
“Jangan lari. Jangan lari!“ kata Cao Biluo.
“Lihat aku merebutnya.“
“Anda telah mati!“
Cao tercengang. Demikian mudahnya game ini mati. Apa terlalu sulit, atau dia yang kurang cekatan memainkan mouse. Yang jelas memang mati kali ini sangat mengecewakan. Mana dia mesti berbuat yang terbaik buat Lin Tian agar di percaya untuk memantapkan kinerja team yang sangat bagus.
Mengirim nyawa kilat.
“Tuan putri jangan menangis aku akan membawamu terbang.“
“Kenapa game ini terus hitam putih.“
“Hehe… dengan kemampuan Cao Biluo, aneh kalau tidak bergabung dengan tim TTL. Bagaimana dengan kalian? Bagaimana dengan permainan kalian?“ ujar lin Tian sangat suka pada permainan seperti itu. Bisa main tapi tak menang, itu sudah cukup untuk membuat rugi. Yang penting rasa percaya diri nya gede. Sebab kalau tidak, maka bakalan drop dan enggan main kembali. Itu bahaya. Tak ada yang memberi pemasukan akhirnya. Dan berikutnya membuat sistem tak suka. Lalu meninggalkan si Lin tian ini tanpa memberi apapun. Kalau begini kan asik, rugi sedikit, tapi bisa banyak memberi peluang untuk bagi hasil sama sistem.
“Kita se level dengan Cao Biluo,“ dua teman Cao sangat bangga dengan rekannya tersebut. Setidaknya level yang sama. Sehingga bisa senasib sepenanggungan akan permainan yang demikian. Meskipun Cao kalah, namun tetap pede. Dan itu dia merasa yakin akan sanggup mengimbangi temannya itu.
“Kontrak tim TTL. Aku mau mengontrak kalian bertiga,“ ujar Lin Tian yang merasa cocok dengan orang-orang aneh tersebut. Walaupun kalah, tapi masih bisa tetap bersemangat. Sehingga untuk langkah berikutnya bakalan bisa melanjutkan permainan untuk terus main dan pada akhirnya hasil terbaik lah yang akan diperoleh.
#
__ADS_1
“Wah…“
Semua masuk.
Ada si panda, sang pemimpin Tim.
Cao Biluo dengan Dua temannya yang sangat jago dalam game, walau pernah kalah, namun mereka bertiga satu level.
Dan si tinggi yang dulu jago basket namun sekarang lemah karena cedera. Dan berganti provisi menjadi gamers. Serta kondisi tulang yang sudah di reposisi, serta di urut bagian luka nya.
“Penonton sudah datang, kalian juga bersiap-siap lah. Pertandingan kualifikasi ini ditayangkan online. Tidak perlu berlatih langsung saja,“ ujar Lin Tian memberi pengarahan dan rasa tanggung jawab yang besar pada Team nya supaya bermain dengan asik. Dan itu tidak masalah kalau mesti kalah. Kalah menang sudah biasa dalam pertandingan. Kalau kalah akan dapat poin banyak dari sistem, tapi kalau menang tidak. Maka semua dianggap wajar saja. Jalani semua dengan santai. Apalagi melihat kualitas team yang demikian unik, maka akan menjadi harapan baru untuk mendapatkan uang kembalian sistem.
“Eh ternyata ini kursi yang bisa diatur tinggi nya,“ ujar Xiongma Jun keheranan ada kursi bisa demikian. Di kantor-kantor memang ada, di ruang pertemuan ada juga. Namun dalam warnet tentu akan kesulitan jika ingin mencari yang empuk begitu.
“Kita akan lihat dari nilai.“ Nilai yang mana. Jelas itu bakalan keteteran. Soalnya team lawan juga sangat solid. Apalagi ini suatu pertandingan kelas tinggi. Lalu darimana akan mendapat nilai. Yang jelas mesti dibuat enjoy. Seperti naik sepeda saja. Sampai finis sukur, kalau tidak ya nggak masalah. Yang penting dapat keringat saja.
