Menjadi Orang Terkaya Mulai Hari Ini

Menjadi Orang Terkaya Mulai Hari Ini
Episode 123


__ADS_3

“Lin Tian mau dengan kabar baik tidak?“ ujar Cao Biluo seraya menunjukkan kertas putih.


“Kabar baik apa, jelas-jelas sedang menusukku dari belakang,“ ujar Lin Tian yang tengah galau. Demikian sakit rasanya di tusuk dari belakang sungguh suatu hal yang memilukan, bahkan tak cukup hanya dengan menutup muka semata.


“Kita sudah menjadi juara pertandingan skala kota. Kita lolos ke pertandingan skala berikutnya,“ jelas Cao.


“Aku sudah tahu dari awal kalau kontrak sponsornya sudah datang,“ ujar Lin Tian dingin.


“Huh tidak menarik, aku berlatih dulu,“ kata Cao Biluo berlalu dengan kecewa.


“Eh sponsor - sponsor ini, jika digabungkan… dipikir-pikir aku juga masih merugi,“ ujar Lin Tian berbinar-binar.


“Kesempatan yang sangat langka. Cepat Xiao Qian.”


Xiao Qian dating dengan sangat cepat. Rambut birunya melambai-lambai dengan indah seiring kecepatan yang dia kerahkan.


“Melakukan perhitungan,“ ujar Lin Tian sembari memanggil sistem.

__ADS_1


Xiao Qian melaksanakan apa yang di perintahkan padanya. Dia dengan cepat melakukan perhitungan untung rugi.


“Perhitungan minggu ini telah selesai, totalnya merugi 600 ribu yuan. Menurut rasio untung dan rugi, aset pribadi meningkat 60 juta yuan,“ kata Xiao Qian.


“Ah bagus sekali. Aku Lin Tian, ini pertama kalinya. Aku berhasil merugi,“ teriak Lin Tian dengan sangat puas akan kinerja yang dia lakukan selama ini. Akhirnya bisa mendapatkan harta yang paling berharga. Yaitu kerugian. Sampai-sampai dia tak bisa membendung air mata bahagianya.


“Anda jangan bersedih karena kerugian kali ini. Sistem akan memberimu hadiah pemberi semangat,“ ujar Xiao Qian dengan halus. Dia juga paham akan artinya kekecewaan. Bukan berarti kerugian adalah akhir dari segalanya. Masih ad acara utuk bangkit. Makanya dengan uang dari sistem nanti sebisa mungkin akan dapat memulihkan rasa percaya diri itu.


“Memberi uang dan hadiah. Aku cinta padamu Xiao Qian!“ Lin Tian sangat senang.


“Karena aku sudah punya uang tentu saja aku akan membelikan rumah untuk ayah ibu dulu,“ kata Lin Tian yang ingin berbakti kepada ayah bunda nya sehingga harta yang sangat banyak itu bakalan dia pergunakan semaksimal mungkin untuk kesejahteraan bersama keluarga. Sebab harta yang paling berharga adalah keluarga. Jadi kalau keluarga senang sudah merupakan istana yang tiada tara.


#


“Anakku, kenapa kamu tiba-tiba mau naik gunung. Ayah dan ibu tidak pernah berbuat salah padamu,“ ujar Ayah yang tak mengira kalau anak nya yang sangat dikasihinya itu membawa ke tempat yang sangat sepi begini. Bukankah kalau ada masalah bisa dibicarakan baik-baik. Dan jika ada hal yang kurang berkenan nanti akan dipikirkan bersama sebagai satu keluarga yang saling mengerti dan memahami. Tentunya hal paling rumit sekalipun bakalan di tanggung bersama.


“Ssh…. perusahaan ku telah mendapat untung banyak, aku akan membawa kalian membeli rumah. Tapi kita tidak boleh terlalu mencolok,“ ujar Lin Tian dengan kumisnya yang aneh sehingga Nampak sekali kalau tengah menyamar. “60 juta ku apa berasal dari angin bertiup?“

__ADS_1


“Sepertinya benar,“ kata Xiao Qian.


