Menjadi Orang Terkaya Mulai Hari Ini

Menjadi Orang Terkaya Mulai Hari Ini
Episode 66


__ADS_3

Ruang rapat keluarga Qian. Kepala Keluarga Qian yang bernama Qian Pinzhu. “Tuan besar Li, Tim pemusik keluarga qian untuk tahun depan sudah siap. Kapan tuan besar li membutuhkan mereka? “


Penanggung jawab keluarga Li, si Tuan Besar Li bicara, “Terserah….“


Sembari mengangguk - angguk. Qian Pinzhu berkata, “Bagaimana kalau anda yang menentukannya. Lagipula anda diperhitungkan dalam keluarga Li.“


“Jangan berisik! Aku sedang bertanding!“ ujar Tuan Besar Li marah, karena main game nya terganggu. Benar-benar tak tahu asik orang-orang yang tengah butuh ini. Dengan seenaknya saja mengganggu dan rebut di ruangan penting begini. Bukankah urusan nanti juga bisa, setelah permainannya game over.


“Eh ini…“


Yang datang saling berbisik… lumayan lama menunggu, tanpa kejelasan, dan apakah akan selamanya begini. Dalam ruang empuk dingin dan sangat mewah. Namun sama sekali tak ada pergerakan, sehingga bisa-bisa akan dating penyakit yang tidak bagus nantinya. Bukankah lebih baik untuk pergi barang sejenak, baik itu hanya melihat taman di kantor tersebut, atau cukup jalan-jalan ke restoran untuk sekedar membeli cumi bakar saos tiram yang sangat lezat. Juga kali saja masih memungkinkan untuk main futsal melawan orang-orang pendidikan di lapangan terbaru itu.


Tetua Keluarga Qian sembari berdiri dan memberi salam hormat, tetua ketiga keluarga Qian, Qian Pinwang. “Makan enak, hidup enak, aku pamit dulu.“


“Rapat belum selesai, mau pergi kemana?“ bentak Qian Pinzhu. Dia kembali kesal dengan temannya yang sudah diajak malah begitu. Mestinya mendukung ucapan dan menyenangkan si keluarga Li. Tapi ini sebaliknya. Inginnya pergi terus. Padahal nanti di sana tak ada kegiatan. Bukannya lebih asik disini, melihat orang main game. Dan bersantai sejenak, sembari duduk di bangku empuk yang ruangannya sangat dingin dan asik ini.


“Lagipula keluarga Qian tidak memiliki hak bicara. Rapat atau tidak apa ada bedanya?“ ujar Pinwang yang sama sekali merasa tak dihargai oleh orang kaya itu. Sehingga sudah lama duduk menunggu tetap saja hanya urusan sepele yang didahulukan.


“Jaga bicaramu, tuan besar li masih ada disini,“ kata Qian Pinzhu lagi yang takut kalau Keluarga besar Li akan marah dengan perlakuan orang-orangnya yang tak bisa menjaga tata karma dalam berbisnis yang kemungkinan akan sangat berakibat buruk untuk kelangsungan hubungan baik mereka ini.


“Huh… orang lain benar tidak memandang kita,“ kata Qian. “Keluarga Qian sudah hancur di tanganmu.“

__ADS_1


“Aku lihat sepertinya kamu sama seperti Pinru yang ingin membangkang!“ ujar Pinzhu yang marah pada saudaranya yang sudah susah bertemu dengan Tuan Besar Li, namun disini sangat mengecewakan dia yang sangat di harapkan bantuannya untuk bisa meneruskan usaha bisnis agar keluarga Qian tetap berjalan dengan lancar. Tidak seperti perempuan itu yang sudah menginginkan berpindah ke lain hati, hanya karena tak mau bekerja sama dengan orang-orang kaya. Ini tentu akan membahayakan dunia bisnis mereka yang sudah merangkak naik ini. Apalagi kalau tuan ini marah, tentu bantuannya akan berhenti, lalu keluarga itu bakalan kehilangan dana untuk tetap mempertahankan yang telah berjalan itu.


Plak!


Melongo. Lihatlah tanda merah di pipi, bekas gambar tangan. Bahaya kalau sampai ketahuan penerangan, bakal kena itu. Orang menyanyi saja apalagi ini benar-benar tergambar di pipi. Sungguh menyedihkan.


