Menjadi Orang Terkaya Mulai Hari Ini

Menjadi Orang Terkaya Mulai Hari Ini
Episode 232


__ADS_3

Produser Lin Tian.


Diabolo melayang.


Gerakan ke atas dan ke bawah menarik dan melepaskan, dalam proses itu terjadi banyak perubahan yang sangat menawan.


Diabolo terus berputar, melayang.


Kakek juga pandai main diabolo. Sembari terus memegang tongkat, serta tali yang memutar diabolo.


Tinggi rendah dan melompat ritme yang beraturan.


Berputar dan terus berputar, menebarkan antusias dalam kehidupan.


Api membakar hati.


Menerobos rintangan tanpa menjadi pengecut.


Dan suhu yang lain bermain kobaran api dalam bola. Serta membakar diabolo.


Terus memperkuat diri, terobosan dibutuhkan untuk berkembang.


Usia tua, aku mengendalikan.


Berapi api.

__ADS_1


Raja lansia.


Begitu bersemangat tiga orang lansia yang mempunyai keahlian diabolo.


#


Di Peternakan Tian Lin.


“Bagus juga ide theme song ini sangat menarik, selanjutnya adalah promosi,“ ujar Lin Tian.


“Aku sudah mengikuti pesan dari Direktur Lin. Untuk mengajak para kakek dan nenek kemari mengikuti kegiatan promosi,“ ujar peternak.


“Paman, bibi, kakek, nenek, sekalian. Kabar gembira!” ujar Lin Tian berpromosi. “Kita akan segera menyelenggarakan ‘berapi-api raja lansia’. Kompetisi komprehensif untuk orang tua.“


“Haisi untuk apa menyelenggarakan kegiatan seperti itu, badai apa yang belum pernah kami rasakan, pertandingan adalah yang paling tidak berarti,“ ujar lansia botak. Dia merasa kalau bertanding sudah taka da gunanya. Karena semua sudah pernah di rasakan. Dan sejauh itu tak pernah menang. Baik melawan rekannya yang seusia tetapi sangat kuat, atau justru anak-anak muda yang masih mempunyai kemampuan segalanya dibanding mereka yang sudah rapuh begitu. Ini yang membuat mereka cenderung untuk enggan melakukan sebuah kegiatan yang akhirnya justru mempersulit diri sendiri. Bukannya menang, penyakit yang dating. Encok kumat, tulang pada retak. Serta sendi yang seakan putus saja. Itu yang tengah di hindari.


“Benar Xiao Lin, kami sudah tua, juga tidak memiliki keahlian, kami tidak ikut,“ ujar lansia nenek. Dia pasrah saja. Di kasih ya sukur tidak di kasih tidak apa-apa. Kebangetan memang.


“Ini Direktur Lin. Kakek-nenek tampaknya memiliki penentangan yang kuat,“ bisik peternak yang menganggap semua hanya sia-sia mengajak mereka untuk berkompetisi. Sebab segalanya sudah menurun. Bisa saja di tanya apa jawabnya apa. Linglung mungkin, atau sangat pendiam.


“Menentang itu karena merasa kesempatan menangnya sedikit saja. Jadi kita hanya perlu memberi harapan pada mereka,“ ujar Lin Tian. Dia lalu mengambil benda-benda harapan yang bisa dia pakai sebagai daya Tarik bagi orang-orang tua yang sudah kecil sekali gairah hidupnya serta tak ingin memiliki keinginan selain hidup tenang di penghujung akhir kehidupan dalam dunia ini.


“Kompetisi diabolo. Juara pertama akan mendapatkan suplai makanan segar dari peternakan Tian Lin seumur hidup,“ ujar Direktur Lin sembari mengeluarkan diabolo yang sangat indah serta mudah menggunakannya. Jadi asal dia bisa bermain, maka akan sangat santai kala mempermainkan diabolo tercanggih yang dia punyai itu.


“Diabolo aku bisa. Suplai gratis makanan segar, bagus juga,“ ujar kakek lansia berbaju putih merasa itu adalah hadiah untuknya. Serta membuat gairah dia dalam mempermainkan mainan yang sangat dia minati tersebut.

