
“Benar aku bukan hanya pacar dari guru chen. Aku adalah tunangannya,“ kata Lin Tian yang pastinya supaya rugi agar bisa mendapat kembalian dari sistem yang berlipat ganda. Makanya dia bicara tak main-main. Meskipun itu gurunya. Kan tak mengapa. Selagi cantik juga. Serta tak menutup kemungkinan untuk masih bisa saling mengerti.
Guru Chen hanya bisa penuh dengan tanda tanya. Tentu saja dia sangat kebingungan dengan semua ini. Dia tak paham dengan keseriusan murid nya yang tentunya hanya akan berpura-pura supaya ayahnya mengijinkan dia ikut dengan si Lin Tian ini.
“Lin Tian apa yang sedang kamu bicarakan?“ tanya guru Chen terharu. Dia tentu tak bakalan paham. Apalagi urusan demikian yang baru saja dia alami. Sebuah kerugian yang akan memberi banyak untung bagi Lin Tian. Namun dia hanya paham jika anak kecil begitu mau melamar tentunya hanya untuk ain-main, supaya statusnya tak di ejek sama teman-temannya, atau untuk pamer bahwa dia mampu mempunyai istri cantic, di mana teman sebayanya masih sibuk mencari rejeki yang sangat susah itu.
“Demi merugikan uang ini aku harus mengorbankan semuanya,“ kata Lin Tian dalam hati. Makanya dia tak akan kecewa walau harus menikahi guru cantiknya itu. Dia merasa ini akan sangat merugikan sehingga hitung-hitungan nya nanti akan semakin jelas dengan Xiaoqian. Kalau cewek sistem itu nanti main-main dalam menghitung, bisa saja dia akan marah dan memijit cewek itu sampai menjerit.
“Tunangan? Apa kamu sudah melamarnya? Ada cincin. Mobil. Rumah?” tanya sang ayah yang tak yakin dengan anak muda itu. Tak banyak anak semuda dia yang sudah bisa menghasilkan uang. Paling kalaupun ada hanya mengandalkan penghasilan orang tuanya. Bagaimana dengan nasib keluarga mereka kalau nantinya mereka mesti mandiri? Bukankah akan kerepotan sendiri, serta masih bergantung pada orang tuanya. Makanya tak jarang sang orang tua akan membuat resepsi pernikahan secara besar-besaran, salah satunya supaya bisa mendapat uang agar uang tersebut bisa untuk membina rumah tangga muda itu sampai pada masa si suami bisa mencari bekal sendiri demi keluarga tersebut.
“Ayah sebenarnya kami…“
Belum juga usai kata-kata Chen Zillin, Lin Tian sudah memotongnya. “Benar. Sebenarnya kita saling mencintai.“
“Tapi aku menolak!“ ujar sang ayah bersikukuh. Tak semudah itu dia melepaskan anak gadisnya. Dia bukan wanita sembarangan, apalagi murahan. Tentu banyak syarat yang mesti di penuhi oleh calon menantu kalau ingin mendapatkan anak gadis seseorang. Dan kali ini tentu yang sedikit parah. Agar dia benar-benar merasa yakin bakalan mampu menyenangkan hati anaknya. Sebab itu bukan sesaat. Tapi selama hidup. Kalau tak sanggup membahagiakan, maka hidupnya juga akan menderita.
__ADS_1
“Anda tidak perlu khawatir. Aku memiliki 20 rumah. Aku juga memiliki mobil seharga 20 juta,“ jelas Lin Tian mengatakan apa yang dimilikinya. Baik itu segala perusahaan yang di milikinya, serta mobil bus yang biasa dia pakai untuk balapan. Semua itu dia ungkapkan supaya hati ayah bisa luluh, dan percaya dengan kemampuan si muda yang belum apa-apa sudah bisa membahagiakan anak kesayangannya.
