
“Di dunia ini. Benda apa yang tidak bisa di beli?“
Ada timbangan. Menimbang dolar dan benda penuh tanda tanya. Ada uang maka aka nada barang. Barang itu setimpal dengan nilai nominalnya. Semakin mahal harga benda itu, maka akan semakin tinggi nilai jualnya. Sehingga nilai itu tak akan menipu. Kalau kenyataannya benda biasa harganya tinggi, maka jika menjual lagi akan kesulitan. Layaknya sebuah lukisan, maka nilainya akan terus merangkak naik. Karena benda itu hanya satu-satunya. Terkadang keindahannya karena taka da di tempat lain. Walau itu di duplikat kan dengan memperbanyak nya, namun barangnya tetap akan merangkak naik. Dan gambar-gambar duplikat itu semakin membuatnya semakin popular. Atau dengan setumpuk emas, yang juga terus merangkak naik. Tapi tidak demikian kalau emas tadi berada di planet berlian, yang hanya indah dibayangkan, tapi sama sekali taka da harganya dalam sebuah bongkahan berlian tersebut. Sebab nilai suatu benda terletak di lokasinya juga. Semakin dibutuhkan, maka akan semakin mahal benda itu. Minyak goring barangkali tak berguna. Tapi menjadi masalah jika keadaannya langka dan banyak orang akhirnya rela antri demi mendapatkannya. Sementara uang yang sedikit itu akan lebih baik jika dipakai buat membeli minyak daripada sebongkah berlian.
“Tentu saja ada. Tidak hanya satu,“ ujar Su Xiaoqing “Pertama hasil penelitian tingkat tinggi. Kedua rasa tegang di pertandingan. Namun sekarang ada satu hal yang bisa menggabungkan keduanya, bertahan di Breaking Island.“
Itulah, penelitian tingkat tinggi terkadang membutuhkan banyak dana. Dan hasilnya hanya satu. Listrik pada awalnya hanya demikian saja, yang jika mengenai orang paling bikin kejet-kejet doing, tapi saat ditemukan manfaatnya, maka sekarang hampir sebagian besar benda membutuhkan alat itu demi bisa memfungsikannya. Demikian juga sejarah, sejarah terkadang hanya dipakai untuk apa mengungkit-ungkit orang yang sudah tiada. Tapi pada waktunya, sejarah dipakai untuk membuat rasa percaya diri suatu bangsa menjadi besar, dengan kebanggaan yang tiada tara nya, dan hal yang sama membuatnya berbeda dari negeri lain. Itulah makanya suatu penelitian yang akurat akan suatu ilmu membuatnya sangat dihargai.
Demikian juga dengan rasa tegang di pertandingan, tentu akan berbeda jika hanya melihat di layar kaca atau pada layar perak. Walau sama-sama hasilnya, tapi kalau datang sendiri ke sebuah pertandingan yang spektakuler, akan membuatnya tak terlupakan. Bagaikan sebuah sejarah di kehidupannya. Yang akan terus bisa diceritakan ke anak cucu nanti. Walau menonton dengan harga sangat mahal dan mendapat kursi yang berada di lokasi paling tak mengenakkan. Sudah berada di sudut, terhalang orang besar di depannya, dan sepanjang waktu hanya melihat kepala orang itu saja, sama mendengar teriakan histeris cewek, tapi demikian bangga.
Disini nampak satu pemandangan. Sebuah pulau yang aneh. Bentuknya berliku-liku. Dengan sungai menghiasinya. Dan muara yang cukup luas. Untuk menggabungkan air tawar dari daratan Dan air asin yang mencampur nya. Menggabungkan antara dua rasa. Asin dan tawar. Untuk memperlihatkan laksana buih yang jadi permadani karena lembutnya.disini taka da peraturan
“Sejak awal hanya bertarung.“ Sehingga akan kasihan bagi yang gendut dan botak, hanya akan menjadi bulan-bulanan orang kaya dengan jam emas dan cincin kuning.
“Pemenangnya akan mendapat hasil penelitian misterius yang hanya ada satu di dunia. Demi bertahan di Breaking Island tahun ini. Sudah lama aku mengamatimu. “
Lin tian tertidur di kursi pesawat. Bahkan ingus dan iler nya keluar. Begitu nyenyak nya dia. Membuat mangkel yang bercerita sampai mulut berbuih ternyata hanya ditinggal ngorok.
