Menjadi Orang Terkaya Mulai Hari Ini

Menjadi Orang Terkaya Mulai Hari Ini
Episode 30


__ADS_3

“Lin Tian aku sudah mengerti!“ ujar Bu Guru Chen. “Waktu itu yang memberitahuku untuk membagi siaran. Memberiku hadiah. Identitas sebenarnya dari bos perusahaan Tian Tianlin yang mengontrak ku.“


“Oh wajar kalau ketahuan. Aku memang tidak ada keinginan untuk menutupinya,“ kata Lin Tian. Memang sudah bukan rahasia lagi, jika semua itu karena dia, yang kaya baru, punya uang banyak, serta banyak juga yang telah dia bantu. Tak terkecuali dengan bu guru Chen yang juga punya nama Tian Feifei, sebagai artis di lar pekerjaan utama sebagai pengajar ini. Tentu sudah barang tentu, akan membuat.


“Benar, bos itu adalah aku.“


“Baguslah kalau kamu mengakuinya bos itu adalah ayahmu.“


“Eh…“


Lin Tian terkejut.


“Aku sadar kalau kamu adalah anak konglomerat. Jadi aku ingin mengingatkan ini padamu,“ ujar Bu guru Chen. Konglomerat yang berhati jujur dong kalau sekolah saja memakai tas kresek. Sepatu tak pakai, malahan sandal japit. Dan pakaian sedikit belel. Itu konglomerat apa? Bayangan orang, kalau kongomerat itu pakaian mesti perlente. Makanan serba mewah, yang sedikit-sedikit, dengan piring lebar, tapi isinya se cuil nemen. Juga sepatu yang begitu mewah.


‘Anak konglomerat berarti ayahku adalah generasi kaya yang tidak beruntung,’ gumam Lin Tian.


“Walaupun aku adalah karyawan ayahmu, tapi aku sebagai guru juga harus memperingatkan mu,“ ucap Guru Chen lagi.


“Skor praktik sosialmu nyaris nol. Kalau begini terus kamu tidak akan bisa lulus. Sebagai seorang anak konglomerat, satu, kamu tidak pernah kurang makanan…“

__ADS_1


“Bulan lalu bahkan aku makan dengan tidak kenyang.“ Lin Tian tersenyum kecut.


“Kedua, kamu tidak kekurangan pakaian.“


“Celana dalam jeans ku pun sudah ku cuci sampai menjadi ****** ***** biru putih,“ ujar Lin Tian dalam batin.


“Ketiga, kamu tidak perlu bekerja.“


“Kemarin baru memecat bos, memang aku tidak perlu bekerja lagi.“


“Kau ini, Seharusnya kamu meluangkan waktumu untuk berpartisipasi dalam praktik sosial untuk mendapatkan skor,” ujar Guru Chen mengarahkan Lin Tian supaya mendapatkan nilai social yang sangat manis. Bukan seperti sekarang ini. Bahkan hamper taka da harapan untuk lulus. Meski dengan menangis berguling-guing, kalau hasilnya begitu tak akan bisa ditolong. Itulah makanya guru Chen yang begitu saying dengan Lin Tian, karena beberapa kali telah pula membantunya, sekarang giliran dia yang berusaha membantu dan selalu membicarakan hal yang baik, agar Lin Tian juga melakukan itu supaya bisa memperbaiki nilainya.


“Baguslah. Hati-hati ya,“ ujar Guru Chen senang. Anak didiknya sudah bisa menghasilkan uang. Bekerja. Lalu untuk apa lagi sekolah tinggi-tinggi kalau bukan mencapai karier yang gemlang. Dan semua itu karena ada kerja yang dibanggakan. Kali ini, masih sekolah sudah mendapat kerja. Membayangkan dirinya saja yang epot-empotan mencari hasil demikian membuat nelangsa. Saat jam kerja mesti mengajar siswa yang Bengal-bengal, susah di atur, sedangkan kala malam, di mana saatnya istirahat mesti bekerja lagi untuk mendapatkan uang tabahan, itu bukan suasana yang bagus. Terlampau lelah rasanya badan itu. Ibarat mesin, mesti istirahat dulu. Kalau di forsir akan cepat rusak bahkan macet di tengah jalan. Demikian juga tubuh, akan mencapai titik jenuh jika terlampau lelah melakukan kerja.


