Menjadi Orang Terkaya Mulai Hari Ini

Menjadi Orang Terkaya Mulai Hari Ini
Episode 131


__ADS_3

Gedung lowongan pekerjaan. Gedung yang sangat megah. Berdiri diantara gedung lain yang juga lebih megah dan tinggi, pencakar langit. Sangat diminati banyak orang. Karena itulah tumpuan terakhir dimana usaha sendiri mencari maupun mengadakan pekerjaan sudah tak sanggup. Makanya disini akan dating sembari membawa kartu kerja, maupun hanya datang membawa amplop. Pekerja banyak, namun pekerjaan tak ada.


“Siapa ribut – ribut! Mengganggu tidurku saja!” Bentak Li yang tengah bersantai di kursi malas. Sembari memangku kucing gendut. Tengah asik dia memanjakan diri.


Dia lalu membuka mata dan sangat senang. Seraya memandang remaja yang datang. “Wah bukankah kamu Lin Tian? Akhirnya kamu datang. Cepat pilih beberapa kerja paruh waktu. Kami sekarang banyak lowongan, tapi tidak ada pekerjaan.“


“Huh… Aku tidak enak membicarakannya. Aku datang untuk menghamburkan uang,“ kata Lin Tian yang langsung meloncati kucing gendut.


“Anak muda apa kamu sakit?“ tanya Li sembari menggunakan alat pengukur suhu. Siapa tahu suhunya sangat tinggi. Atau mau meledak gara gara kebanyakan berkhayal. Dan bisa jadi terdeteksi suatu masalah di pikiran nya yang terganggu.


Tiba-tiba pintu ruangan terbuka. Kepala Sekolah yang botak dengan rambut tipis dan gemuk masuk sembari tersenyum. Dia Nampak rapi sekali. Memakai jas coklat dengan dasi biru yang sangat serasi. Menutupi kekurangan fisik nya dengan balutan pakaian yang adi busana luhur itu.


“Ketulusan hati Lin Tian adalah panutan para mahasiswa lainnya,“ ujar Kepala Sekolah memuji Lin Tian yang sudah cakep, banyak uang, serta sering membantu sesame. Makanya sebagai kepala sekolah sangat bangga pada siswa yang berjiwa besar demikian.


“Kepala sekolah kenapa anda kemari?“ tanya Li seakan tak nyaman. Apalagi dia dalam kondisi demikian. Sedang asik santai, sedang menimang anak kucing nya, serta memakai baju teramat santai. Hanya pakai kaos dalam dengan rambut yang awut-awutan macam anak jamet.


“Lin Tian baru saja menghubungiku. Aku dan sekolah akan menyelenggarakan sebuah acara amal masyarakat,“ ujar kepala sekolah yang senang jika ada mahasiswa nya yang sedang asik main rugi besar-besaran. Sehingga nanti dalam acara amal tentunya tak main irit kala mesti ada bagian yang membutuhkan dana besar.


“Ha amal, kenapa sampai kemari?“ tanya Li. Perasaan dia tak ingin ber amal, bahkan untuk yang di pakai amal juga belum ada. Lagipula bajunya masih demikian. Mana mungkin bisa main amal kalau dia juga butuh amal.

__ADS_1


“Aku bukannya mencari tempatmu. Tapi aku mencari anda,“ ujar Lin Tian dengan hati-hati. Supaya orang yang tak pernah ber amal pun tak akan tersinggung jika ada suatu hal yang hubungannya dengan amal beramal itu.


“Aku… Aku hanya penjaga pintu saja. Apa yang bisa aku lakukan?“ tanya Li semakin kebingungan.


“Memelihara kucing,“ ujar Lin Tian.


Li semakin tak paham.


“Benar sekali, acara amal kali ini adalah memelihara kucing,“ ujar Kepala Sekolah.


“Aku tidak pernah bertemu orang yang lebih ahli memelihara kucing darimu,” kata Lin Tian. Dalam hati dia bergumam, ‘Dalam hal memelihara kucing, siapa yang menghamburkan uang lebih banyak dari pada tuan.’


