
Pada gedung kantor Grup Tian Lin, siang itu, ada mobil berhenti tepat di depan nya.
Nampak kantor Tianlin sedikit sepi. Dengan karyawan yang seenak nya dan mudah istirahat bila tepat waktu. Sebab kalau melenceng sedikit bakalan main komplain sama atasan.
Yang mengendarai itu seorang dengan jemari lembut, yang turun dari kendaraan mewah tersebut juga di bimbing oleh supir yang sangat cekatan.
Membawa tas mewah dengan brand ternama. Mereknya saja pakai logo hati, dengan simbol mencolok yang sudah sangat di minati oleh para penggemar. Dan lagi, pegangan nya dari rantai bersepuh emas yang demikian mahal.
Melangkah dengan anggun. Kacamata ungu yang emamdang jalanan tanpa silau. Gelang yang mewah dari emsa murni. Serta sepatu dari kulit rusa. Tentu suatu hal yang sangat mencengangan. Walau sudah biasa buat kalangan wanita kaya seperti itu.
“Aih, setiap hari aku selalu merasa sangat lelah, ditambah dengan banyak berlian dan aksesori di tangan. Dan tas kulit custom made edisi terbatas di dunia. Aku benar-benar iri dengan orang-orang yang tidak perlu memakai barang-barang seperti ini, ingin menangis,“ ujar Sekretaris Alimama dengan sangat terenyuh menyaksikan mereka di luar sana begitu bersahaja nya.
“Selamat datang. Ini adalah perusahaan Tianlin, anda ingin bertemu siapa?“ tanya resepsionis dengan sangat ramah nya dalam menjamu para tamu.
“Staff perusahaan Tianlin muda sekali, sekali lihat saja sudah tahu, kalau kau adalah pelajar yang penuh energi. Tidak sama dengan perusahaan kami, yang semua staff nya adalah lulusan doktor universitas terkenal 985 dan universitas luar negeri yang baru selesai mempelajari S2. Mereka hanya tahu bekerja. Tidak menarik.“
“Itu mohon cepat sedikit sudah waktu nya istirahat siang. “
“Oh enak sekali perusahaan kecil seperti ini tidak perlu pusing dengan pendapatan. Bahkan masih ada waktu istirahat tidak seperti perusahaan kami. “
Istirahat
__ADS_1
“Hei aku belum selesai bicara. Apa-apaan dia aku adalah humas dari perusahaan alimama. Tak disangka kalian memperlakukan ku seperti ini. Perusahaan tian lin ini bagus juga Karyawan mereka sangat bebas. Pasti tidak memilki banyak bisnis dan tidak memiliki untung banyak Sepertinya orang dengan pandangan pendek lebih bahabia dibandingkan dengan orang seperti ita yang berpandangan jauh. Karena istirahat siang bawa aku e restaurant paling mewah di sini aku juga mau makan siang ala kadar nya dulu. “
#
Hotel Jiang Hao.
“hotel jiang hao aku pernah dengar hanya bintang lima saja kan. Tapi aku tidak begitu sua masakan hotel besar aku lebih suka malatang pinggir jalan. Walaupun aku tidak pernah makan. Aih aku menyesal.“
“Siapa orang ini?“ ujar Lin Tian keheranan melihat orang yang berlaku demikian diantara para karyawan nya yang kaya-kaya dan tengah menikmati santapan hotel bintang lima.
“Sudah cukup keluh kesah nya. Aku makan dulu,“ ujar humas Alimama dengan kesal. Dia menuju ke restoran hotel.
“Eh…“
“Selamat datang, untuk sekarang sudah penuh. Anda bisa menunggu di tempat menunggu dulu,“ ujar karyawan dengan ramah, tanda sangat simpatik buat si cantik yang kekurangan tempat, tentunya tanpa bermaksud mengusir, hanya supaya menempati lokasi lain yang barangkali masih ada tempat. Atau di tepi taman dengan kursi bundar di tepi jalan sana mungkin masih ada.
