mereka bicara.
Berdiri. Sakit. Si yang ditampar. Begitu keras tenaga si Lin Tian. Bahkan membuat giginya rontok. Ini sungguh keterlaluan. Terutama untuk orang setua dia. Bagaimana mau mengganti gigi, kalau dibuat rontok semua. Sekarang padahal mengganti gigi sangat mahal. Bisa menguras kantong. Apa mesti di ganti gigi jagung atau gigi halilintar? Tentu sulit. Benar-benar perbuatan yang demikian tercela. Mesti mendapat balasan orang yang main hajar begitu. Masa tidak tahu menahu langsung main tempeleng saja. Tidak tahu apa mereka berurusan dengan siapa.
“Bunuh dia!“
Sembari mengacungkan pisau. Mendendam dia. Bocah demikian mesti di kasih pelajaran. Tidak hanya yang ada dalam sekolah, namun mesti ada materi tambahan supaya tak main-main lagi dengan siapa mereka berurusan.
Sat....
Mengamuk. Si kalung rantai. Dan seorang temannya yang tadi kena tempeleng itu. Mereka bersiap dengan menghunus senjatanya. Mereka tidak main-main. Apalagi untuk seorang bocah kurang ajar yang pantasnya di tusuk pakai begituan.
“Sekeras apapun pukulan mu, apa bisa lebih keras dari pisau?“ ujar Gundul setengah mengancam. Pisau itu tentu bukan main-main. Kalau kena, maka akan luka. Bahkan jika menusuk alat yang vital, tentu akan bisa binasa. Lalu mayatnya diletakkan begitu saja biar dimakan codet. Atau dibuang ke sungai biar dimakan cacing.
“Sepertinya kalian yang belum jelas dengan keadaan ini,“ ujar Lin Tian masih berusaha santai. Pukulan tadi hanyalah sekedar sebuah pemanasan. Akan ada bagian berikutnya yang tentu sangat sulit dilupakan. “Kalian tidak lihat yang di belakang kalian itu orang siapa?“
__ADS_1
Pada menoleh ke arah yang di maksud Lin Tian. Gawat. Ada penyergapan. Itu yang dikhawatirkan mereka. Sebab tak sekali dua kali hal ini terjadi. Tiba-tiba saja banyak pasukan yang dating untuk melindungi mereka. Lalu ain tangkap. Untuk selanjutnya menyeret mereka ke bui.
Kosong. Ternyata. Tak ada siapa-siapa. Di belakang mereka, bahkan di sekitar situ taka da orang. Mereka hanya di tipu saja sama pemuda itu.
“Kamu mempermainkan kami!“
Lin Tian lari sembari membopong bu guru Chen. Dia berusaha menjauhi kawanan itu. Dan menyelamatkan gurunya dari jeratan peraturan aneh itu. Dia lari dan terus lari. Kemudian, masuk ke dalam bus.
“Naik, tangkap mereka!“
Para pemburu turut mengejar dan masuk ke bus. Tak ingin kehilangan mereka. Apalagi musuh jelas takut. Ini terbukti dengan lari. Lari berarti takut. Makanya meti dikejar, lalu didapatkan. Si wanita mesti dibawa ke bos mereka, dan anak muda itu harus enyah dari muka bumi ini.
Lin Tian santai saja, sembari memangku bu Chen. Hal itu tentu menambah panasnya suasana. Sudah panas-panas begitu, malah dibuat demikian, tentu mengobarkan api dendam semakin menyala di dada para preman itu.
“Kalian mempermainkan ku sekali dan masih ingin mempermainkan kedua kalinya? Apa bus ini milik keluargamu!“ umpat musuh yang tak tahu siapa pemilik bus mewah ini sebenarnya. Dan menganggap kalau Lin Tian hanya sekedar masuk ke dalam nya hanya untuk menghindari tusukan menyayat dari pisau yang demikian tajam itu.
Duk!
Xiauli datang dan menumbuk penjahat dengan dengkul kuat nya. Langsung terjengkang.
Tendangannya menyambar ************ musuh. Rasanya demikian sakit. Dua tiga hari tentu tak akan lupa. Antara nek nek dan njarem gimana gitu. Tak terlupa pokoknya.
Keduanya terkapar. Berbarengan. Dan berikutnya dilempar keluar dari bus kebanggaan Tuan Muda Lin Tian.
__ADS_1
Xiauli mengibaskan tangan. Sungguh luar biasa musuh kali ini. Tapi semua mudah saja. Bisa diatasi dengan tak begitu banyak mengeluarkan tenaga. Mungkin memang langkah ke depan lebih berat. Tapi setidaknya kali ini mereka bukan tandingannya.
“Bus ini adalah milikku!“
Lin Tian marah kemudian jalan.
“Lin Tian!“
“Bu guru Chen.“
“Guru Chen apa yang terjadi? “
“Bisa tidak kamu turunkan aku dulu baru pura-pura normal lagi? “
“Hehe... aku lupa. Masih dipangku.“
“Sudah dicoba berkali-kali dan ternyata benar Lin Tian lebih baik kau membiarkanku turun“
“Aku tidak bisa membayar penalti pembatalan kontrak. Aku akan meminta maaf baik-baik kepada mereka. Aku tidak akan menyusahkan mu,“ ujar Chen yang sangat khawatir akan nasib Lin Tian. Sebab dia tahu kali ini akan berhadapan dengan siapa. Memang Lin Tian bukan anak yang lemah. Itu sudah ditunjukkan kala bersama para penjahat dahulu. Dengan gampangnya mereka ditaklukkan. Tapi kali ini berbeda. Musuhnya adalah bos yang berduit. Dia punya segalanya. Selain perusahaan tempat dia bernaung di bawah lebel namanya itu, juga mempunyai banyak orang yang demikian setia untuk melindunginya termasuk melindungi aturan yang sudah dia terapkan. Serta melakukan hal keras bagi para pembangkang serta orang-orang yang berani melanggar aturan kontrak yang sudah disepakati di awal melakukan pekerjaan itu. Kontrak. Inilah sebuah alat yang dipakai buat mempersalahkan si pekerja. Semestinya sebuah kontrak itu untuk melindungi para pekerja yang sudah mengeluarkan tenaga dan pikiran demi suksesnya pekerjaan itu. Tapi bag pemilik usaha ini, penandatanganan kontrak dianggap sebuah senjata yang menjerat para pencari rejeki. Itu yang kemudian membuat orang-orang yang butuh akan semakin tertekan. Sehingga pundi-pundi uang akan terus mengucur dalam kantong sang bos.
“Tenang saja kamu sekarang sudah menjadi orang ku,“ kata Lin Tian.
MISI : DALAM SATU MINGGU MENGUMPULKAN TIGA HOST TERBAIK DARI SELURUH WEBSITE.
__ADS_1