“Dengarkan aku dong!“ ujarnya marah. Dari siang, dari pagi dari sore cerita, hanya diabaikan saja. Apa-apaan…. Mangkel banget kan.
__ADS_1
“Obat tidurmu terlalu kuat. Aku tidak tahan“ Lin Tian beralasan. “Lain kali aku mau juga aku membutuhkannya. “
“Intinya disini kita akan dibagi dalam kelompok berdua. Sekarang kamu adalah pelayan ku. “
“Begitu banyak orang yang bisa kamu pilih kenapa kamu memilihku?“ tanya Lin Tian yang enggan jadi pelayan. Lebih baik terima gajinya saja.
“Selain bisa bertarung dan bisa tepat waktu membantu, kamu punya uang dan tidak akan di suap. Sehingga kamu bisa membantuku di sini,“ jelas Su Xueqing.
Diatas ketinggian itu sudah mesti melompat. Siap parasut dan ikat pinggang hitam. “Kita pergi ke pangkalan dulu untuk mengumpulkan persediaan.“
“Ini pertama kalinya aku naik pesawat,“ kata Lin Tian beralasan kalau sebenarnya dia takut untuk terjun. Apalagi dengan membuka pintu pesawat yang begitu lebar, tentu semakin membuatnya ngeri. Pintu yang enggak lebar saja takut, ini malah langsung bisa memandang daratan yang kecil begitu.
“Kamu ingin menipu siapa, uangmu begitu banyak!“
“Ngomong-ngomong Aku menemukan satu masalah. Dimana parasut ku?“ Karena terlalu asik takut itulah membuat dia lupa memakai parasut. Tentu saja membuat dia mesti banyak banyak berdoa.
“Satu kelompok hanya ada satu parasut. Panggil aku nyonya Su Xueqing dulu, aku akan meminjamkannya untukmu,“ ujar Su Xueqing ada ide untuk memaksa Lin Tian yang penakut itu agar bersedia menuruti keinginannya. Sebab bagaimana tidak mau, kalau di tengah rasa takut akan keadaan yang terjepit demikian. Kalau tidak takut ular, atau kecoa itu hal yang wajar, tapi ini ketinggian, dimana terasa gravitasi bumi akan menyeretnya untuk segera bertumbukkan. Jangankan dia yang hanya daging. Meteor sebesar Arizona saja mampu melesak membentuk kawah yang lebar, maka akan menjadi suatu bubur lembek nanti kalau benar jatuh dari atas itu. Inilah jeniusnya si cantik su yang mesti bertarung dengan orang banyak duit macam Lin Tian itu.
Lin Tian berpikir keras. Antara mau menuruti permintaan wanita itu atau cukup dengan mendarat dengan keras layaknya meteor garden.
__ADS_1
“Mudah saja,“ kata Lin Tian langsung dapat ide.
“Eh ini…“
Su keheranan. Ancamannya seakan sia-sia
“Gudang emas portable ini benar benar berguna. Mengambil parasut untuk aku pakai sendiri.“
“Lin tian kamu… Kapan kamu mencurinya? “
Yang panik kini si Su Xueqing itu.
“Kita orang kaya mana mungkin mencuri,“ ujar Lin Tian sembari menunjukkan kartu kreditnya yang berisi kredit hutang banyak sekali.
“Ini namanya membeli. Ambil saja,“ ujar Lin Tian sembari memberikan kartu penuh uang itu untuk membayar parasut yang mahal itu. Membeli kan kalau menawar dulu seperti di pasar. Ini malah Cuma mengambil terus membayar juga bukan dengan uang. Membeli apaan.
“Berikan parasut itu padaku. Kalau tidak menariknya tidak sempat lagi!“ teriaknya panik.
“Cepat panggil aku Tuan Lin Tian. Aku akan meminjamkan untukmu,“ kata Lin Tian dengan santainya. Seakan terbang begitu hanya suatu yang biasa saja. Dia mungkin menganggap seperti burung yang tak perlu terbang karena merasa punya sayap. Atau dia hanya kuman saja yang karena ringannya sampai gravitasi tak begitu berarti dibuatnya.
__ADS_1
“Lin… Lin Tian!“
Kayaknya bakal terlambat dah. Sudah dekat. Jarak antara mereka dengan daratan sudah diambang batas kritis. Itu berarti akan terlambat.