
Si pengacau terkapar. Sekopnya melayang. Pantas dia begitu. Walau dia seorang mafia tetap saja bisa ketakutan. Meski begitu kegiatannya yang merupakan awal dari mengacau suasana dianggap berhasil. Sehingga setelahnya nanti dia bisa mendapatkan free dari bos mafia nya yang lumayan banyak.
“Kamu yang membuat onar?“ tanya Lin Tian.
“Kenapa? Tahu tidak siapa bos kita?“ ujarnya seakan bos dia ini adalah penguasa daerah situ yang tak pernah terkalahkan. Atau pernah namun berhasil bangkit kembali. Makanya dia keheranan kala ada orang yang demikian. Dan tak pernah mengenal dunia gelap yang menyeret banyak orang untuk berbuat kasar.
Mengambil sekop. Mengancam. Lin Tian geram. Dia tak perduli kalau bos nya itu sang penguasa daerah tersebut. Atau tak terkalahkan. Atau bahkan tak bisa mati. Yang jelas kali ini dia menguasai pembangunan proyek yang akan dijadikan markasnya untuk usaha membangun bisnis yang halal. “Siapapun dia aku tidak peduli.“
“Sejak kapan kak Shanya tidak dihargai?“ justru anak buahnya tercengang. Ini berarti anak itu tak mengenal siapa bos nya. Dan itu bakalan berbahaya. Bos marah. Dia yang maju. Lalu dipukuli lagi hingga bonyok. Tapi musuh bisa jadi langsung di keroyok, dan menjadi memar-memar sebelum kapok. Atau kapok dulu menyesal kemudian. Dan itu taka da arti. Karena bos nya bisa saja kejam. Lalu menggunakan berbagai cara untuk membuat musuh takluk.
Datang orangnya. Shanya dan si besar. Lin Tian dkk terperanjat. Ternyata mereka benar-benar gerombolan yang sangat menyeramkan. Bisa jadi malapetaka ini.
“Lama tidak berjumpa, rupanya kamulah kak Shanya yang mau menindas ku,“ ujar Lin Tian mencoba ramah. Kenal dia. Sebelumnya sudah saling menyapa kelihatannya.
“Kamu… kenapa kamu lagi? “ ujar Shanya bergetar. Dia juga paham pada pemuda satu ini yang seringkali mengacau pada apa yang sudah dia lakukan. Kecenderungan untuk berjalan di jalur gelap, membuat dia selalu berurusan dengan penegak kebenaran. Dan salah satunya pemuda ini, dia yang selalu mengacau kehidupan itu. Serta kabar tentang satu kegiatan yang memporak-porandakan musuh membuat dia semakin terkenal. Walau tak semuanya. Nyatanya anak buahnya banyak yang tak paham akan kehebatan pemuda yang mengaku bos itu.
“Apa, Shanya milikmu yang tidak mampu melawan? Atau aku Lin Tian yang tidak bisa menggerakkan sekop?“ ujar Lin Tian dengan senjata di tangan yang siap menghancurkan musuh yang hendak melawan sepak terjangnya. Kali ini bukan main-main lagi. Bakalan dia hajar musuh.
“Siapa kamu? Apa kamu punya hak berbicara dengan kak Shanya.“ Geram si tukang pukul. Mangkel dia. Punya bos tapi tak dihargai. Untuk bisa menghargainya maka dia mesti berbuat sesuatu yang sangat berbahaya bagi si Lin Tian. Anak begitu apa susahnya menjatuhkannya. Tentu sudah banyak musuh yang merasakan kekuatannya. Sehingga kak Shanya salah satu bos hebat di dunia mafia, mengandalkannya menjadi tangan kanan. Dan itu sudah berlangsung lama. Sehingga daerah situ banyak yang sudah takluk padanya, serta mengakui keunggulannya untuk berkuasa di situ.
