Menjadi Orang Terkaya Mulai Hari Ini

Menjadi Orang Terkaya Mulai Hari Ini
Episode 148


__ADS_3

Duk!


Pintu ditendang. Daun nya. Dengan sepatu keren. Tanpa basa-basi, bicara sana bicara sini. Menganggap siapa yang ada dalam ruangan seakan bekas teman nya saja, yang pernah sama-sama Bengal di SMP dulu.


Lin Tian dan Bu’er, temen nya yang saling berangkulan terkesiap. Serta merta menatap siapa yang kurang aturan berani-berani nya masuk ke kamar mereka.


“Dua orang bodoh,” ujar Zhao, teman Lin Tian si baju kuning mengumpat.


“Hahaha, ternyata kamu Zhao Tianba.” Pada senang dengan kedatangan manusia aneh itu. Si Lin Tian sampai mengucek- kucek rambut nya hingga berantakan. Buer, rekan satunya lagi menusuk-nusuk rompi si Bengal itu dengan penuh kekuatan. Semua senang begitu melihat rekan lama saling kumpul.


“Dia mencari kita untuk membuat animasi, percaya tidak.“


“Mencari kita kamu terlalu banyak uang dan tidak tahu harus membuangnya kemana ya?“ ujar Zhao Tianba.


“Kenapa aku bisa tahu kamu memang selalu memahami ku. “


#


Mereka duduk bersama. Dalam suasana yang menegangkan, walaupun kawan lama dan dahulu pernah malang melintang menghiasi kelas SMP yang sangat mengesankan itu. Dimana pernah nakal bersama, pernah membuat kasus yang paling spektakuler, serta pernah memberi berbagai alasan yang sangat tak bisa diterima akal sehat.

__ADS_1


“Pertama-tama, aku ingin tahu, pekerjaan kalian sekarang apa?“ tanya Lin Tian. Seakan hendak menawari pekerjaan jika si teman itu tak punya kerjaan. Padahal dia sendiri lagi butuh uang.


“Aku memahat patung,“ ujar Buer sembari membayangkan patung dunia yang dia jiplak. Diantara nya dewa-dewa Roma dan Julius Caesar. Serta berbagai patung hasil karya sendiri yang tentu saja disesuaikan dengan gambar-gambar yang pernah dia buat di sudut buku pelajaran dahulu yang sampai kini belum terhapus. Tentunya itu buku pribadi, sebab kalau buku milik sekolah bakalan di harus kan mengganti nya.


“Merancang patung untuk beberapa komunitas.“


“Pernah mendapat beberapa penghargaan kecil.“


“Oh, oh, walaupun berkaitan dengan desain tapi bagus juga,“ kata Lin Tian memuji penghargaan Bu’er yang sangat banyak. Kura-kura, Lion, itu yang dihasilkan, sehingga mendapat penghargaan. Memang sangat bagus. Tak disangka untuk sekolah sebesar itu di kota yang hanya demikian, namun bisa membentuk karakter siswanya menjadi satu hal yang sedikit berbeda dari awal mereka beranjak dengan kenakalan yang di luar nalar.


“Itu upahku, mungkin akan sedikit mahal,“ kata sang ahli yang tak tega kalau mau menyebutkan nominal seperti yang biasa dia dapat saat nego dengan para pemesan. Setidaknya untuk harga kawan, kali ini, dia mesti mengungkapkan jika dia pernah dibayar yang sangat mahal. Makanya supaya tak memberatkan kawan lama, dia bicara soal mahal tidak nya.


“Sss… apa kau pihak pertama, kamu menyamar ya?“ kata Bu’er. Dia memang sedikit keheranan dengan kawan lama nya ini. Mau berbaik hati atau sedikit menyepelekan kinerja nya. Walau dari kota kecil, tentunya bukan berarti dia tak piawai membuat benda yang jadi pesanan mereka.


“Deal.“


Keduanya setuju.


