Menjadi Orang Terkaya Mulai Hari Ini

Menjadi Orang Terkaya Mulai Hari Ini
Episode 73


__ADS_3

“Tidak bisa, tidak bisa… tidak bisa begini terus!“ Lin Tian sedikit uring-uringan. Ada masalah dengan sistem yang tengah dia analisa.


“Lin Tian kenapa lagi kamu?“ tanya Chao Biluo. Dia keheranan dengan bos muda itu. Yang seakan taka da ceria-cerianya.


“Aku harus mencari perkelahian,“ ujar Lin Tian sembari mondar mandir. Dia kebingungan. Kebanyakan orang akan mencari perdamaian agar aman dan tenteram. Ini malah mencari perkara. Tentu bakalan sulit nanti. Walau badan rasanya pegal-pegal kalau tidak berantem, tapi sayang kan, jika hanya untuk masalah begituan. Mending tenaganya dipakai buat bekerja. Mencangkul di sawah. Lari pagi. Senam aerobik bersama cewek kece. Kan akan semakin asik.


“Perkelahian? Kenapa tiba-tiba ingin berkelahi?“ tanya Chao yang semakin tak paham. Apalagi dia yang cewek lemah lembut. Tentu akan lebih memilik makan enak saja daripada mesti memperhatikan perkara cowok yang penuh dengan kejantanan yang sangat satria itu.


“Karena aku ingin menggunakan pukulan kebaikan untuk mengalahkan orang jahat,“ kata Lin Tian seakan tengah menjadi tokoh protagonis saja yang menganggap dia seorang pahlawan bertopeng atau superhero lain yang selalu sakti dengan membantu sesamanya agar musuh-musuh terkapar semua. Lalu di dipuji orang dengan sama sekali tak meminta amplop atau apapun imbalan yang berupa materi. “Salahku karena mengambil tugas master seni bela diri, sekarang sudah hari ketiga. Aku harus mencari seorang musuh kemudian menggunakan jurus mematikan ku.“


#


Sementara itu di rumah sakit,


“Lin Tian tunggu aku keluar dari rumah sakit. Pasti…“ ujar Xiaolong yang tengah menderita dan bisanya hanya berbaring saja. Namun batin nya terus mendendam. Sehingga suatu saat kalau bertemu anak itu akan di becek-becek mukanya. Kalau perlu sekarang. Sebagai pelampiasan kekesalannya akan kekalahan yang demikian tragis situ.


“Xiaolong mau berkelahi tidak?“ ujar Lin Tian yang tahu-tahu sudah berada di luar jendela.


“Lin Tian… dasar gila!“ Xiao Long melempar ke arah Lin Tian dan mengenai kaca. Kalau tidak, sudah ikut masuk ke sebelah dia nanti. Dasar anak mencari perkara. Datang ke tempat begituan. Dimana tengah berkobar api dengki yang membara. Kalau saja di tak dalam kondisi demikian, sudah akan dilayani tantangan anak muda kurang kerjaan itu. Tapi saying dia hanya bisa terbaring dan tentu saja Lin Tian pergi dengan segala kekecewaannya.


#


Di suatu tempat yang mengerikan.


“Yang disukai Han Meimei adalah aku!“ seorang tengah beradu argument tentang suatu hal yang penting untuk masa depannya.

__ADS_1


“Jelas-jelas dia bilang kalau aku mirip kakak nya.“


“Hei kalian jangan adu mulut saja bagaimana kalau berkelahi,“ ujar Lin Tian yang ada di bawahnya.


“Apa hubungannya denganmu?“


“Kalau kalian marah, bagaimana kalau berkelahi saja denganku.“


“Hei jangan lari aku akan mengalah.“


Orang-orang itu ternyata pengecut. Tak berani menghadapi Lin Tian yang tengah kebingungan mendapat tugas aneh dari sistem bagaimana rasanya di tonjok orang. Makanya lebih baik pada kabur, daripada berantem dengan orang yang akan mendapat poin, sementara mereka akan kehilangan pacar dan berikutnya akan bonyok di sekujur tubuh.


