
“Ternyata tiga orang ini memiliki kemampuan yang sangat hebat, apa aku harus melanjutkannya?“ ujar Lin Tian semakin panic saja menghadapi kenyataan kalau orang-orang yang diandalkan nya benar-benar sangat mumpuni. Dan ini sedikit ada pergeseran rencana tentunya. “Tunggu dulu, mungkin mereka memang ahli dalam bidangnya, tapi kemampuan manajemen nya belum tentu kuat. Yang aku cari adalah ketua penanggungjawab, bukan ahli teknis.“
“Yang pasti membangun sebuah platform sudah dipastikan akan rugi, kalau begitu siapa pun yang memimpin sama saja,“ ujar in Tian langsung cengengesan saat paham kalau rencana kali ini pasti bakalan membuahkan hasil. “Selain itu….“
“Bu’er, apa banyak pekerja seni sepertimu?“ tanya Lin Tian pada Bu’er yang tengah menikmati makanan sedapnya dengan sumpit masih belepotan.
Bu’er menggelengkan kepala.
“Keberuntungan ku sangat bagus, jadi baru saja menjadi perwakilan. Kebanyakan pekerja seni masih belum berkecukupan,“ ujarnya menerangkan kalau seni itu termasuk langka. Dan yang seperti dia tentu saja sangat jarang. Ada tapi tak banyak. Itu sudah termasuk dirinya. Makanya dia meyakinkan kalau selain dia mungkin hampir tak ada yang menggelutinya. Suka juga tidak, apalagi memiliki bakat banyak. Sedangkan penghasilan yang di dapat belum bisa di prediksi, makanya menjadi hal yang sangat di perhitungkan kalau ingin seperti dia dalam hal seni.
“Bagus!“ Lin Tian bersorak saat mendengar jawaban yang melegakan hati ini.
“Eh…“ ketiganya berpandangan dan saling heran.
Lin Tian sadar, “Eh, maksud ku pasti akan membaik.” Lalu, “Perihal yang ketiga tadi, kita lanjutkan, tapi kita tidak akan membuat platform animasi, melainkan platform pekerja seni.“
“Platform pekerja seni?“ tanya Bu’er.
“Aku mau membangun tempat perlindungan bagi para pekerja seni. Gedung ini harus dibangun oleh para pekerja seni sendiri. Dananya dari aku,“ ujar Lin Tian membayangkan kalau gedung itu sudah jadi, selain dana yang keluar besar, juga pasti menjadi hiburan tersendiri yang keberuntungannya tak menentu. Bayangkan kalau hasil seni harganya sangat mahal. Dalam balai lelang yang di panggil orang-orang kaya, lalu akan menghamburkan uang demi satu lukisan seni yang bisa di pajang dalam ruangan dengan tiap hari melihatnya dengan begitu hebat karya seseorang yang tak bisa di hasilkan orang lain, maka tentu sangat jarang yang punya kegemaran demikian. Walau sudah bisa di pastikan kalau mereka pasti sukses, karena hartanya banyak.
“Apa kamu punya uang sebanyak itu, tadi kamu ketakutan mendengar jumlahnya,“ ujar Bu’er ragu kalau Lin Tian orang kaya mulai hari ini.
__ADS_1
“Punya,“ tegas Lin Tian. Tentu sembari celingukan melihat Xiao qian tengah dimana. “Kegiatan bisnis yang menyangkut seni dana amal seperti ini, pasti perusahaan ku tidak akan menolaknya.“
“Kamu tidak boleh mengambil tindakan,“ ujar Xiao qian sedikit mangkel dengan keputusan sepihak yang sedikit tak membuat untung ini.
