
Di Grup Tianlin, pada gedung rumah kaca yang sangat tinggi, dimana Lin Tian tinggal sebagai pemilik ruang kantor nya.
“Aduh! Karena bahas soal e-sports, hampir saja aku lupa hari ini ada janji! Lin Tian aku pergi dulu…“ ujar She Chu. Dia langsung saja pergi meninggalkan Lin Tian yang terbengong karena belum usai dalam membicarakan hal penting berkaitan dengan e-sports yang belum mendatangkan keuntungan tersebut.
“Sebentar, berdasarkan pengalamanku ditipu selama beberapa tahun, ada yang aneh pada She Chu. Ada janji dengan orang? Apa jangan - jangan membahas bisnis? Orang kepercayaanku tidak boleh sampai terjatuh seperti ini! Tidak bisa ! Aku mau mengamati Dia secara diam-diam!“ kata Lin Tian yang sudah siap menjalankan tugas negara demi pengintaian semacam intelegen, makanya segala penyamaran juga mesti siap dilakukan. Termasuk mengenakan kacamata hitam, topi hitam, dan kumis palsu hitam. Serta yang paling utama adalah sandal jepit yang keren. Agar tak mencurigakan, serta pengamatan nya sukses.
#
Di taman yang indah, dengan lampu sepasang yang di buat klasik, Nampak langit cerah membiru deng hiasan cahaya mentari yang masih ada serta awan sedikit menggantung, seakan tengah melukis angkasa dengan tinta putih nya. Disitu juga masih terpasang suatu tempat duduk yang untuk kali ini masih kosong. Kursi klasik dari kayu yang demikian asik dan penuh kenangan.
“Ini?“ Lin Tian langsung melancarkan strateginya. Dia terus mengintai siapa yang tengah dikuntit. Di taman itu, pada suatu pepohonan yang Nampak tumbuh subur, dia berusaha ber kamuflase serta mengekor She Chu yang sedang ada kepentingan aneh.
Di sana orang itu rupanya tengah menjalankan aksi nya. Dia tengah berada dalam kerumunan anak-anak dan orang tua. Nampaknya mereka tengah bergembira ria.
…*&Y@#8...
“Ternyata benar, ini adalah seminar? Merekomendasikan produk dari grup Tianlin kepada orang tua dan anak-anak,“ ujar Lin Tian.
“Selanjutnya, acara utama untuk hari ini…“ ujarnya terus saja berbicara keras di tengah seminar.
__ADS_1
“Apa, dia mau menampilkan PPT? Keterlaluan sekali!“
“Eh bukan, ini adalah pertunjukkan wayang kulit,“ ujar Lin Tian yang langsung paham kalau wayang kali ini sangat klasik sekali. Sebuah kisah rakyat yang biasanya menampilkan tokoh pembela kebenaran melawan si jahat yang berakhir dengan kemenangan di pihak yang benar, sehingga nantinya selain menjadi tontonan juga tuntunan bagi orang-orang yang menyukai nya.
Nampak suatu cerita klasik. Wayang kulit yang membentuk gambaran seorang protagonis melawan antagonis yang saling mengeluarkan pedang saktinya untuk saling perang yang dahsyat. Pedang terus berayun, di dalam perkelahian duel antara si tokoh dengan lawan nya. Serta saling menghindar agar pedang tajam tersebut bisa di hindari dan tak merobek kulit. Berikutnya saling mengeluarkan ilmu kesaktian. Dimana masing masing bisa mengeluarkan api yang sangat ganas. Dan saat ilmu itu di keluarkan, maka lawan langsung terkapar terkena sambaran api yang sangat ganas serta bisa saja meruntuhkan bangunan berkubah.
“Ceritanya sudah berakhir, seperti itulah pada akhirnya, dia mendapatkan kemenangan,“ ujar MC She Chu yang berperan sebagai dalang juga.
“Wah! Hebat sekali, apakah ini budaya negara kita?“ ujar Lin Tian sangat senang serta memberi aplaus dengan sangat antusias.
“Tang cuicui, kami persilahkan pemain dibalik layar…“ MC She Chu bicara.