“Bukan kah ini adalah hotel bintng lima yang sngat mahal kenapa penuh di siang hari“
“Begini, Hotel Jiang Hao sudah di booking pada saat istirahat siang. Untuk menyediakan makan siang bagi karyawan perusahaan Tian Lin,“ terang karyawan supaya tidak salah duga kalau tempat tersebut tak ingin melayani para pelanggan yang sudah dengan setia dating di saat-saat sibuk guna makan siang begitu.
“Pelayan bualan mu ini keterlaluan, mana mungkin perusahaan Tianlin bisa membayar semua nya,“ ujar sang humas dengan tak yakin akan kemampuan perusahaan itu membayar dana yang sangat besar bagi karyawan yang sama sekali pendidikan nya tak terlampau tinggi. “Eh, kamu adalah staf yang tadi…“
__ADS_1
Terkejut. Staf makan di bintang lima. Aneh. Makanya dia rela meninggalkan pelanggan yang bakal membayar mahal kunjungan hanya demi istirahat yang tak perlu.
“Baiklah kalau begitu, tolong sediakan kamar suite untuk ku beristirahat, sore nanti aku akan mengurus hal lain nya,“ ujar Nona Humas sembari merenggangkan badan yang lagi tak nyaman serta ingin mengaso supaya tubuh bisa tetap segar bugar supaya bisa mengikuti acara selanjut nya.
“Nona kamar suite hotel ini juga sudah penuh. Perusahaan Tianlin sudah memesan nya untuk tempat tidur siang karyawan,“ ujar karyawan hotel dengan penuh penyesalan akibat taka da tempat buat orang kenamaan tersebut yang lagi butuh makan banyak, serta istirahat yang nyaman. Sayangnya semua sudah laku.
“Sebenarnya kalau kamu ingin makan, kamu bisa ke dapur dan menambah kursi di sana. Aku juga hanya memiliki kuasa kecil, ini aku kenal dengan bos hotel ini,“ kata Lin Tian berusaha merendah supaya bisa mendekati perempuan cantik dan kaya itu.
“Siapa kamu,“ tanya Humas Alimama yang kaya, sinis memandang Lin Tian yang berpakaian tak dengan brand ternama.
“Ini adalah bos perusahaan Tianlin,“ ujar Ma Geji. Tak enak rasanya jika bos nya yang demikian kaya namun di remehkan oleh karyawan ayah nya yang tengah memakai pakaian kenamaan berikut aksesoris yang sangat mahal tiada tara itu.
“Ini… Bukankah kamu adalah putra dari bos Alimama, Ma Feng, Ma Geji…“ dia terkejut. Ternyata orang yang tengah dia pantau, kini dengan rukun bersama bos dari perusahaan kenamaan Tianlin.
#
Beberapa hari sebelum nya…
“Kali ini, periksalah dengan teliti bagaimana perusahaan Tianlin dan bos nya Lin Tian. Sekaligus pergilah melihat keadaan tuan muda Ma Geji,“ ujar sekretaris Bos Ma yang ingin memantau perusahaan Tian Lin berikut anak bos yang tengah bekerja di perusahaan tersebut.
“Siap!“ kata Humas Alimama siap dikirim ke daerah berbahaya.
__ADS_1
“Aih, setiap hari aku membooking seluruh hotel Jiang Hao, tak disangka masih memberi ku discount. Sebal sekali. Setiap hari, uang di tangan tidak ada habis nya, aku menderita, siapa yang bisa membantuku,“ ujar Lin Tian mengeluh akan nasib nya yang semakin hari semakin menyedihkan saja, walaupun hidup nya bertabur bunga-bunga nan bermekaran.
“Saya pikir, saya berada di kelas 10 sastra Versailes, tetapi saya tidak berharap untuk bertemu kakek guru di sini, Mohon maaf,“ ujar Humas Alimama sembari memberi hormat.