Menjadi Orang Terkaya Mulai Hari Ini

Menjadi Orang Terkaya Mulai Hari Ini
Episode 56


__ADS_3

Lin Tian tercengang. Dia membuka mata,


!!!


Lin Tian tengah rebahan dengan bantal paha Kepala Sekolah.


Kepala sekolah tertawa.


“Sudah baikan?“ tanya Kepala Sekolah.


“Tak disangka, bisa- bisanya Lin Tian terjebak.“ ucap Lin Tian, “Er Mazi… Untuk melawan dia, terpaksa harus membeli senjata rahasia.“


Menyelipkan uang dalam genggaman Er Mazi.


“Direktur Lin, 5 yuan bisa membeli senjata rahasia apa?“ tanya Er Mazi keheranan menatap uang yang hanya sedemikian. Bayangkan senjata paling murah saja sudah banyak uangnya. Ini malah Cuma segitu. Padahal mesti mendapat sebuah senjata rahasia yang bisa mengalahkan sang Kepala Sekolah yang demikian lihai dalam bertarung. Kalaupun untuk membeli kunai, misalnya, itu juga sudah mahal, tak cukup uang segitu. Kecuali kalau senjata itu dari plastik atau dari besi tanpa pemberat, namun jelas senjata mainan demikian hanya pantas menjadi ajang percobaan, bukan untuk pertarungan yang menentukan begini. Atau kalau mencari keris dengan misi teluh yang sangat mematikan, jelas-jelas tak akan dapat. Semua itu akan mempunyai harga tersendiri. Bila ingin senjata semacam kujang saja sudah jutaan harganya, atau pedang samurai, yang dipakai para Shogun dalam menjadi Ninja, pasti begitu mahal.


“Minuman bernutrisi,“ ujar Lin Tian dengan anehnya. Mana bisa minuman jadi senjata rahasia. Namun yang dihadapi kali ini juga belum tentu permainan yang menggunakan tenaga hebat. Semisal silat atau kungfu, bahkan bisa saja hanya main music jadi minuman demikian memang sedikit bisa ada fungsinya. Ini juga dimengerti oleh anak yang sedemikian saja bentuknya itu.


“Baiklah.“


Bergegas Er Mazi balik badan untuk mencari yang dimaksud. Tentu benda begitu bukan hal yang sulit di dapatkan. Pada supermarket atau mini market yang banyak tersebar di penjuru kota, tentu mudah ditemukan. Atau pada apotik yang biasanya menyediakan obat, maka kali ini, satu benda yang berhubungan dengan kesehatan, setidaknya sangat mudah untuk bisa didapatkan.

__ADS_1


“Kepala Sekolah Qian, melihat dadamu begitu lapang. Seharusnya tidak masalah kalau aku lepas kontrol kan?“ ujar Lin Tian sudah mulai berani main rayu merayu pada seorang yang demikian indah dipandang mata dan sedap untuk di tatap. Jadi siapa yang tak suka, siapa yang tak ingin selalu ingin bersamanya. Tak terkecuali dengan pemuda yang sedikit mata keranjang dan selalu dikelilingi para wanita beraneka jenis itu.


“Tentu saja.“


“Katakan, berikutnya apa yang akan kita tandingkan. Pertandingan alat musik tiup sudah selesai. Tentu saja sekarang alat musik string dan alat music pukul,“ ujar Lin Tian dengan para bodyguard-nya. Tentu kalau dipilih main music atau bertarung dia akan memilih yang permainan dengan penuh kejantanan itu. Bandingkan dengan para pendamping yang siaga di dekatnya, itu sudah menjadi poin tersendiri, dimana dia akan dengan mudah meluluh lantakkan badan musuh yang dilakukan para anak buah dengan badan kekar begitu. Dan nanti kalau perlu dengan uang nya yang sangat banyak itu bakalan bisa mencari jagoan lain yang yang lebih besar badannya. Bahkan kalau perlu menyewa atlet WWF biar bisa men smack down semua orang yang keparat di depannya itu.


“Tidak mau,“ ujar Kepala Sekolah. Barangkali saja dia sedikit keder dengan orang-orang besar di kanan kiri Lin Tian yang punya otot itu. Atau sudah merasa tak sanggup kalau harus melawan musuh yang demikian kuat. Makanya dia enggan.


