Menjadi Orang Terkaya Mulai Hari Ini

Menjadi Orang Terkaya Mulai Hari Ini
Episode 107


__ADS_3

Lin Tian senang. Bu Guru Chen Zillin senang. Keduanya senang. Sambil photo mereka senyum. Menjadi buku nikah. Yang merah, yang biru. Dengan dua poto tertempel erat.


“Apa perlu sampai ke tahap seperti ini?“ tanya Bu Chen. Tahap yang rumit. Karena dia tahu anak muda itu tentu masih perlu banyak berpikir. Dan sekian lama keinginan itu akan semakin bisa sedikit di bendung untuk benar-benar yakin akan pilihannya dan bukan hanya soal kesenangan saja. Karena ini tidak main-main. Bisa jadi untuk selamanya.


“Meskipun ini bukan perkembangan yang aku rencanakan. Tapi aku tulus terhadap guru. Terimalah permohonan ku,“ kata Lin Tian. Bagai film India yang sangat romantis dengan diiringi pakai jongkok segala kemudian main lagu-laguan dan penuh hayalan bunga-bunga bermekaran. Agar nuansa romantis itu begitu mengena.


“Kalau begitu. Aku percaya padamu. Tapi jangan menipuku ya. Ini hanya pernikahan palsu. Setelah menikah kita harus segera bercerai,“ ujar Guru Chen yang enggan menikah dengan murid nya.


“Baiklah, lagi pula kelak masih harus menikahi mu lagi,“ ujar Lin Tian. Yang menganggap pernikahan seperti permainan saja. Padahal apa yang dipersatukan Tuhan tak bisa diceraikan manusia. Namun kali ini dia merasa bukan itu yang mempersatukan mereka. Namun nafsu sesaat. Sesaat saat sudah mendapat uang bakalan dia lepas lagi untuk menjadi perempuan bebas.


“Kali ini aku akan mengalihkan perusahaan asset suami istri padamu. Setelah bercerai aku akan memberikan uang ganti rugi untukmu. Kemudian segera melakukan perhitungan. Aku akan menjadi miliarder. Ayo guru. Oh bukan istriku. Aku tidak sabar lagi,“ ujar Lin Tian dengan penuh perhitungan untuk segera memperoleh untung yang sangat besar dari sisa hasil usaha memperdaya sistem, supaya bersedia memberi uang ganti rugi.


“Tidak, tidak sabar apa, bukankah ini hanya pernikahan palsu. Aku… aku belum siap,“ ujar Guru Chen yang masih sangat polos apalagi ika dibandingkan dengan calon nya yang sudah sangat berpengalaman itu, makanya apa-apa serba ketakutan.


“Eh, makan juga memerlukan persiapan?“


“Ah makan?“ keliru pikir rupanya. Soalnya dari awal yang di ucapkan hanya nikah, nikah dan nikah. Itu yang membuat kali ini rasa nya juga tentang hal itu. Walau ternyata keinginan keduanya berbeda.


“Kalau tidak…“


“Tidak apa, ayo cepat.“

__ADS_1


#


Di hotel Jiang Hao.


Plak.


Suara segepok uang yang di lempar ke meja. Tentu demikian nyaring. Sebab uang yang demikian sangat menggiurkan, apalagi saat tampak berserakan di meja.


“Kali ini aku menggunakan dana pribadi. Sediakan semua menu,” kata Lin Tian yang dana pribadinya demikian banyak sehingga dengan sangat bangga dia akan mengajak istri nya itu ke rumah makan hebat sebelum akhirnya ke kantor untuk melanjutkan cerai. Demikianlah, yang dipikirkan anak muda itu hanya satu, biar cerai asal kenyang. Hidup cerai.


“500 yuan… mungkin hanya cukup untuk membeli sepiring nasi goreng dan semangkuk sup saja,“ kata mbak pelayan memberi tahu apa saja yang bisa di dapat dengan uang yang segepok itu. Maklum saja rumah makan hotel yang sangat istimewa. Tentu saja harganya di sesuaikan dengan lingkungannya. Walaupun sama saja dengan di emperan toko atau di kaki lima menu nya, akan tetapi, kondisi dan tempat yang berbeda membuat suasana tentu saja lain. Harga juga menyesuaikan dengan lokasi. Sehingga barang yang sama akan berbeda harga nya. Dan itu sudah umum. Sehingga orang yang makan juga bakalan tahu mana yang nikmat dan yang tidak. Dengan lingkungan yang mewah begitu, merasakan makanan yang sama tentunya bakalan lebih nikmat.