“Pokoknya anda adalah penanggungjawab,“ kata Lin Tian mempercayakan sepenuhnya tanggung jawab aan binatang manis itu pada Li. “Aku pergi dulu mencarikan mu petugas pembersih kotoran kucing,“ katanya lagi dengan di dukung oleh kepala sekolah.


#


Lin Tian lalu keluar dan berjalan-jalan sembari mencari target-target yang sangat kompeten di bidangnya supaya bisa merugikan uang perusahaan.


“Target 1, Jia. Yang sedang menggoda kucing di pinggir jalan,” kata Lin Tian langsung nemu saja orang yang demikian. Rupanya lebih mudah mencari orang kacau yang sanggup merugi dibandingkan orang berkualitas yang hanya pandai memberi untung sedikit. Walau begitu kalau menemukan orang yang tak berguna, tentunya cara mendidiknya nanti ekstra keras sehingga pengalaman dan hasil yang dicapai pasti dianggap lebih besar daripada mendidik anak manis penurut yang mudah di didik. Inilah tantangan dari seorang yang berjiwa besar.

__ADS_1


“Hai apa kamu bersedia menjadi petugas pembersih kotoran?“ tanya Lin Tian yang sedikit sekali rasa sopan santunnya. Masa orang disuruh tugas begitu. Pembersihan saja sudah ngeri apalagi di tambah kotoran. Mana ada orang yang mau kalau begitu.


“Petugas pembersih kotoran? Kamu sakit ya!“ ujar anak itu dengan sangat sinis.


“Aku punya banyak uang lo,“ kata Bos Lin yang tengah memamerkan harta kekayaan nya yang sangat banyak. Walau dia hanya pakai kaos hijau putih dengan jaket sweater tipis namun dia bos dari perusahaan Tianlin yang dananya tak habis tujuh turunan. Itu yang kali ini di pamerkan sama orang pengangguran yang gemarnya hanya bermain-main dengan kucing liar di jalanan. Uang itu nantinya tentu bakalan sangat berguna buat pengangguran agar bisa memanfaatkan nya menjadi suatu pekerjaan yang mampu mencukupi kebutuhan hidupnya dengan tidak merepotkan orang lain lagi.


“Penipu! Apa ini adalah modus baru,“ ujarnya semakin muak dengan orang-orang macam itu. Yang katanya punya uang banyak, tapi hutangnya juga tak sedikit. Hartanya berlimpah, namun kenyataannya dia hanya meminta sama orang tua.


“Apa kamu pernah melihat penipu memiliki tim?“ kata Lin Tian. Dia menunjukan tas besarnya, untuk bisa dibagi dengan orang tersebut serta bersedia bekerja sama untuk saling membantu menyelesaikan urusan yang sebenarnya ringan tapi dianggap tak ringan.


“Aku rasa, mendapatkan kebebasan finansial dengan menjadi petugas pembersih kotoran cukup menjanjikan juga,“ ujar Lin Tian seraya menunjukan hartanya dalam tas hijau dengan uang Yuan yang berlipat-lipat jumlahnya, terbagi dalam beberapa ikatan uang kertas warna merah.


“Selain itu ini adalah biaya kontrak. Nanti masih ada bonus komisi. Komisi tahunan,“ ujar Lin Tian terus saja membujuk. Siapa tahu orang demikian sangat sulit di ajak. Sehingga mesti ada upaya keras guna meraih itu.


“Aku rasa benar yang kamu katakan. Uang sebanyak ini, jangankan petugas kebersihan, makan kotoran pun aku bersedia,“ ujar si kaos oranye dengan sangat bersuka langsung mendapat pekerjaan dengan tunjangan yang demikian besar. “Berapa yang kamu punya, aku akan makan berapa?“


“Yang aku maksud adalah kucing, bersihkan kotoran kucingku,“ kata Lin Tian yang keheranan melihat orang yang semenjak awal diajak berdiskusi ternyata sampai sejauh itu tak ada kepikiran sama sekali.


“Memberikan imbalan sebesar ini hanya untuk membersihkan kotoran kucing, orang ini apa sudah gila?“ ujarnya keheranan. Karena setahu dia kotoran kucing hanya di lempar ke sungai saja sudah cukup. Atau cukup di timbun pasir. Ini malah mengupah orang untuk melakukan hal ini. Siapa yang tak curiga.

__ADS_1


__ADS_2