“Sembarangan. 60 juta ini adalah kerugian yang aku dapatkan sedikit demi sedikit. Kamu tidak tahu susahnya menghamburkan uang,“ ujar Lin tian yang hanya pakai kaos lekton, dia sangat bangga akan hasil jerih payah nya yang telah dia capai selama ini. Sehingga bakalan membelikan ayah ibu sesuatu yang berguna di masa tua nya. Yaitu rumah di kesunyian. Seperti yang diidam-idamkan selama ini. Sudah sunyi, jauh dari keramaian, serta berada di tempat paling terpencil. Serta murah meriah. Itu bakalan membuat terkesan seumur hidup yang tinggal sedikit di masa tua itu.


“Suamiku, menurutmu apa Lin Tian terlalu sibuk berbisnis, sampai jadi bodoh begitu?“ ujar Ibu yang merasa iba dengan kondisi anaknya yang sudah kumisnya begitu, pakaiannya hanya pakai sinlet. Juga celana pendek. Sangat dramatis sekali kondisinya. Juga tengah membawa mereka ke harta yang aneh. Sunyi, sepi, dan berada di gunung yang tentunya penuh dengan semak belukar.


“Aih kita sudah menyusahkan nya. Tidak bisa, lebih baik aku menggantikannya menjadi direktur,“ ujar ayah yang turut prihatin akan kondisi sang anak yang begitu kacau sekarang. Bagaimana mendapat uang kalau rugi saja sampai 600 juta, serta pakaiannya demikian. Makanya tidak salah jika anak itu kali ini bertambah parah keadaannya. Bahkan hendak membelikan rumah, tentu sangat sulit. Makanya lebih baik dia yang menggantikan pekerjaan anaknya itu. Kalaupun dia yang capek kan sudah resiko sebagai orang tua.


“Kenapa ayah dan anak sama saja? Merasa dirinya nomor satu di dunia?“ ujar ibu yang keheranan pada watak kedua ayah beranak itu yang sama saja. Biasanya memang demikian. Kalau ayahnya tak suka mandi sore, maka anaknya juga berlaku demikian. Jika ayahnya seharian sukanya tidur, tak heran anaknya menurun. Juga bila ayah perokok, maka anaknya batuk kena asap. Itu sudah menjadi kebiasaan yang turun temurun. Karena buah jatuh tak akan jauh dari pohon nya.


“Xiao Tian sebenarnya rumah apa yang kamu belikan untuk kami, kenapa terpencil begini?“ dapat dibayangkan dengan situasi begitu. Apa mewahnya. Makanya penuh tanda tanya. Mau di bawa kemana hubungan itu nantinya. Jika terlalu sunyi sepi sendiri. Mau minta tolong juga tak ada orang. Mau memberi jajan, tetangga tak ada. Bahkan bila ingin selamatan karena mendapat tanah luas yang penuh dengan pepohonan, rumput liar, taka da yang diundang.


“Memang terpencil tapi murah. Bukannya kalian ingin rumah yang murah dan sederhana?“ kata Lin Tian memberi apa keinginan orang tuanya yang sangat bermanfaat di hari tuanya itu.


“Kami ingin rumah bobrok saja. Nanti biar aku sendiri yang merenovasi nya,“ kata sang ayah daripada rumah baru tapi baru membuat di tempat sunyi begini pula. Mungkin memang lebih baik rumah bobrok tapi di tempat yang sedikit ramai. Sehingga kalau ada apa-apa bisa minta tolong pada orang dan tetangga. Serta jika punya makanan banyak bisa dibagikan ke mereka, daripada hanya dikasihkan ke ayam atau macan hutan liar dan sama siluman ular penghuni belantara yang belum tentu mau berterima kasih.


“Kita sudah sampai di tempat yang aku sukai. Gunung dan danau ini semuanya sudah aku beli. Harganya hanya 50 juta yuan. Ingin membangun rumah yang bagaimana terserah kalian,“ kata Lin Tian seraya memamerkan kekayaannya yang begitu luas.

__ADS_1


#


__ADS_2