
“Inti dari musik adalah getaran,“ ujar Kepala Sekolah. Dia paham itu. Getaran yang saling mengalun. Ada yang panjang, ada yang pendek. Gelombang itu menjadikan suara demikian berirama. Sehingga tak selalu datar, namun mengayun-ayun, dan silih berganti guna bisa mengisi rongga-rongga yang mesti terpenuhi.
Duar…
“Suara apa itu? “
Semua terkejut. Bagaimana tidak. Demikian keras. Demikian aneh. Disaat seperti itu tentu akan jadi sebuah pembicaraan dikemudian nya. Sudah tak perduli alunan indah sebuah irama. Namun terhentikan dengan suara yang berbeda dengan kondisi sebelumnya.
“Kepala Sekolah Qian cepat pergi. Disana sepertinya ada getaran skala kecil!“ para anak buahnya merasa khawatir. Jangan-jangan itu memang sebuah gempa yang bisa saja merambat untuk menjangkau tempat mereka. Sebab akan berbahaya. Walau itu berada pada lokasi yang tak di ketinggian,
“Bukan gempa bumi,“ kata Lin Tian. “Itu adalah musik ku.“ Aneh memang. Dikatakan ada gempa karena ada goncangan, tapi disebut musik karena hampir tak ada nada nya. Kalau gempa untungnya tak demikian kuat. Sehingga bangunan-bangunan meskipun bukan bangunan anti gempa, tak akan roboh hanya suara dengan resonansi yang begitu saja.
Menunjuk, pada atap gedung berbentuk kerucut. Bangunan ini Nampak seperti gambaran sebuah gunung. Jadi memiliki kaki, badan dan atap. Kaki sebagai penumpu pada bangunan fisik gedung itu. Dan atap yang membentuk gunungan aslinya. Jadi hanya semacam kerucut saja. Itu yang memungkinkan bangunan ini bisa dibentuk tinggi dengan bagian dasar yang kokoh tak demikian dalam. Hal ini mampu menopang bentukan itu hingga bentuk tertinggi yang mampu di dukung nya itu. Dan dengan demikian, kalau pengeras itu berada pada titik tertinggi tersebut, maka jangkauannya akan sangat luas.
Dung dung dung…
Lalu menunjuk ke sebuah stadion. Seperti biasa sebuah lingkaran yang oval. Bentukan ini juga mampu menampung banyak penonton dengan arah pandangan yang lumayan luas. Hal itu jadi menampung banyak orang, penonton. Karena bentuk demikian selain mengikuti bentuk dasar dari lapangan yang persegi, juga penonton merasa nyaman. Karena sisi terbanyak dari tempat duduk itu berada pada satu tempat yang nyaman. Dan itu berseberangan dengan satu tempat yang kurang nikmat. Meskipun hanya pada satu lokasi saja. Kenyamanan lah yang membuat nilainya berbeda. Seperti naik kendaraan saja, maka akan dipilih suatu temat yang jarang kena sinar matahari. Karena lama kelamaan akan panas juga. Walau selalu terkena angina sepanjang perjalanan itu. Kalau jalan saja sudah demikian panas dan menyengat kulit, apalagi jika berdiam diri dalam waktu lumayan lama, tentu akan semakin terasa panas nya sang surya yang demikian ganas tersebut.
“Ini?“
__ADS_1
Kepala Sekolah kaget.
“Benar insting musikku tidak bagus. Iramanya biasa juga tidak pernah mempelajari musik. Aku hanya punya uang,“ Ujar Lin Tian sembari menjentikkan dua jari .
“Gedung - gedung ini adalah alat musikku,“ kata Lin Tian. “Qian Duoduo keluarlah.“
Lin Tian menyuruh Qian keluar.
Lin Tian mendarat.
“Beruntung ada Qian Duoduo yang mempelajari bangunan. Aku sudah memperhitungkan frekuensi getaran di setiap gedung dan suara yang mereka keluarkan,“ kata Lin Tian sembari merangkul dua Duoduo. Seakan menjadi artis saja yang bisa mendapatkan banyak wanita. Sangat senang dia. Juga bangga bahwa perhitungannya sangat tepat. Diantara gedung-gedung tinggi tersebut, maka suara yang dihasilkan akan menggema dan saling memantul. Itu menambah efek cantik sebagai music hebat.
