
Potensi \= 9. Ahli dunia.
Bakat e-sports. Ahli dunia di sini.
Misi: Mendidik ahli e-sports dan mencarikan panggung yang tepat untuk nya.
Hadiah: Pertukaran nilai potensial file proyek game misterius.
“Game misterius. Jangan - jangan maksudnya adalah proyek yang sangat menguntungkan,” ujar Lin Tian tertantang. “Boleh juga. Game yang bisa mendapat untung cuma-cuma. Sayang kalau di lewatkan.”
Lin Tian segera menekan tombol untuk memulai game. Dia akan menyuruh Yu Zeai untuk memenangkan pertandingan yang sangat menentukan itu. Kalau menang pasti dia juga bakalan bisa melihat bakat terpendam dari anak ingusan ini. Sehingga siapa saja nanti yang bakal ada yang mencelakai nya pasti dia bakalan melindungi karena bakat terpendam dari anak muda tersebut. Apalagi melihat tampangnya yang demikian meyakinkan dengan jari victory nya yang sangat mempesona. Pasti tersembunyi bakat terpendam yang jarang di pertunjukkan pada semua orang.
“Anak muda, apa tidak mau mencoba dulu?” ujar Lin tian membimbing Yu Zeai ke monitor game misterius itu. Sekalian membujuk. Sebab dengan melihat potensi yang tersimpan dalam diri si pemuda, membuat kemungkinan memenangkan game misterius tersebut demikian terbuka lebar.
“Tidak, tidak, aku melihat saja sudah cukup,“ ujar Yu Zeai. Seakan takut-takut. Ya kalau menang, jika kalah, bukan nya nanti hanya akan membuat malu semua orang terutama dirinya. Mau di taruh di mana nanti muka nya. Kan bingung mau membuang ingus, kalau muka tak ada.
“Coba saja, ini gratis, sekali saja,“ kata Lin Tian terus membujuk. Kalau tak di coba bagaimana akan tahu kemampuan nya. Ini sekaligus sebagai upaya unjuk gigi di depan semua orang. Dan mengeluarkan bakat terpendam nya seiring dengan nilai potensi yang demikian besar, mendekati sempurna. Tentunya akan langsung ketahuan setelah memenangkan game misterius ini. Dan lawan bakalan langsung tahu kalau kali ini tengah berhadapan dengan siapa.
“Yu Zeai, kemana kamu pergi! Cepat keluar!” Tiba-tiba ada suara memanggil Yu Zeai. Membuat anak muda yang sangat berharap aka nada pertunjukan yang hebat menjadi terpana. Mereka terus memandang kea rah dating nya suara.
Anak ingusan itu segera menjawab, “Ayah.“
__ADS_1
“Kamu jangan sembarangan memanggil ya, aku tidak punya anak sepertimu,“ ujar Lin Tian panik. Sebisa mungkin dia berkilah, apalagi tatapan anak nya demikian menghujam ke arah diri nya. Mana banyak orang lagi. Tentu akan membuat ngeri dan menjadikan pandangan semua orang menjadi tak menentu.
“Bagus sekali kamu ya Yu Zeai. Baru sebentar saja, Kau sudah lari ke sini untuk bermain game. Lihat saja bagaimana aku membereskan mu,“ ujar ayah Yu Zeai. Dia nampak demikian menyeramkan. Jiwa preman nya langsung nampak. Bisa jadi kalau tak ada orang bakalan langsung kena tendangan kungfu itu anak. Sebab demikian menyeramkan. Semua orang yang ada di situ langsung tergetar hanya dengan mendengar suaranya. Belum lagi nanti kalau melihat wajah nya. Bagaimana nanti tampang orang yang menakutkan itu.
“Tidak boleh memukul orang. Mengerti tidak!“ kata Lin Tian mencoba menenangkan hati orang itu. Apalagi anak nya sampai mengkerut ketakutan begitu. Ini pertanda tak baik. Dan perlu pencegahan agat tidak terjadi KDRT nantinya.
