Menjadi Orang Terkaya Mulai Hari Ini

Menjadi Orang Terkaya Mulai Hari Ini
Episode 79


__ADS_3

“Ingin menjadikanku sebagai master mu,“ ujar Lin Tian.


“Lin… Lin Tian. Aku Su Xueqing, walaupun hari ini jatuh ke tanah, juga tidak akan memanggilmu…“ ujar Su yang tak ingin melakukan sesuatu yang dianggapnya memalukan. Apalagi pada anak muda yang demikian saja. Sebab sudah banyak petualang yang dia lewati dengan penuh keberanian. Dan kalau demikian saja sudah mau menuruti kehendak pemuda itu, akan hancur reputasinya. Makanya sebisa mungkin dia bertahan, dan akan siap walau mesti bertumbukan dengan bumi. Itu tak jadi soal. Demi suatu keberanian.


Lin Tian menangkap Su Xiaoqing.


“Kamu…“


“Aku bukanlah orang yang kecil hati seperti itu,“ ujar Lin Tian memapah Su Xiaoqing. Dia juga tak akan tega kalau orang yang bersamanya akan hancur tubuhnya. Walau orang itu menyebalkan, tak mau menuruti kehendak nya, juga merupakan lawan bagi dirinya. Tapi sebagai manusia tentu tak akan membiarkan orang lain hancur dan tak bisa mempertahankan nyawanya.


Lalu menarik tali. Parasut pengembang. Berdua tandem. Tergantung-gantung di bawah satu payung yang sama. Tentu bukan suatu yang mudah. Mengingat kekuatan payung hanya untuk satu orang saja. Bisa-bisa tali itu akan putus. Walau kecil kemungkinannya, karena sudah diuji untuk beberapa orang dan beberapa tarikan akan mampu menahannya, terutama saat tali belum dipakai. Menjadi soal lain ketika beberapa kali dipergunakan. Meskipun begitu masih cukup kuat untuk menahan beban dua orang saja. Hanya memang kemampuan parasut tidak sama jika hanya untuk satu orang sebagai bahan uji pertama. Dan jika lebih, maka beban akan bertambah, sehingga ada kemungkinan robek. Kalaupun kuat, maka gaya Tarik juga sangat cepat. Jadi sulit untuk dikemudikan. Jadi untuk menuju titik sasaran lumayan sulit. Sehingga hanya pasrah saja kemana payung akan meluncur. Sebab ini juga merupakan parasut kotak, yang mudah di kendalikan. Beda dengan yang bulat. Walau beban yang dibawa lebih banyak, tapi payung bulat sulit untuk dikendalikan. Hanya akan meluncur pada satu tujuan dengan bobot yang lebih banyak. Karena daya tangkap dari paying itu pada angina akan lebih banyak. Sehingga membuatnya lebih pelan saat turun. Tetu untuk ukuran yang sama dengan parasut yang bentuknya berbeda.


“Aku lihat, kamu hanya takut bertanggung jawab.“


Parasut melayang di atas pulau. Lumayan banyak parasut-parasut itu. Setidaknya ada empat buah yang sama-sama turun. Ini berarti tak hanya mereka yang menuju lokasi pulau mengerikan ini. Dimana hukum rimba yang berlaku. Jadi kalau menuju sana sudah mesti siap mental.


“Gawat kita sudah membuang terlalu banyak waktu. Pasti ada orang yang akan menyergap kita,“ ujar Su khawatir. Dia paham sekali dengan pulau yang rawan ini. Sudah banyak orang yang gagal bertahan di sana. Serta tak jarang menderita kerugian yang hebat. Namun demikian para konglomerat tak jera juga untuk terus mengulang dan mengulang. Apalagi bagi mereka yang pernah merasakan manisnya pulau itu. Dimana keberuntungan selalu di raih. Membuat mereka akan semakin penasaran untuk mendapatkan yang lebih dan lebih.


“Kalau begitu….“


Parasut terus meluncur turun.


Sementara di bawah sana, pada suatu pulau.