“Eh kalian mengaku kalah?“ ujar Lin Tian heran. Masa, belum main sudah kalah, ini sedikit menggelikan, namun tak membuat tertawa. Dan itu sudah sedikit membuat puas hati pemuda itu karena tak perlu bersusah payah dan mengeluarkan keringat banyak kalau langsung demikian. Atau mungkin lebih baik jika sebelumnya sudah dikatakan, maka akan segera usai apa yang disebut pertandingan kali ini.


“Maksudku, kita bisa bermain yang lebih ekstrim. Hanya aku dan kamu,“ ujar Kepala Sekolah Qian menjelaskan keinginannya.


“Apa kamu pikir, Aku, Lin Tian adalah orang seperti itu?“ ujar Lin Tian sampai ludahnya muncrat-muncrat dan mimisan lagi.


“Katakan, bagaimana cara mainnya?“ tanya Lin Tian sudah tak sabar ingin mengeluarkan segala kepandaiannya demi mengalahkan manusia yang tak tahu diri dan tetap menghendaki pertarungan berdarah itu.


“Haha… Adik Lin Tian. Aku semakin menyukaimu. Siapkan waktu sehari. Aku akan menampilkan satu pertunjukan alat musik, begitu juga kamu. Pemenang ditentukan secara terbuka. Yang kalah harus menuruti kata pemenang,“ ujar Kepala Sekolah Qian dengan maksud dan tujuan yang kali ini demikian jelas. Serta sebuah tantangan yang jelas-jelas dia kuasai, namun berharap lawan benar-benar tak berkutik untuk sebuah kepandaian yang tak pernah tampak itu. Dia mesti seribu kali untuk bisa mengalahkannya yang sudah sangat piawai bertanding demikian, serta penguasaan alat music yang sudah dia hafal serta seluk beluknya diketahui secara meyakinkan. Tentu dibandingkan lawan yang masih bocah, serta kemampuan yang paling tidak masih meragukan, dengan tak pernah Nampak kemampuannya baik di televisi, di internet, maupun di youtube - YouTube terdekat kesayangan anda.


“Baiklah,“ ujar Lin Tian. Dia hanya pasrah saja pada rencana kepala sekolah bahenol itu. Bagaimanapun dia belum tahu dan belum pernah memainkan apa yang jadi permainan kali ini. Namun sebagai sesame direktur, dia mesti berani menghadapi segala kemungkian di hadapannya. Dan itu akan dia pertunjukkan nanti. Dengan mengandalkan otak licinnya, juga keberuntungan yang seringkali dia peroleh tiba-tiba.


Dicium. Asik sekali. Sampai-sampai, pipinya memerah.

__ADS_1


“Ini adalah ciuman perjanjian,“ kata Kepala Sekolah yang suka sekali dengan perjanjian dengan akhir yang membuat pipi merah begitu.


“Kenapa tidak mencium lebih lama lagi?“ ujar Lin Tian kecewa. Mestinya sangat lama, jadi dia bisa melayang lebih lama, dengan halusinasi yang semakin membuai pikirannya, juga bunga-bunga asmara terus mengembang dalam sanubarinya.


“Hehehe, Adik Lin Tian aku tunggu pertunjukanmu.“


“Direktur dan kepala sekolah Qian adalah iblis alat musik dalam legenda. Tidak ada orang yang pernah melihat alat musik yang dia mainkan,” kata anak buahnya. Mereka sudah paham akan hal itu. Makanya berharap agar Lin Tian lebih waspada. Dan jangan sampai lea oleh akal bulus orang cantik demikian.


“Benar kita adalah pemain alat musik Er Hu. Dan alat musik pukul yang bisa mengharukan orang banyak juga tidak bisa menampilkan pertunjukan. Aku akan menggunakan cara Qian Duoduo untuk mengalahkan keluarga Qian. Kalau tidak, tidak bisa disebut balas dendam.“


Dua orang ahli musik anak buah lin tian tercengang.


“Qian Duoduo tidak bisa bermain alat musik.“


Keesokan harinya pada sebuah gedung tinggi. Dimulai pertandingan.


Kepala sesekolahan dengan gaun merahnya.


Lin tian menutup mata dengan kain hitam.


Ada percikan api di udara.

__ADS_1


“Menghadapi iblis yang belum jelas, harus paling berbahaya dalam hidup Lin Tian telah tiba.“


__ADS_2