Menjadi Orang Terkaya Mulai Hari Ini

Menjadi Orang Terkaya Mulai Hari Ini
Episode 21


__ADS_3

“Terima tembakan ku ini!“ Ancam Lin Tian.


“Bos!“


Semua anak buah sangat khawatir akan nasib Bos nya.


“Kenapa orang ini lebih garang dari aku?“ ujar Bos itu dengan muka bertambah pucat saja. Ancaman itu demikian menyebalkan. Sehingga seakan sudah mati saja rasanya. Yang membuat sang bos demikian ketakutan.


Hehe….


Pelatuk ditarik oleh Lin Tian yang sudah berada tepat di muka sang bos. Sang bos bertambah ketakutan. Sampai-sampai tangannya menutup muka. Dan nafasnya sudah tak tertahankan. Apakah sudah menarik atau belum. Atau apakah nafasnya masih bersama jantung atau sudah loncat.


Kla…


Eh..


“Ternyata surga penuh dengan uang ya,“


Pistol keluar uang. Pistol supreme. Pistol yang aneh. Biasanya pistol itu keluar kalau tidak peluru jenis bulat atau jenis runcing. Atau justru pistol air yang mengeluarkan setidaknya air kental manis. Tapi ini malahan keluar uang. Namanya juga pistol supreme yang seperti oli jadi licin terus. Mungkin kinerjanya mirip mesin game ding dong atau time zoo yang mengeluarkan tiket hadiah. Jadi isinya didalam uang semua untuk keluar secara memanjang yang saling berkait. Keluar seberapa banyak yang dibutuhkan. Itu akan membuat habis didalamnya sejumlah hitungan untuk keluar.


“Jangan mimpi! Aku adalah Dewa mu. Semua peluru ini adalah uang kontrak Tian Feifei,“ kata Lin Tian. “Mulai hari ini, Dia buka lagi bagan dari perusahaan kalian!“ Lanjutnya supaya kontrak yang berat sebelah dengan si artis itu segera di hentikan. Sehingga tak ada beban yang memberatkan Tian Feifei.


“Tapi….“ Bos itu seakan masih berat melepaskan Tian Feifei, mungkin karena begitu berpotensi si Tian sehingga sangat sulit melupakannya. Atau karena kecantikannya sehingga sebisa mungkin mengikat wanita itu agar tak lepas serta penuh ketergantungan kepadanya. Yang jelas itu semua dia perjuangkan hanya demi si cantik tetap bersamanya.

__ADS_1


Dibuang. Peluru yang kosong, sudah habis peluru uangnya itu langsung di buang. Tak terpakai lagi. Mencari yang baru. Padahal bagi orang di luar sana sungguh sangat saying. Bisa diisi ulang atau dijual sebagai barang loak. Lumayan kalau di kilo. Ini tidak, alias sekali pakai. Habis, ganti yang baru.


“Tidak ada tapi – tapian. ‘Tapi’ hanyalah alasan tidak kurang uang.“ Lin Tian sudah enggan mendengar kata itu lagi. “Kalau satu tidak cukup, aku gunakan dua!“


Lin Tian mengeluarkan dua alat yang mirip dengan pistol. Dan kinerjanya juga sama persis dengan senjata berbahaya itu.yang jika diacungkan ke atas serta berbunyi suara aneh, bakalan terkena masalah. Tapi ini langsung saja diarahkan ke orang itu. Peluru uang menghambur di muka bos. Sehingga membuat sesak nafas. Sampai tersengal-sengal, dan berusaha menata jantung agar detak nya yang lebih kencang seperti genderang mau perang itu, melambat untuk normal kembali.


“Eh… masih belum setuju juga?“ Lin Tian tercengang juga melihat kegigihan si bos yang enggan melepaskan Tian.


Dia buang lagi pistol uang itu. Seakan membuang selongsong peluru. Atau bekas magazine pistol.


“Kalau begitu tiga pistol. Uang adalah masalah tiga dunia.“


“Tuan muda Lin ternyata memang kaya raya sampai tidak ada tandingannya. Kekayaan melimpah,“ ujar orang-orang di situ dengan senangnya memainkan uang. Seakan uang itu tak habis, layaknya banjir air saja. Dengan suka hati berenang-renang dengan uang yang begitu banyak. Atau seakan anak kecil yang tengah asik mandi bola. Dengan begitu banyaknya uang yang berhamburan, membuat ruangan penuh dengan uang itu.