#


#


Lin Tian berlalu, kemudian mendatangi kerumunan anak-anak nakal.


“Anak - anak yang memukulku akan ku beri permen.“


Lin Tian datang pada paud terdekat. Barangkali saja ada anak paling nakal yang suka berantem dan berikutnya bersedia melawan dia dalam adu sparing di atas ring yang sebelumnya dia akan mengalah. Barulah kemudian akan memberi sekali pukul supaya terpuaskan. Namun anak-anak itu pada tidak mau menuruti kehendak pemuda kebingungan yang belum juga ada tandingannya. Bagi anak-anak, tentu merasa berdosa kalau berani melawan orang tua. Sehingga nanti bakalan masuk neraka. Atau paling tidak sesampainya di rumah bakalan di tabok emaknya karena masalah sepele itu.


#


“Aih, jadi inilah rasa kesepian seorang master,“ ujar Lin Tian mengeluh.

__ADS_1


“Lin Tian!“


Ada yang datang. Tampangnya mengerikan. Dan sangat tepat kalau selalu main tangan sama orang yang tak disukainya.


“Eh siapa kamu?“ tanya Lin Tian disaat dia tengah kebingungan mencari lawan tanding.


“Kamu tidak mungkin melupakanku kan?“ tanya orang itu.


“Aneh aku merasa pernah melihatnya,“ ujar Lin Tian berusaha mengingat-ingat apa yang sudah dilakukan pemuda itu sampai dia benar-benar tak ingat lagi.


“Kakakku… Ditangkap karena mu,“ jelas orang itu. Kakaknya ternyata perampok. Maka tak heran jika adiknya juga demikian. Sebab ada kalanya satu keluarga itu kacau semua. Dan itu sangat sering terjadi. Karena dalam satu keluarga ada satu rasa kompak nya juga. Maka tak heran, kalau ada satu perampok yang dikenali, maka tak jarang jika keluarga nya juga di sorot. Jangan-jangan nanti akan ada bibit nya. Jangan-jangan ada yang lain yang lebih kacau. Itulah makanya ada keluarga yang di cap jelek sama orang lain. Hanya karena nasib apes dari seorang pencuri sakti yang kedapatan tengah melakukan aksi di suatu daerah tertentu.


“Ternyata begitu….“ baru Lin Tian sangat paham pada anak ini. “Jadi siapa sebenarnya kamu?“


“Kakak kandungku adalah perampok bank. Aku menonton berita, kamulah yang membuatnya masuk penjara,“ jelas orang itu yang ternyata mempunyai kakak yang juga sangat mengerikan. Namun akhirnya bisa dengan sukses ditaklukkan oleh pemuda hebat sang master ini yang belum ada tandingannya.


“Oh… kakakmu selalu memakai penutup wajah, aku juga tidak tahu wajahnya,“ Lin Tian mulai paham. Makanya ada sedikit rasa ketakutan dia. Kalau-kalau si adik akan balas dendam. Sebab bagaimanapun mempunyai kakak yang sangat di kasihi, sampai masuk ke bui, tentu bukan sebuah berita menyenangkan baginya., makanya sebisa mungkin akan balas dendam dan menuntut pada si pemuda yang tega nian membuat kakak nya sengsara seperti itu.


“Jangan banyak bicara. Mati kamu.“ Adik lalu mengokang pistol. “Hahaha… ini akibatnya kalau banyak macam.“


“Bagus sekali.“


Adik dari kakaknya Cuma bisa melongo menyaksikan keanehan itu.


“Kebetulan aku mencari orang untuk berkelahi. Sepertinya kamu sukarela mendaftar ya?“ ujar Lin Tian sembari memegang peluru yang baru dilepaskan dari pistol. Nampaknya Lin Tian ini benar-benar tak tahu diri. Selalu mencari keributan. Seperti orang tengah mengejar Dan enam saja agar naik sabuk lagi. Beda dengan lawannya yang kali ini kebingungan dan mencoba menjadi tenang. Agar taka da masalah dengan orang yang tengah lagi gatal berantem.

__ADS_1


__ADS_2