“Ribut terus! Ribut terus aku kalah gara-gara kalian. Awalnya bisa menang dengan dua pemain profesional. Tapi akhirnya malah bertemu tiga artis,“ ujar Tuan Besar Li seakan menyesali kekalahannya. Bayangkan, padahal kalau tidak rebut, dia sudah pasti menang. Tapi gara-gara itu konsentrasinya jadi terganggu dan kegalauan melanda dirinya. Karena emosi jadi tak stabil, serta kekalahan yang akhirnya dia derita. Semua mesti ada yang dipersalahkan. Dan mereka ini yang pada rebut yang mesti dipersalahkan. Yang urusannya bisnis melulu, padahal lagi asik - asiknya refresing dengan game keren sebagai salah satu alternatif menghilangkan stress, malahan mengacau saja. Dasar orang gila bisnis. Begini nih. Kacau…


“Kamu! “ tunjuknya pada Qian Pinzhu. “Cari tiga orang ini untukku.“


“Tapi bagaimana dengan urusan keluarga Li dan keluarga Qian ini?“ ujar Pinzhu dengan pipi masih memar. Dia masih berusaha melanjutkan urusan bisnisnya dibanding hanya game- game melulu yang jelas-jelas merupakan permainan tak baik buat diri keluarga mereka.


“Bawa tiga orang ini ke hadapanku. Aku akan menyuruh ayah mentransfer uang untukku.“


“Sungguh bagus sekali. Siapa nama tiga orang itu?“ tanya Qian Pinzhu sangat senang dan pipinya tambah bengkak dengan gambar tangan yang juga semakin nyata.


“Yang pertama namanya ‘Kenapa Kamu Memakai Bajuku’. Yang kedua ‘Ayahmu Adalah Adik’. Yang ketiga namanya ‘Tian Tianlin’“ jelas Li. Dia sangat ingin bertemu mereka. Sehingga nanti permainannya bakalan lebih berkembang. Sehingga kalau main lagi, sampai babak juara juga tak akan ada yang mengalahkan mereka. Akibat demikian canggihnya ia kini dengan ilmu yang sudah diberikan oleh mereka tiga orang itu.


“Tunggu dulu… Tian Tianlin, nama itu sangat familiar.“


“Cepat kalian pergi mencarinya. Namanya Lin Tian keluarganya tidak terkenal,“ perintah Qian Pinzhu yang ingin sekali menyenangkan hati Tuan besar Li supaya urusan bisnis nya juga lancar.

__ADS_1


“Berakting lah sebagai aku. Nanti kalau sudah ketemu, aku pasti akan….“


Belum sempat menyelesaikan ucapannya, tahu-tahu…


Brak!


“Tak perlu mencari lagi…“


Orang-orang yang sedang rapat dengan serius main game nya terkejut dan memandang ke arah pintu yang di brak itu.


Aiya.


Tiga orang datang. Dengan gaya yang sangat modis. Ada kacamata, ada jas keren, serta dating dengan berbagai gaya.


“Kenapa kamu memakai bajuku? Itu adalah aku Qian Pinru…“ ujar Qian Pinru sembari menyilangkan tangan di depan dada sebagai kode kalau itu lambang dirinya.


“Aku adalah Tian Tianlin, sebuah lagu ‘yan yuan’ aku persembahkan untukmu,“ ujar Lin Tian juga dengan gaya yang tak kalah heboh. Tangan terkepal dengan jemari terlipat ke atas. Rambut di buat acak-acakan yang rapi, dan jas hitam nya benar-benar mahal, melambangkan kalau dia si miskin yang hanya punya duit saja.


“Aku adalah ayahmu adalah adik. Karena…. Ayahmu benar - benar adalah adikku,“ ujar Si Tongkat besi yang sangat gagah.


“Bertanding lah denganku, aku akan membunuhmu, Kalau kamu bergabung denganku aku akan berakting sebagai kamu,“ kata Lin Tian alias Tian Tianlin yang sungguh-sungguh tengah mengancam. Lanjutnya sembari meninju dinding tepat di sisi lawan, “Pokoknya, selama aku masih hidup, jangan harap kamu berada diatas angin.“

__ADS_1


__ADS_2