“Sampai jumpa aku pergi bekerja dulu.“


“Ingatlah magang lah dengan baik. Kalau tidak kamu tidak akan lulus.“


Lin Tian lari meninggalkan ruangan. Secepatnya. Lekas sampai. Serta membangun kantor impiannya agar bisa menjadi kenyataan, lalu mencapai target, sehingga sistem akan memberi hadiah buat kinerja baiknya tersebut.

__ADS_1


“Tidak bisa lulus? Hmm… skor ini jangan harap kamu bisa mendapatkannya Lin Tian,“ ujar Hao. “Halo ayah, belakangan ini aku kekurangan uang jajan,“ katanya lagi yang tengah mendapat ide untuk berbuat sesuatu yang sangat bermanfaat buat si Lin Tian agar mengerti kalau melawan orang super kaya begitu akan mendapat resiko buruk. Dan ini saatnya meminta tambahan uang, supaya bisa melanjutkan rencana brilian nya. Dan sebagai alasan, tentu uang jajan akan bisa mencapai hasil. Dan sang ayah yang demikian mencintai keluarga kecil itu sudah barang tentu tak akan menolaknya.


Ayah menutup telepon . Direktur Jiang Dahao. Orang Kaya. Bos dari beberapa perusahaan. Termasuk hotel yang sangat berkelas. Serta berbintang lima. Tentu apa-apa serba kecukupan, termasuk uang yang tak seberapa ini.


“Putra meminta uang jajan tentu saja ayah harus memberi. “ kata Jiang Dahao “Hanya uang jajan masalah kecil aku tidak kekurangan uang,“ ujarnya lagi sedikit memucat. Entah mengapa. Jajan itu kan sederhana. Beli cilok juga jajan. Cendol dawet dan es krim goring cukup. Tapi entah mengapa kali ini dia sedikt kurang nyaman. Jajan itu tak sekedar beli mendoan atau tahu bulat. Ini lumayan butuh dana. Entah jajan apa anak itu.


“Tapi aku dengan dana Tuan Jiang belakangan ini dibekukan. Darimana kamu punya uang untuk anakmu?“ ujar rekannya.


“Siapa yang mengatakannya,“ ujar tuan Jiang


Dahao.


“Selain itu istrimu menceraikanmu secara diam-diam. Dan membawa lari dana yang kamu miliki,“ jelas rekannya itu memberitahu yang sebenarnya. Sehingga tak kaget kala mengetahui fakta tersebut benar-benar menyakitkan. Dan tak harus berusaha menutup diri dengan segala yang begitu mewah dalam lingkup sekitarnya. Orang-orang memandang kalau semua itu serba kecukupan, tapi kenyataannya ada sisi dibalik itu yang ternyata tak seindah apa yang terlihat tadi.


“Kamu diam-diam menyelidikiku!“ ujar Tuan Jiang Dahao sangat marah pada orang yang terlampau sok tahu. Bahkan sampai dengan detail masalahnya sudah dia pegang. Memang terkadang kemampuan mengetahui masalah orang lain dapat menjadi sebuah keuntungan. Dimana orang tersebut dengan senangnya mengumbar kejelekan orang lain itu. Bahkan bisa dijadika alat untuk mengambil keuntungan pribadi. Sehingga nantinya akan dipergunakan sebagai bagian dalam mendapatkan hasil yang sedikit aneh. Walau cara mendapatkan hal itu banyak ragam nya. Ada yang melihat raport orang lain. Disitu kana da data pribadi. Lalu dengan seenaknya mengejek si pemilik raport dengan nama ayahnya sampai marah-marah. Ada yang mengambil dari daftar riwayat hidup. Disitu juga ada data berisi file pribadi. Serta ijasah buat pelamar. Tapi untuk masalah keluarga, kayaknya hanya bisa diambil dari fakta yang ada dan terbaru. Bisa dari tetangga atau kerabat. Atau justru laporan pribadi pada seseorang agar perkaranya dibela nanti.


“Jika sudah berpikir jernih terimalah saranku kalau tidak, Jangan salahkan aku kalau, Terjadi sesuatu pada hotelmu,“ ujarnya sembari memberitahu, jika hotel kebanggaannya itu telah terjadi masalah.


Jiang mengambil surat. Ada sesuatu disana. Walau hanya tertulis…. Dan Fanpai.

__ADS_1


__ADS_2