“Anak muda zaman sekarang apa begitu, terus terangnya untuk memamerkan kekayaan?“ gumam sang ayah yang tak menyangka demikian banyak kekayaan si Lin Tian ini, dimana pada masa begitu dahulu, dia masih mengandalkan harta orang tuanya. Tapi di depannya itu, Nampak jelas kepongahan si pemuda yang dengan yakin bisa membahagiakan apa keinginan anak perempuan nya ini.
“Selain itu, Aku bisa segera membereskan masalah cincin,“ jelas Lin Tian. Walau sekarang cincin juga banyak jenisnya. Walau kelihatan sama, namun bahan pembuatnya berlainan. Dan itu akan bisa dipakai untuk pernikahan sebagai simbolis saja. Tapi bagi Lin Tian hal itu tentu tak bisa dikatakan mudah. Demi bisa merugi. Maka cincin yang akan dia beli, tentunya yang bernilai jutaan. Agar bisa menyenangkan hati sang istri, terutama pihak perempuan.
“Aih Lin Tian. Aku tahu kamu adalah pengusaha muda bisa memberikan hidup yang baik untuk putriku. Tapi aku hanya memiliki seorang putri saja. Dia adalah yang tercantik di dunia ini. Bagaimana nasibku setelah kamu membawanya pergi? Aku akan kesepian…“ Teriak ayah. Dia menyadari akan kesunyian dalam rumah itu kalau anak yang menemaninya akan diambil orang. Serigala mempunyai liang, dan burung mempunyai sarang, namun dia akan kesepian kala ditinggal semuanya. Bisa terbayangkan nanti, bagaimana merana hidupnya. Tanpa kawan, tak ada hiburan. Paling dia hanya lontang-lantung ke tempat hiburan sendiri, atau menonton film tanpa teman, itu benar-benar menyedihkan.
“Bagaimana kalau aku mencarikan sekretaris untukmu. Untuk mengurus makanan dan lainnya,“ bisik Lin Tian diantara derai air mata ayah. Yang sedih.
“Deal.“
“Jangan pergi dulu. Ada sebuah hal yang sangat penting,“ panggil sang ayah yang akan menyampaikan pesan terakhir sebelum perpisahan itu.
“Ayah silahkan,“ ujar Lin Tian.
__ADS_1
“Sekretaris itu cantik tidak?“ tanya ayah. “Minimal harus secantik gadis ini ya…“
“Pasti, pasti… Bukannya tadi masih bilang kalau putrinya adalah yang tercantik di dunia?“
“Kamu juga pergilah dengannya. Jangan ganggu aku,“ ujar ayah. Nampaknya dia sudah merasa ega. Bakalan mendapat teman yang mau menjaga serta segala urusannya akan di tangani orang tersebut. Jadi dia tak repot.
Keduanya bingung. Pintu di tutup kasar. “Dengan membalikkan tangan, aku bisa untung berlipat ganda. Jika kartu anda dapat menyelamatkanku. Aku akan memakan ponsel ini.“
“Sekarang kita harus bagaimana?“ tanya Guru Chen. “Kita tidak benar- benar akan tinggal bersama kan?“
“Kenapa tidak mungkin?“
Guru Chen kembali bingung. Dia tak yakin dengan harapan palsu yang biasa di buat anak muda jaman sekarang. Pura-pura mau menikah, padahal hanya memanfaatkan agar mendapat warisan atau dana pengembalian dari suatu sistem yang bersedia memberi dia keuntungan supaya di kemudian waktu dapat ganti.
“Ayo Kita pergi membeli cincin dulu,“ ujar Lin Tian. “Melamar. Aku sungguh- sungguh.“
__ADS_1
‘Lin Tian, apa ini hanya perasaanku saja? Kenapa aku merasa Lin Tian sangat jantan,’ ujar Guru Chen dalam hati.
“Hahaha. Aku akan memanfaatkan kesempatan ini untuk meminta dana dari sistem,“ ujar Lin Tian sumringah. Apalagi kalau bukan itu. Tak ada yang bakalan mau memberi dia uang. Hanya dengan kerugian parah yang dia derita, maka akan mendapat pengembalian berkali lipat oleh sistem. Dan itu dengan melamar gurunya. Maka tentu akan semakin rugi.