
BEDM - Agen properti.
Lin Tian mendatangi tempat itu, lalu membuka pintu. Lalu berjalan masuk. Santai saja dia. Hanya memakai sandal jepit.
“Aiya… Selamat datang ingin sewa atau beli rumah?“ ujar petugas pegawai agen itu. ‘Eh mahasiswa? Sepertinya dia orang miskin.’
Pakaiannya begitu sih. Kurang hormat. Jepitan doang.
“Sewa. Aku ingin mencobanya dulu, baru nanti membelinya jika sesuai,“ ujar Lin Tian.
‘Kali ini mungkin tidak bisa menggunakan dana sistem untuk membeli rumah, tapi cukup untuk sewa rumah,’ Gumam Lin Tian.
“Silahkan duduk,” kata Pegawai dengan ramah.
‘Kalau sesuai, baru membeli, kamu kira kamu adalah konglomerat? Pintar sekali berpura-pura.’ Pegawainya meremehkan. Masa begitu saja. Benar-benar agak sulit kali ini. Paling tak akan mampu untuk yang lebih tinggi. Sebab dari potongannya demikian. Makanya seringkali orang akan berusaha berpakaian maksimal agar bisa lebih dihargai. Karena ajining diri soko ing lathi ajining saliro ono ing busono. Harga dari badan ada di pakaian nya. Tak terkecuali orang itu tak punya, jika menggunakan pakaian yang pantas atau bahkan mahal akan semakin di hargai. Terutama akan pelayanan yang lebih sopan. Sementara yang demikian saja sudah membuat image orang sudah terlanjur runtuh. Dan menganggap orang demikian memang tak punya dana lebih untuk menambah serta memiliki pakaian yang pantas pakai. Meskipun berbeda dengan pemuda itu yang bukan karena tak punya, namun karena rasa nyaman jika hanya menggunakan hal demikian. Sebab ada kalanya hanya memakai sandal jepit begitu rasanya ringan, tidak berbobot seperti mengenakan boots atau sepatu mahal lain yang terbuat dari kulit. Karena mesti menyesuaikan dulu dengan situasi, dimana hal yang baru dibuat masih terasa kaku dan keras, namun jika telah menyesuiakan diri, akan lebih lunak serta mudah dikenakan. Juga bisa saja karena kesederhanaan. Dan menganggap siapa diri ini, yang berasal dari keluarga biasa, akan sedikit rishi kalau mesti berpakaian mewah.
“Kebetulan sekali. Rumah yang kami jual itu, disini berkualitas dan harganya bersahabat,“ ujarnya berusaha mempromosikan.
“Apa? Rumah berkualitas harga murah? Aku tidak mau!!!!“ kata Lin Tian ngambek.
Biasanya rumah berkualitas kan memang harus mahal. Dan yang banyak diskon, penuh tanda tanya. Itu yang dipikir Lin Tian, barangkali. Sehingga dengan marah dia tak ingin harga murah. Sudah sering kali hal demikian merupakan sebuah tipuan agar cepat laku. Harganya ratusan juta, tapi murah, dan bentuknya bagus dari luar. Ternyata setelah berjalan beberapa waktu sudah tak layak disebut berkualitas. Terkadang pintunya jebol, engselnya lepas, jendelanya putus, kuncinya macet, itu semua terjadi begitu saja, hanya karena kena cuaca dan pergantian suhu. Sehingga yang disebut berkualitas namun murah kadangkala patut dipertanyakan. Walau tentu saja untuk kali ini hanya untuk gaya-gaya an semata. Maklum Lin Tian memang begitu.
__ADS_1
“Ah…“ Pegawai terkejut. Dikasih murah nggak mau. Bahkan itu sudah lebih mahal dari sandal jepit nya.
“Aku hanya ingin yang mahal. Jangan mengeluarkan yang murah untuk menipuku,“ ujar Lin Tian dengan sengak.
Pegawai geram. Sudah miskin belagu ini anak.
‘Aku sering bertemu dengan orang-orang yang pandai berpura-pura, tapi belum pernah bertemu yang separah ini,“ kata dalam hati si pegawai dengan muak. ‘Anak muda aku akan menggagalkan kesombongan mu hari ini.’
“Tuan, silahkan, yang mahal hanya tersisa model kecil di lokasi kampus. Harganya 8.000 yuan per bulan,“ jelas pegawai itu. Dia tetap berusaha ramah. Bagaimanapun juga dia adalah pelanggan. Yang barangkali saja dengan ucapannya kali ini akan segera cabut. Walau dalam hati menahan yang tak nyaman, tapi mesti sabar.
“Oh dekat dengan kampus. Kalau begitu sangat leluasa,“ kata Lin Tian senang. Barangkali sesuai dengan pemikirannya. Yang tak mesti bangun pagi-pagi sekali jika kesiangan. Juga tinggal melompat pagar depan sudah sampai jika tak mau capek. Maklum sangat dekat.
‘Leluasa? Bocah ini pasti ingin menyewa rumah di dekat sekolah agar bisa leluasa membawa pacarnya pulang,’ kembali pegawai itu menduga hal yang biasa terjadi.
“Eh, anak muda, kamu terburu - buru sekali,“ ujar si pegawai.
“Benar mereka saling mencintai. Aku tidak tega membiarkan mereka tidak punya tempat tinggal,“ ujar Lin Tian teringat ayah ibu yang saling cinta.
“Mereka? Bukan untukmu sendiri?“ ujar pegawai properti heran.
“Kita tentu saja tinggal bersama,“ ujar Lin Tian.
__ADS_1
‘Apa anak muda sekarang begitu bebas?’ Pegawai itu kepikiran tiga orang berangkulan. ‘Bahkan menerima hubungan tiga orang.’
Semakin kacau pikirannya.
“Ini adalah foto-foto nya. Kalau merasa sesuai, kamu bisa memberi uang muka dulu,“ ujar si pegawai.
‘Apartemen sekecil dan semahal ini kamu asti tidak akan menyewa nya kan.’ Gumam pegawai berharap anak muda ini segera enyah.
“Bagus sekali sama besar dengan rumahku sebelumnya,“ ujar Lin Tian terbayang pada rumahnya yang kini bakalan di beli dengan harga mahal namun uangnya belum di tangan. ‘Selain itu satu unit harganya 8000 yuan. Aku akan menyewa 25 unit untuk karyawan perusahaan. Setiap bulannya aku akan merugi 200.000 hebat sekali.’ Dia terus membayangkan bakalan rugi banyak. Sehingga sistem akan mengembalikannya berlipat ganda. Makanya sangat senang dengan kata rugi begitu.
“Aku akan menyewanya, gesek kartu saja,“ ujar Lin Tian mengeluarkan kartu kredit yang berwarna biru dengan jumlah angka 16 digit.
‘Eh, benar benar jadi sewa, bukankah dia seharusnya mencari alasan untuk pergi? Pemuda ini pasti hanya hal cabul yang ada di otaknya. Dia tidak sabar bersama pacarnya.’ Itu yang dipikirkan si pegawai tentang anak muda dengan pacar-pacarnya yang sudah ketahuan bakal melakukan yang tak terbayangkan itu.
“Tunggu dulu,“ kata Lin Tian.
“Sudah kuduga dia menyesal,“ kata sang pegawai sembari tersenyum lega.
“Aku lupa bilang, Aku mau 25 unit,“ kata Lin Tian sangat menyesal karena lupa.
“Ah….“
__ADS_1
Pegawai jadi kacau pikirannya.
“25 pacar. Lelaki dahsyat.“ Terbayang sudah di benak pegawai property itu, bagaimana rasanya.