“Sudah turun. Lihat sudah hampir sampai,“ ujar penjaga dengan panah busur nya. Mereka tengah siaga. Laksana para gladiator saja yang berkuasa di pulau itu sebagai coloseum nya. Sebab disini hidup mereka. Keberuntungan benar-benar dipertaruhkan. Kalau berhasil, maka akan banyak memegang uang, dan jika gagal, itu suatu resiko, dimana akan mempertaruhkan juga hidupnya. Bahkan nyawa yang mesti melayang. Sebab ini bukan pulau untuk pengecut.

__ADS_1


Parasut mendarat.


“Lihat aku akan menyergap mereka,“ ujar penjaga sembari memburu ke parasut yang tergulung. Ada keberuntungan buat mereka yang ebih dulu di darat dan sudah bisa mengukur sejauh mana kesiapan lawan yang baru jatuh. Dan mereka sudah siap dengan senjata mereka.


Soo…


Panah terbidik. Dengan cermat langsung mengarah pada si pendatang.


Balas....


Menancap ke penunggang parasut. Langsung menderu ke arah keduanya, karena kekuatan hempas dari busur tersebut memang sangat kuat.


“Mereka pasti adalah konglomerat kita rebut dulu uangnya,“ mereka tersenyum lebar, saat yakin dengan incaran mereka yang sudah pasti mengena. Sebab musuh hanya jatuh saja. Dan taka da waktu untuk bersiap, beda dengan mereka yang sudah menunggu sekian lama. Keberuntungan itu yang mereka manfaatkan.


“Apa… Kemana mereka?“ Mereka terkejut.


Hanya ada baju. Tanpa isi. Baju yang sama yang mereka lihat saat turun dari pesawat. Kalau begini tentu panah mereka tak akan berarti. Dan hanya menembus daerah kosong. Bahkan baju mereka seakan tiada lubang sama sekali. Ini benar-benar suatu musuh yang sangat lihai. Mereka berdua seakan lenyap.


“Cepat kita dijebak.“ Belum usai kesadaran mereka, sudah dating serangan. Sebab mereka paham, langkah berikutnya tentu giliran mereka yang diincar. Lain tidak. Karena mau apa lagi dalam pulau yang bebas hukum begitu kalau bukan untuk melukai. Siapa yang tak mau dilukai, maka dia akan melukai.


Dig.


“Ingin merampok aku. Kamu masih belum mampu.“


Dua di lantai jatuh.

__ADS_1


Eh…


“Di tubuh mereka selain senjata tidak ada barang lainnya lagi. Xiao Xue bukankah kamu bilang kalau orang-orang ini adalah konglomerat?“ tanya Lin Tian menoleh. Dia heran, mana ada konglomerat yang suka mengincar uang orang miskin. Juga suka rebahan di tanah hanya karena kena sikut sedikit saja.


“Beri aku sehelai pakaian dahulu,“ ujar Su Xiaoqing sembari mendekap dada dan tubuh yang kedinginan. Su segera berpakaian. Bawah hijau dan atas kaos seksi.


“Konglomerat yang ikut pertandingan ini hanya 60 %. Sisanya adalah bandit yang miskin,“ jelas Su. “Kalau mereka menang, mereka bisa terlepas dari pidananya.“


Para bandit terkapar di tanah. Tidak menyangka akan terjadi hal demikian. Musuh mereka benar-benar terlampau tangguh. Kali ini jangankan dapat untung. Mereka malah hanya akan sakit-sakit di badan karena bogem mentah si Lin Tian.


“Awalnya aku berencana merampok sedikit uang jajan. Sekarang sama sekali tak ada,“ kata Lin Tian sedih dengan sedikit mengucek - ucek matanya. Terlalu sedih rasanya. Air mata sampai menetes. Begini nasib jadi bujangan, kemana-mana selalu apes. Dengan lelehan air mata yang deras di pipi.


“Hati-hati,“ ujar Su.


“Hati-hati ini…“


Lin Tian menangkap peluru.


“Kelihatan kan kamu masih perhatian padaku,“ kata Lin Tian sembari senang memandang muka cantik yang cemas.


“Anggap aku tidak bicara. Lihat disana…“


“Kali ini aku datang untuk membuatmu menyaksikan ilmu bela diri di atas ilmu bela diri kuno,“ kata Su Xueqing sembari melayang.


“Entah aku Tian Tianlin bisa meniru jurusnya atau tidak,“ kata Lin Tian yang terlalu kagum pada ilmu bela diri kuno Su.

__ADS_1


__ADS_2