“A… apa kabar semuanya? Te- terima kasih telah menonton…“ ujar Tang Cuicui yang langsung beringsut ke belakang panggung di balik She Chu yang terus berkomentar.
“Yang benar saja. Akhirnya aku menemukan seorang ahli di bidang yang normal,“ ujar Lin Tian senang. Dia telah kagum dengan Tang Cuicui yang pandai main seni pewayangan itu.
“Nilai potensi 8, artinya Tang Cuicui yang sangat hebat ini, masih belum memiliki area untuk menunjukkan kemampuannya,“ gumam Lin Tian.
Sistem menulis dalam layar monitor nya: (harapan untuk menghidupkan kembali wayang kulit sebagai budaya nasional berada ditangan ahli wayang kulit. Bantu dia membuat pertunjukkan wayang kulit dikenal kembali oleh khalayak ramai).
__ADS_1
“Baiklah demi membangkitkan kembali budaya nasional, aku pasti akan membantunya,“ kata intelejen Lin Tian mulai bersemangat dan akan melakukan aksinya mempengaruhi orang-orang demi budaya yang sanggup bersaing dengan hiburan modern.
“Ibu, ibu, lihat kartun itu! Warnanya hitam putih.“ Wayang di kira kartun. Maklum anak kecil belum paham seni tradisional yang sangat bagus dan bisa menjadikan aset bangsa sebagai peninggalan leluhur.
“Heh, apa bagusnya pertunjukkan wayang kulit yang ketinggalan zaman seperti ini? Ayo, bukannya kau mau pulang menonton ultraman?“ tanya Ibu supaya si anak mau segera pulang. Padahal dia mulai suka dan serasa sedikit penasaran dengan hiburan kuno yang pernah Berjaya di era kekaisaran kuno. Setidaknya sebelum budaya modern meracuni semua anak-anak untuk beralih kegemaran pada budaya asing itu.
“Benar! Aku, aku halus menyelamatkan alam semesta. Ultelamen Jelo!“ teriak nya sembari mengeluarkan senjata cahaya yang sangat modern sehingga langsung terbayang dalam angan-angan si bocah sebagai pahlawan super yang bisa menyelamatkan semesta dengan senjata aneh yang di pegang nya kini dengan ujung bola berwarna kuning yang sanggup mengeluarkan cahaya penghancur.
“Kelihatannya aku harus membuat semua orang menerima konsep wayang kulit terlebih dahulu, harus ada terobosannya, bisa menarik anak-anak. Hubungi Tang Cuicui lalu She Chu saja. Aku harus fokus membuat strategi“ ujarnya seraya bersiap menghubungi dua orang itu.
#
“Apa yang akan disukai anak-anak?“
“Bos, bos, benarkah?“ tanya anak kecil dengan dasi merah yang penasaran dengan alat yang di jual si bos sehingga dia penasaran dengan apa kata orang tentang mainan baru yang bisa mengeluarkan senjata cahaya dan sangat sakti.
“Tentu saja, kalau ada alat perubahan wujud, kau bisa berubah menjadi cahaya,“ ujar penjual. Sembari memperlihatkan mainan gaya baru yang sanggup mengeluarkan berbagai keistimewaan sehingga sangat menarik perhatian anak-anak untuk menjadi seperti yang tengah ada dalam khayalannya sebagai pahlawan super yang akan memberantas kejahatan dan menjunjung tinggi keadilan, sehingga para monster jahat bakalan musnah oleh senjata cahaya kuat yang akan membuat musuh hancur lebur tak berbentuk.
“Aku mau, mulai hari ini, aku adalah cahaya.“
__ADS_1
“Semudah itu? Sudah bisa menjual mainan. Kalau tahu sejak awal, untuk apa aku susah payah menjual barang-barang itu,“ kata Lin Tian. “Para penjual mainan memiliki hati yang kotor,“ ujar nya lagi saat melihat si penjual dengan senang hati merenggut uang dari anak kecil yang sangat suka dengan angan nya menjadi cahaya pijar.
#