
“Ah, akhirnya ketemu tempat parkir,“ ujar Lin Tian sangat puas setelah berhasil menaruh bus kuning besarnya untuk di tempatkan pada lokasi rumit yang penuh dengan liku-liku hidup.
“Tidak boleh seperti ini terus. Ke depannya aku harus membuat satu alat pelacak, kalau tidak mau cari tempat parkir, di labirin ini sangatlah menderita,“ ujar Lin tian yang merasa jika menaruh sesuatu dalam labirin sungguh sangat kesulitan. Jangankan bus yang demikian besar, hanya mencari jalan keluar saja terkadang sangat sulit sekali. Memang itulah fungsi dari di buatnya labirin, sehingga akan terasa sangat sulit dan di harapkan memang demikian, sehingga membuat semua itu akan menjadi permainan mengasikkan, bahkan hingga membuat nangis darah kalau tak mampu menemukan jalan keluarnya.
“Jangan sampai orang lain melihatnya…..“ ujar Lin Tian celingukan.
“Hehehe!“ kemudian dia mencoba memencet tombol rahasia, sehingga dia mampu keluar dari ruang labirin itu tanpa perlu kesulitan untuk meniti serta meneliti setiap ruang rahasia yang sangat pelik tersebut, dan keluar dengan bebasnya.
“Hanya aku yang memiliki lift pribadi di perusahaan ini,“ ujarnya yang berusaha menjangkau keluar hanya dengan melewati lift pribadi itu untuk berikutnya menuju ke kursi yang sangat empuk dan juga sangat rahasia itu.
“Orang lain hanya bisa naik tangga! Hahaha!“ Kembali ia tertawa bangga menyaksikan betapa hebat dirinya yang mampu mendesain ruangan tersebut sehingga terasa sangat rahasia, akan tetapi sebenarnya sangat simple, bahkan tanpa perlu menyimpan rahasia apapun untuk masuk dan keluar labirin. Sehingga orang yang merasa kesulitan bakalan mengeluh, dan meratapi bahwa labirin itu sungguh sangat menyulitkan serta menjadi permainan yang mahal. Walau buat sang pemilik si direktur muda ini, hal tadi bukanlah satu hal yang rumit.
“Ahh! Kecepatan ini memang sangat memuaskan!“ ujarnya setelah duduk dengan santai dalam suatu kursi lift yang dengan sekali pencet langsung bisa meluncur naik ke ruang yang dikehendakinya. Sehingga tanpa perlu capek-capek lagi sampai kaki sengklek, atau bahkan kesemutan yang membuat pikiran tak nyaman begitu.
Dan tak berapa lama sampailah di suatu ruang kantor pribadinya yang di desain dengan apik pula, dengan warna dominan coklat serta perpaduan yang menarik antar warna-warna itu, sehingga membuat segalanya begitu indah di pandang dengan sebelah mata.
“Eh? Siapa membuat keributan pagi-pagi?“ Namun betapa terkejutnya setelah dengan kecepatan penuh sampai di ruangannya akan tetapi sudah di sambut dengan suasana riuh yang benar-benar tidak nyaman untuk di dengarkan.
“Hah! Direktur Lin! Tadi tidak ada orang. Kenapa kamu mendadak keluar dari kantor?“ ujar sang pegawai sekretaris yang berbaju ungu untuk melambangkan sesuatu yang nampaknya sangat terperanjat menyaksikan kejadian yang jarang-jarang terjadi secara mengejutkan begitu.
“Hukkkk, Oh ya… Kenapa begitu rebut di luar?“ ujar Lin tian mengalihkan perhatian supaya tidak ketahuan kalau dia secara sembunyi-sembunyi naik lift kursi yang begitu cepat menjangkau kantornya.
“Mereka semua adalah karyawan hubungan masyarakat dari berbagai perusahaan. Mereka datang ke sini untuk meminta bimbingan dari anda!“ Minta bimbingan ribut begitu, lalu siapa yang mau membimbing kalau demikian?
__ADS_1
“Bimbingan? Aku bukan Buddha!“ ujar Lin Tian merendah. Tentu saja dengan sikap bijak dan penuh pengabdian, akan Nampak suatu yang sangat mengena andai saja mampu mengutarakan apa yang menjadi isi hatinya demi mampu membuat orang-orang itu terbimbing dan sanggup melakukan berbagai hal yang sangat bagus begitu.