__ADS_1


“Kamu bodoh ya, kita ini sudah menunggu waktu meninggalkan dunia seumur hidup, di sini tidak akan sampai 10 tahun lamanya,“ kata nenek yang merasa ajal sudah dekat. Jadi kesempatan tersebut sangat kecil mendapatkannya. Jangankan sepuluh tahun, bisa jadi esok atau lusa bisa saja sudah akan di panggil oleh Yang Kuasa. Sebab umur orang tak ada yang tahu.


“Haha, hampir saja aku lupa menyampaikan kalau gratis seumur hidup dan turun temurun. Apapun yang tidak dibutuhkan atau dipakai oleh kakek dan nenek boleh diberikan pada anak -anak kalian, begitu juga seterusnya,“ jelas Lin Tian.


“Apa, turun-temurun, anak ke cucu, lalu cucu ke cicit. Berkecukupan sampai akhir?“ para lansia seakan tak percaya. Sebab bagaimana mungkin. Sebab hal itu biasanya berlaku buat para pegawai. Itu juga yang sudah lama bekerja. Serta mempunyai keahlian yang ditunjukan dengan sertifikat keahliannya. Itu juga kadang kala hanya terputus pada anak. Karena jika istri atau suami kawin lagi, maka tunjangan demikian juga bakalan hilang. Dan tunjangan yang selama ini di kumpulkan bakal sirna entah kemana. Namun hal ini berbeda dengan keputusan menggiurkan dari bos muda yang selalu ingin merugi itu. Sehingga para lansia terkagum-kagum akan hal tersebut.


“Gunung emas tidak habis digali dan penemunya adalah aku,“ ujar Lin Tian selalu memberi banyak harapan.


“Aih pemikiran selalu terlihat indah. Tapi aku tidak bisa bermain diabolo,“ ujar kakek lansia sedikit mengeluh. Padahal hadiahnya sangat indah. Namun jika dia mengikutinya, maka sudah pasti akan kalah dengan yang lainnya. Sedangkan hadiah tentu saja melayang. Akibat jatuh ke tangan orang lain yang salah. Makanya mendingan dia tak ikut. Cukup melihat sembari tepuk tangan dan batuk-batuk itu sudah cukup.


“Jangan khawatir. Silahkan lihat. Sepak kok. Pedang taichi juga ada. Masih ada tarian alun alun dan taichi. Berjalan… Berjalan di atas batu akupuntur.“ Sehat, sehat situ. Dengan demikian, maka titik kesehatan akan tertusuk, sehingga aliran darah menuju ke syaraf inti akan terjaga.


“Kalau tidak cukup, silakan beri masukan padaku, aku akan menambahkannya,“ ujar Lin Tian berharap para lansia akan tetap ikut kompetisi apapun bentuknya.


“Horay..“ Para kakek nenek lansia langsung bergembira sembari memikirkan kira-kira apa yang mereka bisa untuk di lombakan oleh panitia tersebut.


“Aku usul untuk menambahkan senam lengan dan tepuk punggung,“ ujar kakek usul agar badannya yang masih Nampak segar bugar tersebut bisa menang banyak kala melakukan lomba otot senam lengan yang selama ini tak pernah di lakukan.


“Baik. Kita bertanding, siapa yang tepukannya lebih keras, lebih cepat dan lebih berirama,“ kata Lin Tian.


“Aku mau bertanding merajut,“ ujar nenek yang sudah sangat piawai dalam merajut, serta bertahun-tahun dia melakukan itu sampai usia berkeriput, serta membuat nya menjadi semacam keahlian yang terjalin akibat kebiasaan nya itu.


“Baik. Kita tandingkan rajutan siapa yang lebih kreatif, lebih cepat dan lebih rapat, serta lebih anggun,“ ujar Lin Tian menanggapi semua usulan tersebut dengan senang serta menyuruh peternak untuk mencatat apa saja keinginan mereka. Begitu banyak keinginan tersebut sehingga dalam mencatat juga sangat gila.


Hal itu langsung mendapat sorak sorai bergemuruh dengan semangat membahana dari para lansia yang merasa sangat di hargai keinginannya tersebut.

__ADS_1


“Kalau kakek dan nenek ku masih ada, mereka pasti akan suka dengan kegiatan seperti ini,“ ujar Lin Tian langsung membayangkan kakek neneknya yang kini sudah tiada lagi. Dan berharap dengan menyelenggarakan kegiatan semacam ini pasti bakalan membuat mereka bahagia kala melihatnya dari atas sana.


__ADS_2