Menjadi Orang Terkaya Mulai Hari Ini

Menjadi Orang Terkaya Mulai Hari Ini
Episode 209


__ADS_3

Di kamar Lin Tian pada suatu tempat yang bertingkat.


Nanana…


La La La…


Bunyi alarm…


“Pagi - pagi begini, siapa yang menggangguku tidur?” ujar Lin Tian sembari menjangkau HP nya yang lupa di taruh dengan benar buat main semalaman sehingga tergeletak begitu saja di sampingnya.


Di lihatnya layar HP tersebut dengan ogah-ogahan. Sebal sekali dia dengan kondisi HP itu.


Waktu menunjukkan pukul 07:30.


Alarm sekolah terus berbunyi. ‘Ingatkan lagi nanti.’


Sekarang berawan, suhu tertinggi 24.


Malam ini berawan, suhu terendah 18.


Berawan 23 derajat, matikan.


Lalu Lin Tian menggunakan jurus ‘Ikan mas tegak berdiri’.


“Gawat, aku lupa kalau aku masih seorang siswa,” ujar Lin Tian berteriak ngeri. Keadaan demikian yang belum sempurna dalam tidur nya. Sehingga mesti berangkat cepat-cepat. Sementara dia belum berpakaian benar, serta belum siap.

__ADS_1


“Gawat, gawat… Sepertinya aku juga harus berpidato untuk pembukaan sekolah. Sama sekali tidak ada persiapan,“ ujar Lin Tian yang langsung menuju ke pintu untuk terus beraktifitas dengan terburu-buru.


Dengan cepat dia membuka pintu. Tapi ada yang aneh. Nampak si cantik Xueqing juga tengah menghadap pintu yang sama.


Eh….


Lin Tian tercengang.


“Lin Tian! Bukankah hari ini kita sudah berjanji untuk pergi ke sekolah bersama, aku sudah menunggumu di bawah selama setengah jam,” ujar Xueqing mangkel.


“Aku lupa,” ujar Lin Tian sembari menggaruk kepala nya.


“Kamu? Lupa… Sebelumnya apa yang kamu katakan?” ujar Xiaoqing dengan mata iblis nya yang sangat mengerikan.


Lin Tian pucat, ‘Gawat aku harus mencari cara untuk mengelabuhi nya.’


“Kamu, kamu jangan berkata-kata manis di sini,” ujar Xueqing terpengaruh.


“Masih tidak cepat-cepat,“ ujar Xueqing.


“Kenapa aku selalu merasa kalau keahlian pimpinan ini sedikit busuk ya?” ujar Lin Tian.


#


Tahun ajaran 2021… di sekolah.

__ADS_1


“Setelah ini, mari kita sambut murid unggulan tahun kedua kita, seorang pengusaha muda. Lin Tian… untuk membawakan sambutan,“ ujar MC sekolah.


Berikutnya Nampak di mimbar yang sangat tinggi. Belum ada yang Nampak walau sudah di beritahu kan sebelum nya. Masih lengang.


Tiba-tiba mobil mewah datang. Sangat cepat, untuk kemudian di rem mendadak, tepat di dekat mereka berkumpul. Mobil yang begitu elegan, sulit sekali jika seorang siswa di kampus tersebut memiliki nya. Pasti bakalan membutuhkan dana yang sangat besar yang mesti keluar dari kantong. Apalagi jika ada cewek di dekatnya, sudah pasti akan Nampak sempurna untuk seorang dengan banyak julukan, harta, tahta dan wanita. Semua seakan sudah ada. Tinggal bagaimana menghamburkan nya.


Dengan sandal jepit nya, Lin Tian bergerak dengan lincah untuk langsung hinggap di podium. Lokasi dimana di mesti memberi ceramah dan sambutan yang bermanfaat di awal tahun pelajaran yang demikian penting untuk semakin banyak merekrut para siswa yang sangat berpotensi sehingga tidak asal-asalan atau asal dekat saja dengan lokasi sekolah.


Mendarat dengan sempurna, Lin Tian langsung meraih mik dan bicara, “Teman-teman sekalian, Lama tidak berjumpa.”


