Menjadi Orang Terkaya Mulai Hari Ini

Menjadi Orang Terkaya Mulai Hari Ini
Episode 5


__ADS_3

Di kelas yang super lux dan sangat tinggi. Terdiri dari beberapa lantai dengan kaca yang tertata rapi. Nampak sekali kalau ruangannya adalah sebuah tempat yang tak diragukan lagi sebagai sekolah ternama.


Bu guru membaca buku. Dia mesti menerangkan pelajaran yang bagi dia mudah, tapi buat anak-anak sangat kesulitan. Karena memang belum sampai. Sehingga mesti memperhatikan dengan sungguh-sungguh. Bahkan perlu mengadaptasi dari berbagai media, supaya tetap lancer apa yang tengah dibagikan dalam bayangan tersebut. Sembari mempraktekkan apa yang dipelajari jauh lebih mengena. Apalagi ini sekolah favorit, yang serba lengkap dalam gedung maupun isi di ruang praktek nya. Di bengkel maupun laboratorium praktek selalu tersedia apa yang akan di pelajari. Selai mempermudah siswa kala mendapatkan materi, juga bisa menjadi daya Tarik tersendiri akan sekolah tersebut yang sangat terkenal di kota.


Lin Tian ngorok.


“Si miskin ini lagi-lagi tidur saat pelajaran,“


Oak….


Lin Tian terbangun.


“Lin Tian! “


Kembali bu guru membentak. Sembari berkacak pinggang.


“Dengarkan pelajaran dengan serius!“ ujar bu guru mangkel. Beraninya ya anak ini di pelajaran yang sangat sulit mesti tertidur. Belum jera kena hukuman kali. Atau hukuman yang diberikan terlalu lunak. Sehingga ada saja anak yang bandel berbuat tidak tertib dalam kelas. Apalagi ini anak-anak sudah besar. Masa begitu saja mesti di ulang terus ulang terus pendidikan yang sudah semenjak TK diajarkan. Bukankah itu sangat menyita waktu. Tapi kalau dibiarkan, anak tersebut akan semakin seenak udel nya sendiri dalam menanggapi guru-guru yang dirasa lunak dalam penerapan aturan, tata tertib serta hukum yang berlaku di sekolah atau kampus.


“Eh. Ternyata aku tak sengaja ketiduran,“ ujar Lin Tian sembari cangar cengir kaya kebo di sawah. “Sepertinya aku kemarin terlalu lelah bekerja.“ Tentu saja semua itu hanya alasan agar si pembimbing sedikit melunak untuk tidak menerapkan hukum secara ketat. Apa artinya hukum jika tak dilanggar, itu gambaran dari seorang yang terpojok. Makanya akan ada hukuman. Karena satu pelanggaran itu.


“Kak hao si miskin ini masih berani membantah guru pasti dia akan dihukum berdiri,“ ujar temannya. Sungguh keterlaluan. Guru saja dibuat begitu. Apalagi teman-temannya, tentu akan dipandang tak bagus. Mengenai dirinya yang serba kekurangan, baik maan maupun materi, menjadi sorotan tersendiri buat anak yang merasa orang tuanya mampu, secara harta, maupun terpandang dari pemandangan umum yang luas. Sehingga membuat iri bagi teman yang lain. Tak menutup kemungkinan orang miskin di lingkup itu akan kurang dalam pergaulan. Sedangkan mereka-mereka si kaya akan dengan mudahnya mendapatkan genk. Yang berikutnya mejadikan kelompok itu kuat. Di satu sisi, namun pada sisi pendidikan anak demikian cenderung bodoh. Dia akan mendapat nilai yang selalu kurang. Baik segi ketrampilan, pengetahuan bahkan sikapnya. Semua berada di bawah garis KKM. Dan berikutnya akan selalu mengulang dan mengulang pada sisi nilai yang didapat agar menjangkau angka KKM itu. Dan berikutnya tentu akan membuat hati semakin tak enak dengan si miskin yang nilainya cenderung bagus. Sebab tak sempat ngobrol, komunikasi antar sesame rekan. Juga kecenderungan memanfaatkan otak sepinya untuk hal-hal sepele yang terlintas kala pembimbing bicara. Dan kala si pandai itu mengalami satu hal yang konyol, membuat si kaya dan iri akan semakin senang kemudian berharap rasa suka itu terus bertambah hingga bisa menyaksikan satu kemalangan buat si miskin.