“Aku memang adalah penulis skenario, dan naskah ku cukup bagus,“ kata Zhao Tianba. Tanpa bermaksud mengunggulkan diri. Namun itulah yang pernah dia dapatkan. Sehingga layak untuk dibayar mahal.

__ADS_1


‘Gawat, tak disangka, dia benar-benar adalah penulis scenario,’ ujar Lin Tian mulai panik, saat mengetahui siapa sebenarnya rekan yang ada di depan nya. Sangat beda jauh dengan suasana dahulu kala. Dia kini sangat jago. Jagoan dari sekolah yang sama dan berada pada situasi yang dahulu sulit. Sekolah hanya pakai kaos, sandal jepit, yang kusam tentunya. Jangankan sekolah, naik motor saja kalau pakai sandal itu bakalan kena razia. Ini malahan di sekolah yang wajib tertib. Maklum orang tak berpunya.


“Tapi tahun lalu, karena aku memaki penonton dan penulis lain nya, aku di boikot,“ ujar Zhao sembari ngupil. Maklum jiwa nakal saat sekolah dulu ternyata masih tersisa sampai di usia dewasa yang sekarang. Itulah buruk nya kalau punya perangai dasar yang tak bagus. Sampai tua pun kelakuan ini bakalan kembali terulang serta tak bakalan sirna sama sekali, walau sudah sekian tahun bersekolah serta mempelajari apa yang di ajarkan pada sekolah tentang moral serta berbagai perilaku indah lain nya. Tahu-tahu muncul saja. Dan mengerikan lagi jika itu terjadi pada saat yang tengah diperlukan. Itu bakalan jadi bumerang buat diri sendiri.


“Eh berbakat. Kamu adalah orang berbakat yang aku butuhkan,“ ujar Lin Tian senang. Kekhawatiran nya sudah tak beralasan lagi. Pilihannya sangat tepat untuk bisa terus merugi. ‘Kenapa sebelum nya aku tidak terpikir kan untuk mencari seorang staf yang dibenci orang-orang lain.’


“Bagus sekali. Untuk mu aku membuka harga 100 yuan.“


“100 yuan untuk 100 huruf. Jujur terlalu rendah. Tapi aku tidak ada pilihan lain,“ kata Zhao Tianba.


“Bukan, bukan, maksud ku 100 yuan setiap huruf. Tanda baca partikel modal dan setiap spasi semuanya di hitung,“ ujar Lin Tian, tak enak dengan kawan lama yang punya harga teman. Makanya, dia berusaha mengeluarkan dana banyak agar semakin mangkel juga nanti si sistem nya itu.


“Bahkan nama yang kamu kutip akan dihitung juga,“ jelas Lin Tian dengan gamblang dan supaya semakin banyak saja dia menderita kerugian.


Membuat zhao terperangah. Ada yang berembug begitu. Ini orang apa tukang rugi. Kenapa bisa se-sadis itu dalam berhitung.


“Zhao Tianba, silahkan tanda tangan,“ ujar Lin Tian mengeluarkan surat kontrak, tentunya dengan minimal nilai 3 bukan nya 1.


“Tidak, namaku sekarang bukan Zhao Tianba,” ujar Zhao sembari menarik nafas dalam. “Namaku adalah ‘tiga anak panah kati menghancurkan hutan hijau, mengatur alam semesta dalam satu hentakan kepala, mulut emas menguasai dunia, orang pertama di dunia, sungai Yangtze akan jatuh selama delapan ratus mil dan anak panah emas akan memenangkan kemenangan tangan suci Kunlun di Sichuan, kuda berada di kedua sisi sungai Kuning dan mereka mengalahkan seratus delapan kabupaten di enam provinsi Shandong, berteman seperti Mengchan, berbakti ibu bersaing untuk semua pena ajaib, tidak terkalahkan, Zhao ba, Zhao Tianba’.” Uraian Zhao Tianba panjang lebar menyebut segala gelar yang dia sandang.

__ADS_1


__ADS_2