“Kepala Sekolah Qian, bagaimana menurutmu?“ tanya Lin Tian. Mestinya akan bangga dengan segala hasil yang tercipta secara alami, akibat bangunan - bangunan tersebut sangat kokoh dan hebat, serta mencakar langit. Namun disisi kehebatannya itu ada satu bentuk artistiknya dari sisi suara sehingga menimbulkan satu irama. Music adalah irama. Dan itulah Lin Tian mampu memadukan bentukan kokoh dengan irama yang tersimpan di dalamnya. Dan itu berkat Duoduo yang sangat paham akan arsitek bangunan yang dipelajarinya itu.
Basah…
Sekujur muka Kepala Sekolah basah. Keringat bercucuran. Se jagung-jagung. Demikian deras mengalirnya. Kayak habis bekerja berat.
“Aku penuh keringat dan sangat bahagia. Selain itu aku juga merasa sedih,“ ujar Kepala Sekolah mengungkapkan apa penyebab dia seperti itu. Memang kesedihan seringkali mengeluarkan keringat. Disampingnya air mata yang mesti jatuh membasahi bumi.
__ADS_1
“Sedih? Karena kamu kalah? “ ujar Lin Tian. Pertanyaan yang lumayan menohok. Karena memang biasanya kekalahan itu menyakitkan, sakit lebih sakit. Akibat tak mampu mengungguli musuh nya. Namun itu jadi satu hal yang mestinya memicu semangat untuk selalu berusaha bagaimana cara agar dapat mengalahkan lawan. Ibarat kata menang tanpa mengalahkan, mengalahkan tanpa merendahkan dan menyerang tanpa menyakiti. Inilah hasilnya.
“Tentu saja kalah, tapi setelah mendengar musikmu. Bagaimana aku harus menghadapi musik lainnya nanti? Kamu harus bertanggungjawab,“ kata Kepala Sekolah yang langsung ambruk ke tubuh Lin Tian. Asik asik kalau begini. Tapi bukan itu harapannya. Tentu saja senang. Bagaimana tidak seseorang secantik itu yang bertumpu padanya, dan jadi sandaran hati, pastinya bahagia. Tapi kalau kacau begitu, mana ada enaknya.
“Wanita ini….“ ujar Biluo. Yang melihat semenjak awal. Mulai dari pertarungan aneh, sampai pada kali ini yang juga banyak melakukan gerakan aneh itu.
“Kalau begitu aku akan menyebutkan syaratnya. Aku mau mereka kembali ke keluarga Qian, mendapatkan kembali identitas dan kehormatan mereka.“
“Aku akan melakukannya. Tapi aku juga ada satu syarat,“ ujar Kepala Sekolah Qian menginginkan syarat. Seakan dia enggan untuk melepas begitu saja apa yang sudah menjadi keputusan sebelumnya. Serta enggan menerima kembali si Dua Duoduo itu ke dalam keluarga Qian.
Eh…
Drtt…. Drtt!
Lin Tian kejet - kejet. Strom. Gawat. Kepala sesekolahan Qian itu mengeluarkan ilmu yang seperti belut. Belut Listrik. Dimana bisa menciptakan ribuan volt arus listrik yang demikian kuat. Jangankan manusia, ikan paus saja bisa mati jika terkena sengatan itu. Dan ini hanya seorang Lin Tian si miskin yang hanya punya uang. Tentu saja langsung ambruk. Dimana ambruknya bukan karena getaran cinta, tapi sesuatu yang mengerikan itu. Jadi, Kepala Sekolah enggan memapahnya. Dan kalau perlu dibiarkan saja menggelosor di tanah. Pingsan.
“Bawa mereka kembali ke kediaman Qian. Aku memiliki rencana sendiri,“ ucap Kepala Sekolah yang cantik tapi penuh rencana. Cantik – cantik berhati busuk.
Lin Tian dipapah anak buah Qian. Menuju ke ruangan penuh rencana itu.
__ADS_1