“Kenapa kamu bisa terlambat di acara pembukaan tahun ajaran yang begitu penting?” tanya MC. Mangkel sekali dia. Untuk urusan yang demikian penting sampai terlambat begitu. Bagaimana kalau mengurusi hal yang lebih besar. Niscaya nanti pada dunia kerja akan kesulitan. Sulit buat diri sendiri, juga sulit untuk membimbing teman-teman nya bahkan yang berada di bawahnya untuk mencari kerja. Inilah beratnya hidup disiplin, selagi masih sekolah saja sudah ogah-ogahan, apalagi nanti kalau kerja yang di tuntut untuk mengeluarkan tenaga secara benar, pasti bakalan kesulitan lagi.


“Mentang-mentang kaya, pamer kekayaan, sok sekali,“ ujar Murid yang pemberani, walau sering ramai kala baca buku di perpus, atau bikin ulah kala berada di kelas. Tapi tidak suka pada orang yang sok.


“Teman-teman semuanya, ada penyebab nya. Alasanku terlambat, berkaitan erat dengan kalian semua,“ ujar Lin Tian mencari alasan yang tepat guna. “Awalnya, aku sudah menyiapkan naskah sambutan. Tapi sekarang, aku tidak ingin me omong kosong lagi. Karena pagi ini, tiba-tiba aku terpikir untuk bersumbangsih pada sekolah ku, aku tidak bisa hanya menyampaikan omong kosong saja. Sehingga aku segera menghubungi departemen personalia grup Tian Lin. Pada tahun ajaran ini, kami akan merekrut 1000 orang.”


“1000 orang, bukankah artinya, ini akan menyelesaikan masalah lowongan pekerjaan mahasiswa secara tuntas?” ujar guru sembari berteriak keheranan. Baru sekarang terjadi demikian. Biasanya sekolah yang mesti berhubungan dengan dunia industry supaya mereka banyak yang bisa di terima. Walau syarat nya berat. Selain nilai nya harus tinggi, juga fisik lulusan di lihat. Sehingga nanti di dunia industri ini hasil yang di dapat juga sangat memuaskan buat perusahaan, serta sangat menguntungkan buat yang di geluti nya.


“Tak disangka, mereka akan merekrut jumlah sebanyak ini. Dengar - dengar banyak benefit yang di dapat, jika bergabung dengan grup Tian Lin,“ ujar para siswa.


“Bagus sekali, akhirnya aku memiliki muka bertemu keluarga ku,“ ujar yang lain. Maklum sejauh ini belum ada bayangan untuk bisa mendapat pekerjaan. Yang ada hanya bagaimana bisa bermain dengan santai tanpa memikirkan apapun dan keluarga tanpa cemas dengan banyaknya kebutuhan yang langsung di tanggung orang tua. Untuk kali ini setidaknya bisa mendapatkan hasil sendiri tanpa mesti bergantung terus kepada ayah bunda nya. Apalagi mengingat mereka sama sekali tak punya kelebihan untuk bisa bersaing dengan semua orang yang sama-sama baru lulus dari sekolah dengan status sama. Bisa saja mereka begitu piawai dalam menguasai Bahasa asing, lulusan terbaik di sekolahnya, atau mendapat kemampuan serta nilai yang diatas rata-rata. Itu yang bakal jadi pesaing utama.


“Lin Tian, kamu adalah panutan. Aku tidak salah menilai mu,” ujar guru. Tak disangka untuk kali ini polemik yang tengah terjadi, bakalan bisa segera teratasi dan akan bisa membantu para alumni supaya bisa mendapat pekerjaan selepas dari sekolah. Sehingga pihak sekolah tak terlampau pusing lagi untuk mencari kan mereka perusahaan yang bersedia menampung sebagai batu loncatan di perusahaan lain yang lebih mapan.


“Tidak perlu berlebihan, saya hanya melayani rakyat saja,” kata Lin Tian.

__ADS_1


“Aku banyak melihat nilai potensi yang hanya 1,2,1 saja,” kata Lin Tian menganggap teman-temannya tak punya potensi. Mereka benar-benar akan tersingkir dari persaingan berat yang tengah berkembang di dunia kerja pada perusahaan ternama, atau di instansi terkait.


Katanya lagi, “Susah bagiku untuk tidak bersemangat.” Namun dalam batin dia bergumam, ‘Dengan mempekerjakan mereka, perusahaan pasti akan merugi.’ Sembari terkekeh.


__ADS_2