Menjadi Orang Terkaya Mulai Hari Ini

Menjadi Orang Terkaya Mulai Hari Ini
Episode 20


__ADS_3

Sepertinya mengumpulkan tiga terbaik di seluruh website ini. Dua syarat ini bisa dilakukan terpisah.


“Lin Tian jangan bicara sembarangan!“ ujar Guru Chen. “Aku kenapa aku bisa menjadi orang mu?“


“Sekarang bukan, tapi akan segera,“ ujar Lin Tian sembari bersandar pada bu guru Chen.


“Lin tian aku peringatkan kamu!“ kata Guru Chen lagi. “Aku ini gurumu!“


“Guru kita sudah sampai di halte bus mu,“ ujar Lin Tian seraya menghentikan kendaraan besar itu. “Sampai jumpa besok.“


Guru Chen di turunkan di tempat biasa dia menunggu bus. Dan masih terbengong-bengong tentang kejadian yang baru saja terjadi.


“Lin Tian, jangan- jangan dia benar benar suka padaku,“ pikir bu Chen. Dia semakin tak memahami apa yang ada di kepala anak muda itu. Tentang kebaikannya, tentang banyak pengorbanan yang dilakukan nya hanya untuk membantu apa yang dia butuhkan. Dan itu menjadi pemikiran lebih lanjut tentang sebuah hubungan awal dari apa yang disebut menyukai. Kali ini mungkin hanya sebatas itu. Tapi itu sudah cukup membuat seorang wanita memikirkan, betapa semua itu sungguh-sungguh merupakan awal dari kalimat suka. “Tapi kita, kita adalah guru dan murid.” Itu yang mengganjal. Tak baik rasanya seorang guru menerima cinta murid. Karena dari berbagai kasus, hal itu masih dianggap hal tabu oleh sekelompok masyarakat, terutama yang berpikiran jika seorang guru merupakan orang tua sambung dari anak didik nya. Yang tentunya mesti menjaga berbagai batasan-batasan yang dilakukan seorang yang dituakan terhadap anak nya. Walau dalam hal ini murid. Tentu dianggap sebuah hal yang tak wajar. Apalagi dia murid lelakinya. Barangkali kalau guru lelaki akan mudah diterima. Dan masih bisa ditolerir. Tapi ini murid lelaki yang lebih muda dari guru wanitanya. Sungguh jarang terjadi. Atau bahkan tak boleh terjadi.


#


Bus berhenti di rumah bos Tian Feifei.


“Sudah sampai?” tanya Lin Tian.


“Benar tuan muda, apa perlu aku memanggil beberapa orang lagi?“ kata Xiauli yang membawa bus besar tersebut.


“Barangnya sudah siap?“

__ADS_1


Koper siap.


“Ada senapan ini. Apa perlu aku takut mereka berjumlah banyak?“


Lin Tian melewati banyak penjaga dengan santainya. Para anak buah itu demikian menyeramkan. Itu sudah dirasakan kemarin. Dimana dengan keras akan melakukan hal yang diluar batas pada orang nya yang telah melanggar kontrak kerjasama.


Masuk ruang bos. Yang kosong. Meskipun begitu terasa sangat menyeramkan. Tak banyak orang yang berani melewati ruang yang demikian mencekam ini. Apalagi para bintangnya yang sudah melakukan tanda tangan kontrak. Tentu sudah mengkerut jika mesti berhadapan dengan bos itu. Belum lagi perasaan bersalah yang sudah dibawa sebelum masuk dengan melakukan penandatanganan yang telah terlanjur di buat. Itu akan semakin membuat tak nyaman kala mesti memasuki ruangan itu.


“Jangan berpura-pura misterius lagi. Nanti aku masih harus pulang melihat siaran langsung lagi,“ teriak Lin Tian. Sedikit muak dia dengan bos yang tak langsung segera menemuinya.


Bos menoleh.