“Semua karena berita kemarin,“ terang Bai. Dia mengungkap kejadian yang telah lalu itu yang membuat segala sesuatunya menjadi riuh begini, dan menjadikan banyak orang untuk terpengaruh akan bimbingan dari direktur Lin ini.
“Hah? Ini…“ begitu kaget Lin Tian saat membaca sebuah artikel di layar HP kebanggaannya.
“PERUSAHAAN DILARANG KERJA DUA BELAS JAM DAN ENAM HARI,MULAI DARI HARI INI, SETIAP LEMBUR HARUS MEMINTA IZIN.“
“Apa? Jadi mereka datang mencari ku, hanya ingin menanyakan pengalaman pulang tepat waktu?“ ujar Lin Tian yang kebingungan mau bicara apa nanti jika benar-benar di suruh membimbing.
#
Sementara dalam ruang siding di tengah meja bundar, semua orang yang pada rebut-ribut itu terus saja menanti dengan penuh tanda tanya, mengapa sang direktur kebanggaan mereka yang mesti memberi bimbingan itu tidak kunjung menampakkan diri.
“Aku ingin melihat apa mereka membawa uang untukku?“ ujar Lin Tian beralasan.
“Tak kusangka, peraturan begitu cepat diterapkan, kalau tidak bisa kerja dua belas jam, bagaimana cara kita bersaing di dunia teknologi ini,“ kata mereka semakin pesimis akan kinerja mereka dari waktu ke waktu, makanya sangat mengharapkan bimbingan dari Direktur Lin.
“Kamu jangan berkata demikian, dimulai dari satu tahun yang lalu, Direktur Lin selalu pulang kerja tepat waktu. Tapi efektifitasnya juga lumayan baik,“ ujar yang lain.
“Apakah Direktur Lin sudah menebak akan muncul peraturan ini dari satu tahun yang lalu?“ tanya pegawai perusahaan lain itu.
“Tidak, tidak ada orang yang bisa meramal masa depan,“ jawab diantara mereka juga yang memastikan hal itu. “Direktur Lin pasti bukan menebak.“
__ADS_1
“Betul, jangan terlalu memuja-muja ku,“ kata Lin Tian yang tak mau terlampau di sanjung. Makanya sebisa mungkin berteriak dalam hati di dalam persembunyiannya, supaya mereka menganggapnya biasa saja, layaknya tokoh hebat itu yang berdiam diri di taman Lumbini dengan kesahajaannya.
“Masuk akal, kalau begitu hanya tersisa satu kemungkinan,“ tebak yang lain memastikan.
“Betul, aku hanya ingin rugi. Akhirnya ada orang yang mengerti isi hatiku,“ ujar Lin tian terharu.
“Direktur Lin memiliki bekingan, lalu bekingan ini sangat kuat, satu tahun yang lalu dia sudah tahu akan ada berita seperti ini,“ kata yang lain. Dia merasa yakin. Jika bekingan yang di maksud tentu tokoh yang demikian kuat sehingga mampu membuat perusahaan yang di kelolanya sangat maju dan hebat, serta banyak memiliki kelebihan di bandingan perusahaan yang ain atau bahkan yang bukan perusahaan. Hal inilah yang membuat semua orang ingin dia bimbing.
“Betul!“
Semua setuju. Tak ada yang protes jika sudah demikian. Lalu apa juga yang menolak kalau bekingan itu tentu saja yang membuat dia sangat kuat.
Mengetahui semua berpikiran yang keliru, membuat Lin tian semakin merana. Ternyata bukan demikian yang menjadikan mereka memahami isi hatinya yang lagi koyak, tapi pemikiran yang salah yang terus di pupuk.
“Direktur Lin siapa bekingan mu? Dia hebat sekali,“ kata Bai yang ikut penasaran selama dalam persembunyian.
“Memangnya siapa lagi, tentu saja Xiao Qian. Di belakang setiap pria sukses, pasti ada seorang wanita,“ ujarnya dengan pasrah.
Xiao Qian hanya terpana.
“Apa?”
#
__ADS_1