“Aku juga mau membangun sebuah kantin untuk pekerja seni, menyiapkan makanan. Yang dapat membuat mereka terus berkontribusi dalam kehidupan mental dan spiritual kita,“ ujar Lin Tian lagi dengan segala rencana dan angan-angan yang terus membayang. “Aku akan memberikan gaji untuk para pekerja seni yang tidak mendapatkan pekerjaan, bisa bekerja dengan fleksibel dan upahnya tetap ada.“
“Ini sangat merugikan mu, kamu tidak boleh bermain-main seperti ini. Bagaimana kalau kamu juga mengambil bagian dari karya yang dihasilkan oleh mereka setelah bergabung di sini,“ ujar Bu’er khawatir dengan pengeluaran yang akan sangat banyak setelah dipikirkan. Dia merasa tak tega dengan bos muda tersebut.pasti akan sangat memberatkan hanya untuk membantu pekerja seni demikian saja.
“Tidak bisa, aku tidak boleh mengambil karya hasil jerih payah para pekerja seni tersebut. Kalau sampai ada seorang pekerja seni terkenal dan berhasil melelang lukisan nya di harga puluhan juta siapa yang bisa tahan,“ kata Lin Tian bagaimana dia membayangkan jika harga lukisan tersebut akan terus melambung sebelum palu di ketok oleh lelangnya. Yang pasti akan membuat si pekerja seni ini untung besar, walau berbulan-bulan atau bertahun-tahun hanya menghasilkan satu karya seni abstrak, titik semua, namun sangat imajinatif dengan banyak orang membayangkan apa yang tertera itu sebagai suatu karya yang penuh dengan inspirasi.
“Aku keberatan pencari untung tidak akan mau menerima bisnis yang merugikan,“ ujar Bu’er terus beralasan. Lama-lama dia heran dengan keputusan Bos Lin yang selalu ingin merugikan diri sendiri.
Deal!
Akhirnya semua sepakat, dengan tanda saling salaman sebelum corona.
“Cara ini bisa dipakai di platform literatur juga kan?“ ujar si baju duri sedikit iri.
#
Nampak mobil mewah dengan harga fantastis berdiri di suatu gedung mewah yang harganya lebih mahal dari mobil mewah itu.
__ADS_1
“Putraku disini tempat kerjanya?“ ujar Bos Ma turun dari mobil mewah dengan di bukakan pintu sama sekretaris nya.
“Eh ayah, kenapa kamu kemari?“ ujar Ma Keji melihat ayahnya bersedia dating ke perusahaan kecil mereka yang sedikit memprihatinkan ini.
“Bukankah aku datang melihatmu,“ ujar sang ayah yang seakan kangen dengan anaknya yang tengah prihatin dalam belajar menghadapi hidup.
“Apanya yang bisa di lihat, aku hanya seorang penanggungjawab platform saja,“ ujar sang anak.
“Bagus kan, bisa terlihat kalau kamu sudah banyak di tempa,“ kata sang ayah senang melihat anaknya dalam kondisi senang.
“Ayah, ayah kesini bukan hanya untuk memujiku kan?“
“Tentu saja, kali ini aku datang untuk memintamu menjadi jembatan,“ ujar ayah.
“Aku paham, biar aku tebak, yang bisa menjadi partner bisnis dengan perusahaan mu, pasti rumah hantu kan?“ tebak sang anak.
“Haha, pintar sekali,“ ujar ayah dengan ambisi besar, karena merasa kalau rumah itu demikian menjanjikan untuk di pergunakan sebagai batu loncatan menuju sukses dan akan memperbesar usaha ini, jika tidak maka akan di perbanyak di berbagai lokasi sehingga keuntungan tentu saja sejalan dengan banyaknya bisnis yang terus berkembang itu. “Aku ingin meniru model rumah hantu Tianlin, ditambah dengan sumber daya yang sudah di miliki perusahaan.“
Dengan yakin dia berkata, “Kuat, Aliansi kuat.“ karena beranggapan kalau dengan perusahaan besar yang dimiliki pria berbakat seperti Lin Tian yang banyak mengeluarkan ide-ide cemerlang, pasti menjadi persatuan yang menjanjikan untuk kelanjutan dari usaha menakutkan yang berhubungan dengan rasa ngeri dan seram tersebut.
Sementara itu, Lin Tian yang tengah asik main game hanya berseru, “Kalah lagi, lemah sekali aku….“
__ADS_1