“Aku mendidik anak ku sendiri untuk apa kamu ikut campur?“ ujar ayah dengan garang. Dia tak suka dengan orang yang sok pahlawan, seakan membela yang lemah dan bakalan menghalangi apa yang jadi kemauan nya. Ini adalah urusan nya. Apa yang akan dia lakukan hanya pada anak nya. Bukan anak orang lain. Tentunya dalam rumah tangga ad acara-cara khusus yang bakal di lakukan demi mendidik anak supaya sesuai dengan tata aturan keluarga. Jadi tidak hanya bermain game terus, atau justru bermain-main saja kerjanya. Bagaimana mau kerja nanti atau belajar jika semuanya menghabiskan waktu di tempat game terus. Tentunya selain menghabiskan banyak koin juga akan membuat mata jai tidak bagus karena terus menerus menatap layar yang selalu mengeluarkan radiasi yang sangat berbahaya buat mata dan mata uang. Makanya pendidikan karakter bakalan di lakukan bagi si anak yang terlanjur demam game itu.
“Untuk melindungi tamu ku. Apa perlu komentar dari orang luar sepertimu,“ kata Lin Tian yang langsung memasang badan demi keamanan si bocah kecil yang gendut. Atau biarpun bukan orang yang dating ke lokasi perusahaan nya, namun jika mesti di lindungi juga akan dia usahakan, mengingat anak sekecil itu tak bisa di perlakukan kasar, serta mesti di jaga kesehatan nya supaya tidak sakit dan lanjutnya supaya bisa main game dengan sangat teliti hingga akhirnya bisa memenangkan hadiah misterius nanti nya.
“Baik, aku anggap kamu hebat, aku tidak mau berdebat dengan mu. Yu Zeai sini kamu. Pulang!“ bentak ayah dengan keras dan tak mau kalah wibawa di depan orang banyak.
“Apa aku pernah bilang membiarkan nya pergi?“ ujar Lin Tian menahan langkah anak yang ketakutan.
Lalu dia menepuk tangan, memberi kode pada semua anak buah nya. “Semuanya… Lindungi tamu kita.“
Tak berapa lama langsung berkumpul orang orang dengan muka seram dan badan yang tegap-tegap. Siap melanjutkan apa yang Bos Lin perintahkan.
“Kamu, apa yang akan kamu lakukan? Aku akan lapor polisi!“ ujar ayah Yu Zeai.
“Silahkan, ini handphone untuk mu. Silahkan lapor.“
__ADS_1
“Apa maksud mu, apa kira aku tidak berani.“
“Cepat lapor… lapor.“ Lin Tian berang. “Untuk apa memukul anak kecil. Apa maksudmu memukul anak untuk melampiaskan emosi mu. Siapa kamu.“
“Dengarkan aku, bermainlah,“ ujar nya pada Yu Zeai dan menduduki kan dia di depan monitor game. Lalu katanya pada ayah, “Kamu, lihat dari belakang ya. Lihat baik-baik bagaimana bakat anak mu di e-sports ini.“
“Baiklah, aku tahu semuanya dari dia. Sejak kecil, dia tidak bisa fokus, akhirnya semua yang dia lakukan jadi tidak bagus. Kalau sampai dia bisa bermain dengan bagus, aku akan membakar dupa dan menyembah Budha,“ jelas ayah tak percaya kalau anak nya bisa bermain dengan cemerlang.
Yu Zeai segera menekan tombol, mulai bermain. Dan berikutnya dia sudah asik memainkan mouse, tuts pada keyboard dan matanya seakan tak berkedip demi game yang terpampang di layar monitor nya. Dia demikian asik bermain dengan tatapan semua orang yang ada di situ.
15 menit kemudian….
Kalah.
Itu yang Nampak di layar game.
“Hehe, kalah. Tidak membunuh dan mati 37 kali. 1 kali membantu,“ ujar Yu Zeai hanya bisa cengar cengir menatap kegagalan nya yang tak sesuai dengan nilai potensi yang sampai 9 itu.
Huh..
“Em.. Kenapa begini?“ ujar Lin Tian hanya bisa gembrobyos.
__ADS_1