“Sepertinya kamu juga mengikuti kak Shanya ini ya?“ tanya Lin Tian. Semakin berat saja musuh kali ini. Shanya saja sudah kuat. Ditambah lagi orang ini yang badan serta kekuatannya tentu tak diragukan lagi. Sebagai tukang pukul akan mengerikan. Melihat mukanya saja orang-orang sudah segan. Apalagi kalau merasakan kepalan tangannya yang segede Gaban. Bakalan meleleh air mata selama satu purnama tak henti-henti kalau itu terjadi. Yang jelas memang sangat mengerikan. Lebih baik tak usah berurusan dengan mereka kalau tak ingin sesuatu yang buruk itu benar-benar tercipta. Dan kali ini nampaknya bakalan terjadi pada orang kaya baru bernama Lin Tian itu akibat berani menantang maut bersama si kuat.
__ADS_1
“Tentu saja, di daerah ini siapa yang tidak takut padaku.“
Pak …
Di tampar helm, namun ada kepalanya.
“Siapa yang berani memukulku? Sudah bosan hidup ya!“
Dia marah. Bakalan menghantam siapa saja dia yang berani main hantam begitu. Ini sudah marah. Dunia tahu itu. Apalagi kalau tak tertahankan emosinya, o bakalan kiamat dunia ini.
“Ibu kenapa kamu datang kemari?“ ujarnya takut. Ya maklum bagaimana tidak takut kalau yang dating adalah orang yang sudah membesarkannya, memberi kehidupan dari air susunya, juga merawatnya hingga sebesar kingkong begini. Takut adalah hal yang lumrah, belum lagi kalau tak dapat berkat, maka akan kacau.
“Dasar bocah. Beraninya bicara aku bosan hidup yang benar aku atau kamu yang bosan hidup! “
“Siapa yang tidak takut padamu. Aku, ibumu ini takut pada mu. Ku pukul kau sampai mati!“ ujar ibunya sembari membentak-bentak dan tangannya terus berbuat sesuatu, hingga membuat kepalanya menjadi semakin peang saja.
“Ibu aku salah,“ ucap jujur sang anak. Dia sangat takut pada kemarahan ibu. Ngeri kalau main kutuk dan dirubah jadi batu. Maka akan bertambah sengsara dia. Untuk kemudian tak bisa lembek kembali.
“Anak muda untung ada kamu yang menjemput ku, kalau tidak anak ini akan membuat kesalahan besar,” ujar sang ibu dengan penuh rasa terima kasih. Sebab lebih baik mendapati anaknya berbuat benar, daripada jadi orang sukses, namun hidupnya keliru. Yang hanya akan menanggung beban dosa demikian berat. Dan seorang ibu merasa bersyukur untuk pengorbanannya mengandung selama Sembilan bulan dan melihat anaknya baik-baik saja daripada mendapati kemalangan besar akibat melanggar norma kehidupan.
“Tidak masalah membantu orang adalah kegemaran ku,“ ujar Lin Tian sedikit bangga pada apa yang baru saja dilakukannya. Sebuah keuntungan kayaknya. Sudah membantu orang tua, serta bisa menyelamatkan proyeknya.
__ADS_1
“Sekarang saatnya kita berbincang,“ kata Lin Tian sekarang ditujukan pada Shanya.
“Ini aku juga disuruh oleh orang,“ kata Shanya pucat. “Aku akan pergi sekarang.“
“Sekarang aku juga mau minta tolong padamu. Beritahu aku informasi mengenai majikan mu. Kemudian bantu aku melakukan satu hal,“ kata Lin Tian.
“Tapi ada peraturannya, aku tidak boleh seperti ini untukmu,“ ujar Shanya.
Duit satu kresek dikeluarkan oleh Lin Tian. Sekarang saatnya dunia sogok menyogok berjalan. Terkadang satu perkara ini bisa membuat luluh. Dan sistem memahaminya untuk membantu bos lin Tian.
“Jika seperti ini sepertinya tidak terlalu baik,“ ujar Shanya yang tak mengerti jika uang segitu tak cukup untuk mengembalikan reputasi. Bahkan uang dari yang menyuruh sepertinya lebih banyak, dimana
“Ini…“
Dua kantong.
“Jiang Hao orangnya. Berani mengganggu Direktur Lin, dasar gila,“ ujar Shanya begitu melihat betapa uang tuan Lin Tian ini begitu banyak, sehingga tidak segan-segan memberi dua kantong penuh uang.
“Mm… bagus sekali, lagi pula mafia juga industri jasa kami.“
“Kamu memiliki relasi.“
__ADS_1
……
Wiwiwiwiwisssss……