“Tidak jadi kalau begitu, ayo pergi,“ kata Lin Tian yang merasa rugi nya kurang banyak.


“Benar bukan karena miskin“


“Benar. Kakak mana mungkin kekurangan uang.“


“Walaupun kamu datang untuk makan gratis, tapi…“


“Cepat kemari makan. “

__ADS_1


Keduanya sepakat.


#


Keesokan harinya di Kantor Urusan Agama.


“Hari ini akhirnya akan lahir aku yang baru. Aku yang benar-benar kaya,“ kata Lin Tian yang sangat senang dengan statusnya yang habis kawin langsung jadi duda. Mana ada yang demikian. Demi menghamburkan uang dan supaya rugi banyak, lalu akan di kasih kembalian oleh sistem dengan perhitungan yang sangat menguntungkan.


Cerai…


“Aku datang untuk bercerai,“ ujar Lin Tian dengan muka yang lagi-lagi sumringah. Harapan dan rencananya mesti berjalan lancer. Agar semua asset suami istri bisa di dapatkan, dan uang sistem akan di peroleh saat itu juga.


“Pulanglah.“


Petugas memberikan buku nikah itu. Tak mau menerima dia. Di situ juga banyak buku yang seperti itu. Tinggal kopi beres. Buat apa. Akan lebih nikmat jika sesuatu yang indah itu dibicarakan dengan kepala dingin. Dan waktu yang bisa mendinginkan hal tersebut. Waktu juga yang sanggup berpikir. Untuk lanjut atau usai. Karena hal demikian menjadi sebuah kebanggaan tersendiri buat si pemegang buku, jika bisa menjangkau usia panjang sampai kakek nenek. Serta bisa diceritakan buat anak cucu akan kelanggengan cinta mereka yang tak lekang oleh usia. Sehingga membuat generasi berikut akan menghargai kesetiaan keduanya bahwa pernah terjadi badai, namun tetap bertahan dan mampu mengatasinya hingga se renta itu.


“Ah…“


“Bulan ini telah diberlakukan masa tenang sebelum bercerai, pulang dan tenangkan diri kalian dulu selama 3 bulan,“ ujar Mbak petugas dengan santai nya. Maklum, mana boleh demikian, apa yang sudah dipersatukan tidak untuk main-main. Sesukanya saja main cerai. Itu akan melanggar banyak aturan. Dan nanti malahan akan di contoh oleh orang lain, terutama yang hanya ingin merubah status saja. Dari kawin, tidak kawin, lalu duda. Apa-apaan. Tidak boleh, mesti ada pembicaraan yang lumayan ketat kalau itu suatu perkawinan yang mengasikkan. Bagaimana mau kawin kalau sebelumnya sudah dibicarakan dulu. Pacaran terkadang bisa sedikit mengurai hal itu. Sudah saling mengenal, serta bisa mengetahui kekurangan dan kelebihan partner keluarga itu. Serta tidak begitu saja menyelesaikan permasalahan dengan mesti berpisah. Tapi ada kalanya masa itu merupakan masa senang-senang nya bagi si pemuda, hingga sampai terlanjur terjerumus dalam situasi tak normal. Makanya kebanyakan langsung melakukan hal yang sudah di ijinkan itu. Sehingga membuat semuanya lega. Dan hal yang demikian sudah berlangsung lama serta sebagian besar tentu saja mengalami hal nyaman hingga usia semakin mendekati ajal. Bukan untuk satu kenikmatan sesaat yang kemudian menyelesaikan satu hal dengan terburu-buru juga.


“3 bulan…”

__ADS_1


“Minggu ini hilang sudah. Aku telah kehilangan keuntungan. Lagi - lagi.“ Lagi-lagi Lin Tian sedih. Ternyata memang apa yang direncanakan tak semudah kenyataan. Masih banyak perjuangan yang membutuhkan banyak ketabahan serta kesabaran. 3 bulan itu waktu yang lama.


__ADS_2