“Tian feifei adalah wanitaku. Kalau aku rasa dia milikku maka dia adalah milikku,“ ujar Lin Tian seraya keluar sembari membawa surat kontrak Tian Feifei, sang Idola.


Di dalam bus besar Lin Tian, Xiaoli berkata, “Walaupun bukan uang seharusnya aku tanyakan, tapi demi gurumu apa pantas menghamburkan uang begitu banyak?“


“Pantas tentu saja.“


Dia lalu merobek surat kontrak Tian Feifei, entah mengapa. Mungkin karena tak menyukai isinya yang terlampau memberatkan artis kontraknya. Atau supaya lebih bebas. Dengan taka da surat perjanjian kontrak itu, maka Guru Chen juga lebih fokus pada memberi pembelajaran, daripada harus mendua kerjaan sebagai orang lain karena hanya untuk membela orang tuanya yang tengah sakit keras, sehingga ujung-ujungnya hanya akan diperalat oleh orang berduit saja.


“Tapi, Mana mungkin aku memberi uang pada orang yang menindas guru Chen.“ ujar Lin Tian dengan senyum misteriusnya.

__ADS_1


Pada saat yang sama di ruang Bos nya Tian Feifei,


“Ternyata…”


“Ini semua adalah uang kematian. Semuanya uang palsu!“


Bos itu merintih diatas kesedihannya. Sungguh malang benar. Dia ditipu mentah-mentah.


“Lapor bos, ada 3 lembar uang asli,“ ujar anak buahnya dengan memperlihatkan tiga lembar uang asli. Entah bagaimana. Mungkin yang tiga lembar itu dari pistol tiga yang berbeda. Jadi satu pistol berisi satu uang asli. Untuk kemudian disusul dengan uang-uang palsu hasil kopian uang asli pada tiap pistolnya. Pistol itu mesin foto kopi yang canggih. Itu akal-akalan Lin Tian, supaya bisa mengerjai orang yang sudah jahat pada idolanya.


“Bos 250 Yuan!“ ujarnya setelah menghitung yang penuh perhitungan dengan suara yang demikian nyaring. Lumayan kan uang segitu. Buat beli koran bekas juga dapat banyak. Bisa untuk membuat banyak acara juga. Jadi sang bos tidak rugi - rugi amat melepas wanita itu dengan uang yang masih ada. Selebihnya yang uang-uang mainan itu nanti bisa buat main monopoli atau ular tangga. Jiga bisa buat ajang taruhan ludo king. Asik tuh. Bisa semalaman main dengan anak tanpa rasa capek dan nggak keluar duit jika dibandingkan dengan main ding dong di mall yang penuh dengan koin berharga mahal.


“Beraninya kamu memakiku!“ ujar sang Bos dengan amarah yang meluap-luap. Suara memberi tahu tadi seakan sebuah makian di telinganya. Dia memang tengah penuh amarah. Demikian banyak uang tadi, yang hampir satu ruangan penuh, bisa untuk mandi uang, juga bisa segalanya, ternyata merupakan uang kertas yang pantas untuk main monopoli. Makanya tangan kuat bos itu langsung meninju dengan kuat ke dagu anak buahnya, hingga terpelanting dengan keras sebelum menabrak dinding sampai retak, untuk kemudian diam.


Argh….


Anak buahnya hanya bisa berteriak.


“Jangan bergerak, kali ini adalah pistol asli!“ Belum sempat dia istirahat dalam membantai anak buahnya sendiri, tahu-tahu sudah ada yang dating dengan senjata yang tak kalah menyeramkan dari apa yang dibawa Lin Tian.


“Bos Cao… Direktur Cao. Maafkan…“ Rintihan gemetaran. Dia rupanya sangat ketakutan dengan orang satu itu. Makanya begtu mengiba dia.


Bos Cao berkata, “Saya…” sembari menginjak muka Bos itu.

__ADS_1


“Ingin minta maaf?“ tawarnya seraya mengacungkan pistol asli. Bukan echo… “Lebih baik langsung mati saja!”


__ADS_2