Kemarin bu guru ingat perbuatan baik Lin Tian yang menolong nya juga orang-orang yang di rampok. Pada ruang itu. Pada suasana yang mencekam. Dimana nyaris saja nyawa atau kehormatannya yang bakal tercederai.

__ADS_1


“Ambilah sebagai contoh!“


Kerak!


Lin tian melihat paha bu guru terkena meja. Entah itu luka atau Cuma sekedar tempelan. Yang terang itu bukan tato. Sebab kalau tato, bukannya gambar mawar atau singa akan lebih menarik, daripada hanya ditutup perban.


“Tak disangka dia lolos dari hukuman. “


Hao sebel.


Siaran berita:


KEMARIN TERJADI PERAMPOKAN DI BANK XX. MAHASISWA MISTERIUS MENGECOH PERAMPOK DENGAN CERDIK.


“Apa? Tak disangka si miskin ini….“


Kring…….


Istirahat.


“Lin Tian, dengar - dengar kemarin kamu melaporkan kejahatan dengan cerdik dan menyelamatkan sandera ya?“ ujar cewek cantik, temannya. Disitu berkumpul para gadis yang demikian terpesona, aku terpesona, memandang wajah si Lin Tian yang tengah berbinar karena kepahlawanan kemarin yang demikian memukau. Hingga tidak hanya mengharumkan sekolah, juga teman-teman cewek yang harum ini. Kalau mengaku temannya, tentu para gebetan juga bakalan mau mendekat.


“Tidak-tidak…“ masih si cewek yang berkerumun itu yang berkomentar. Seakan dia lebih mengetahui pada apa yang sudah dialami rekannya ini. “Versi yang aku baca, Lin Tian adalah seorang ahli bela diri. Seorang diri mengalahkan penjahat.“

__ADS_1


“Lin Tian benar kan yang aku bilang?“ Para cewek itu memastikan kalau kabar yang sudah banyak bumbu nya itu dan dia telaah sembari menambah beberapa ramuan, kayaknya memang sangat tepat diucapkan dibandingkan oleh mereka-mereka yang hanya bicara sekedarnya.


“Benar benar benar!“ Alias betul betul betul. “Semuanya benar.“ Lin Tian membenarkan semua perkataan itu yang intinya membicarakan kehebatan dirinya. Entah yang paling tepat mana, tapi itulah yang dianggap kenyataan sehingga untuk menelaah yang paling benar aka kesulitan. Yang jelas semua tadi tetang kehebatannya. Dan itu membuat poin plus bagi nya.


“Kalau begitu harus dirayakan sejenak,“ kata Hao. Dia ingin ada sesuatu yang bermakna dari peristiwa yang menggemparkan kampus ini. Tidak mesti remaja miskin yang dibencinya itu yang harus melenggang nikmat, mesti ada pelajaran untuknya. Sehingga tidak lagi-lagi membuat heboh demi kepentingan dia sendiri. “Sekarang kamu adalah bintang tenar bagaimanapun kamu harus membayar kita makan.“


“Benar, kalau tidak, bagaimana bisa menggambarkan bintang tenar mu..“


“Benar Lin Tian traktir kita makan dong,“ ujar cewek baju pink. Dengan sikap kemayu nya itu, tentu tak akan ada yang tak luluh untuk sekedar memberi apa yang mereka inginkan.


Lin Tian hilang. Dia sudah tak ada di tempat semula. Bangkunya kosong.


“Tak disangka mau membuatku menghamburkan uang,“ ujar Lin Tian. “Kabur… kabur….. “


Lin Tian mengendap-endap.


“Hahaha!“ Semua lawan politiknya pada senang. Kali ini bisa menemukan kelemahan si miskin. Bagaimana lagi. Buat makan sendiri saja susah, mau mentraktir sebegitu orang dengan mulut yang isinya beraneka rupa, dan perut yang tak kenyang - kenyang. Mana mampu. Bukannya demikian, kabur, adalah kata tepat bagi seorang yang demikian.


“Ternyata benar si miskin yang tidak royal. Baru begini saja sudah melarikan diri. Masih mau menjadi bintang.“


Si Hao di tepuk pundaknya.


“Kantin!“ ujar Lin Tian mengajak.

__ADS_1


“Aku akan mentraktir kalian makan di kantin semuanya.“


Sembari memperlihatkan uang.


__ADS_2