“Kamu yang menculik artis perusahaan ku, Tian Feifei. Menculik adalah kesalahan yang berat aku akan membuatmu menderita,“ ujar Bos pemilik artis itu sembari memberitahu kalau perbuatan demikian sangat tidak pantas dan terlampau banyak melanggar aturan. Bahkan aturan main dalam dunia hiburan. Bakal kena celaka. Kena pasal, serta menjadi bahan tuntutan nanti di arena persidangan. Atau kalau tak bersedia, maka akan di hajar dengan semena-mena, oleh para anak buah yang jumlahnya banyak itu. Dengan badan yang kekar, serta memiliki kemampuan ilmu bela diri yang mumpuni di bidangnya, tentu akan membuat para pelanggar itu kapok untuk tak menuruti aturan yang sudah dikenakan itu.


“Benar kenapa?“ ujar Lin Tian dengan terus terang. Seakan dia tak takut pada bos besar berikut para anak buahnya yang sudah siap melindungi, atau bahkan membuat remuk redam badan musuh yang berani-beraninya masuk ke sarang macan itu.


Huh…


Lin tian menyusupkan tangan ke balik baju.


“Hati-hati!“


Para pengawal bersiap. Mereka melindungi bos. Siap mempertaruhkan nyawa. Jangan jangan Lin Tian mengeluarkan pistol dari balik baju itu. Akan gawat. Apalagi kalau sampai menembak bos mereka. Tentu menjadi satu hal buruk buat karier mereka. Bos bakalan tak percaya lagi. Maka duit gaji tak akan cair. Juga akan mengesampingkan mereka. Bahkan akan memecat mereka. Jangankan mereka yang hanya penjaga. Artis nya pun mesti tanda tangan kontrak dengan berbagai pertimbangan supaya perusahaan tak merugi. Jika rugi, akan ada tuntutan tentang kontrak tersebut.

__ADS_1


Tang…


Sebuah mainan kepala babi ternyata yang diambil secara aneh oleh Lin Tian. Sebuah benda remeh. Anak-anak banyak yang menyukai hal demikian. Itu mainan anak-anak. Dan tak baik untuk ditakuti. Seperti yang dilakukan dengan ketat pada Bos mereka, akibat kekhawatiran yang berlebihan. Ternyata dia hanya mengeluarkan benda seperti itu.


Semua keheranan. Kenapa musuh yang demikian ditakuti hanya mengeluarkan mainan demikian. Ternyata, itu kunci. Yang dipakai untuk membuka koper senapan.


Isinya,


“Gawat kali ini benar benar senapan!“ teriak anak buahnya. Mereka sudah tak main-main. Musuh yang datang benar-benar membawa senjata api. Ini bencana. Kalau tak lekas dilindungi, maka bos mereka akan segera menderita. Apalagi sudah melihat kemampuan anak muda itu kemarin, sungguh sangat hebat. Maka kali ini untuk melindungi bos mesti dilakukan banyak orang. Sendiri rasanya tak akan mampu mengatasi musuh yang datang itu.


“Awas bos…“


Duk!


Kena tempeleng. Sebuah tangan yang super keras menghantam muka salah seorang bodyguard itu.


Sat…


Xiaoli mengamuk. Tangan dan kakinya langsung berbicara. Tiga anak buah bos itu yang kena dampaknya. Ada yang terkena sodokan dengkul. Yang membuat kepalanya langsung menceng sampai mata terpejam tak merasakan sakit lagi. Yang lain terkena pukul tangan Xiaoli yang lincah bagaikan serigala kelaparan. Dimana musuh tak bisa berbuat banyak.


Berikutnya, Kakinya lincah menginjak bumi. Setelah semua lawan yang menghalang sudah berhasil di taklukkan.


“Ingin mencelakai wanita milikku. Apa kamu tidak mengukur kemampuanmu dulu?“ ujar Lin Tian. Gaya bicaranya seperti orang yang sudah terbiasa dengan dunia begituan. Sehingga main gertak saja dia. Apalagi kali ini benar-benar telah berada di atas angin. Dan itu menjadi senjatanya dalam menggertak bos yang kebangetan terhadap idolanya itu.

__ADS_1


“Terima akibatnya!“ Dibidiknya bos yang mengkerut. Dibidiknya dengan seksama. Pada muka, maka sudah pasti akan kena. Apalagi dalam jarak yang sedemikian dekat.


Klik!


__ADS_2