“Semuanya serang!”
Kali ini semuanya konsentrasi memandang layar monitor.
Xiong Ma Jun dengan kacamata dan kaos oranye nya fokus dalam memainkan mouse yang mesti canggih. Agar lawan bisa di kalah kan. Dan jangan meleng. Lengah sedikit saja, poin bisa di rebut musuh. Ini yang mengkhawatirkan. Tapi berbekal pengalaman selama ini yang dengan rela menghabiskan uang sekolah hanya untuk kesenangan game ini, tentu semua bisa di lakukan dengan cermat dan teliti. Untuk kemudian bisa mengatasi musuh dengan yakin.
__ADS_1
Si tinggi juga penuh konsentrasi, walau rambut sampai luruh menutupi mata sebelah, tapi tangan terus main dengan canggih dalam menggerakkan sosok permainan serta berbagai senjata yang dimiliki agar musuh langsung terkalahkan.
Demikian juga dengan trio cantic yang level nya setara itu, dia juga asik menatap layar monitor tanpa bergerak, akibat musuh demikian canggih, dan nilai mereka yang terus merosot.
Defeat!
“Lebih dari bayanganku. Baru 10 menit. Kalah dalam sepuluh menit,” kata Lin Tian dengan sosok yang sedikit ganas.
Membuat seluruh team hanya tertunduk lesu. Tak bisa di bayangkan betapa marah si bos ini. Sudah habis dana banyak, tapi baru sebentar sudah defeat. “Bagus juga pertunjukan kalian. Bagaimana kesan kalian,“ kata Lin Tian.
“Ronde pertama kita biarkan mereka menang, selanjutnya kita harus menang.”
“Kita juga harus mulai serius,“ kata para cewek yang merasa tadi masih pemanasan dan belum melakukan kemampuan sesungguhnya.
“Bukan salahku. Salah komputer ini. Sepertinya masih belum benar pengaturannya aku akan beradaptasi dulu,“ ujar Xiong Ma Jun sembari menabok monitor, biasa kalau TV atau radio rusak main gaplok begitu dan langsung hidup. Ini juga demikian, monitor yang payah akan di tendang tendang seperti di warnet supaya sedikit error sehingga permainannya kacau serta untuk sekali pukul, maka di tangan pemain itu akan terus memukul yang membuat musuh keok.
“Benar benar karyawan yang baik. Upgrade, harus upgrade. Setelah pertandingan ini aku akan memberikan level army untukmu. Pokoknya. Pertahankan keadaan sekarang, jangan panik, jadi diri sendiri,“ kata Lin Tian menyemangati. Dia yakin dengan kekalahan ini pasti bakalan rugi dan diganti oleh sistem berlipat ganda. Benar-benar Panda penolong. “Sudah membaik. Semuanya akan membaik,“ ujar Lin Tian sangat senang. Dia sampai menyeruput minumannya dengan demikian menikmati. Permainan yang sesuai dengan rencana.
“Sampai kalah begini pun bos masih terus menyemangati ku. Atas dasar apa aku tidak giat? Memang kenapa kalau komputer ini kurang bagus aku akan lebih giat lagi, pasti bisa,“ kata Xiauma Jun yang merasa jika kali ini mesti sangat aktif dan lebih fokus dalam menatap layar sehingga taka da kesempatan lawan untuk kembali mengalahkan mereka.
“Sudah lama tidak bermain dengan serius, situasi pertandingan ini tidak bagus, tapi ronde kedua tidak akan begini lagi,“ ujar Cao Biluo yang juga tertantang untuk bisa lebih bagus dari sebelumnya.
__ADS_1
“Benar kita bertiga tidak terkalahkan.“
“Membaik. Aku akan rugi besar,“ ujar Lin Tian tak ingin rugi.