Menjadi Orang Terkaya Mulai Hari Ini

Menjadi Orang Terkaya Mulai Hari Ini
Episode 155


__ADS_3

“Gawat. Semuanya lenyap,“ ujar Duo penipu. Budong hanya diam saja. Mau bagaimana lagi, setelah pemotretan ini, nama besar mereka pasti tersebar luas di berbagai media dengan cap negatif yang sangat melekat.


“Aku di fitnah, aku tidak bersalah,“ ujar Mai Jiayao, si penipu geram. Dia merasa tak bersalah. Makanya bersaksi. Namun dia tak sadar, kalau kata-kata tersangka bakalan tak dipercaya.


“Tak disangka ternyata mereka duo penipu, nyaris saja aku tertipu,“ ujar Lin Tian dengan geram nya. Masa penipu begini harus berurusan dengan penipu. Bakalan kacau setelah nya. Memang berurusan dengan penipu itu sangat sulit. Terkadang malah suka main belakang. Belakang yang itu. Bilangnya sudah, tapi ternyata belum. Benar-benar menjijikkan. Karena tipuan demikian sudah sangat sering. Untuk itulah mesti hati-hati sama yang namanya penipu.


“Lin Tian kamu sudah menipu penipu, apa ini ada dalam rencana mu juga?“ sungguh indah rencana nya jika demikian. Tapi saying, itu bukan demikian kenyataan nya. Semua hanya karena kebetulan saja si penipu ternyata kurang canggih. Sehingga termakan oleh keinginan nya sendiri.


“Eh..“ Lin Tian sedikit terkejut. Begitu rupanya. Bergaul dengan sesama penjahat. Namun katanya kemudian, “Hahaha… tentu saja. Belajar dari penjahat untuk mengontrol penjahat.“


“Kamu seorang diri menjadi otak rencana besar ini pasti lelah. Banyaklah beristirahat,“ ujar Polisi Wanita Zhou yang tentu saja pandai Bahasa mandarin dan sudah lama menjadi teman dekat Lin Tian.


“Ah, akhirnya ada orang yang memahami penderitaan ku menghamburkan uang. “


“Benar ini adalah waktunya mencari banyak orang untuk merugi lebih banyak lagi“ Ujar lin tian kembali ada ide yang terus muncul kalau tujuan nya untuk rugi banyak begitu.


#


Knox Knox.


“Permisi apa guru ada di sini?“ tanya pelamar dengan sopan nya. Dia membawa bekal yang di kempit. Dan kacamata sebagai seorang ahli di bidang nya.

__ADS_1


“Sudah datang, adik,“ ujar Lin Tian sedikit mengintip dari celah pintu yang terbuka sedikit. Dia Nampak senang. Akhirnya apa yang di nanti benar-benar Nampak. Dia.


Segera di suruh masuk ruangan.


“Eh, kamu adalah Lin Tian, salah satu dari 10 tokoh legenda universitas. Direktur Lin.“


“Benar.“


“Apa kamu datang ke sini untuk mencari pekerjaan?“ tanya Lin Tian. Kakinya jegang. Tangannya di taruh di belakang kepala. Walau tak berlutut.


“Benar apakah ada lowongan pekerjaan di perusahaan tian lin? “


“Ah, masa depan cerah sedang menunggu ku,“ ujar si pelamar kerja dengan senang nya. Tak ada kata-kata lain selain senang mendapat sebuah pekerjaan. Yang nanti nya bisa buat bekal masa depan. Tak harus buat kawin, setidaknya masa depan berikut nya bisa membuat senang keluarga serta mampu berdiri di atas dua kaki sendiri. Itu sudah cukup.


#


Seminggu kemudian, di grup Lin Tian. Pada kantor yang tinggi dengan rumah kaca nya yang megah.


Semua duduk tegang. Takut tak bisa menjawab. Atau bisa menjawab namun ngawur. Sehingga nanti nya tak bakalan bisa di terima bekerja di situ.


“Mulai hari ini wawancara situasional kehidupan nyata, akan di mulai sekarang, aku akan mendemokan beberapa soal pada kalian semua,“ kata Lin Tian.

__ADS_1


“Soal pertama, sekarang sudah jam 5 sore, waktunya pulang kerja. Tiba-tiba pimpinan memberikan tugas baru dan harus selesai malam itu juga. Apa yang harus kalian lakukan?“ tanya Lin Tian.


“Aku tahu. Lembur dan menjamin kualitas. Tidak akan menyia-nyiakan harapan pimpinan.“


“Salah. Memberikan tugas di jam pulang dan harus diserahkan malam itu juga, ini artinya pimpinan tidak bisa mengatur waktu dan sembarangan memberikan janji pada pihak kedua. Sehingga kita harus komplain pimpinan dengan kata-kata yang sopan,“ jelas Lin Tian yang mencoba bijak memahami kata nurani para karyawan yang di pimpin nya.


“Apa?“


“Datang kerja dan pulang kerja tepat waktu. Ini adalah peraturan pertama perusahaan kita.“ Memang terkadang tepat waktu di butuhkan. Sebab ada kalanya si pekerja juga butuh banyak waktu luang guna kepentingan lain yang sesuai dengan rencana serta jadwal yang mesti dia hormati. Misalkan ada tontonan di kampung nya. Bagaimana dia tak menghargai jika di kantor terus menghabiskan waktu. Maka waktu yang dibutuhkan bakalan habis. Dia jadi tak menghargai lingkungan nya. Sementara dia tak bisa berbuat banyak. Sedangkan badan nya juga sudah lelah. Dan itu bakalan kesulitan di pengaturan waktu nya.


“Soal kedua, suatu hari kamu tidak ada mood bekerja. Apa yang seharusnya dilakukan?“ tanya Lin Tian lagi. Dia menunggu ada yang menunjukkan jari. Dan benar. “Kamu lagi, jawablah.“


“Ini… Saya akan bekerja menyemangati diri sendiri, mengatur perasaan, agar tidak mempengaruhi pekerjaan,“ jawab si pekerja teladan yang benar-benar sangat ,menguntungkan perusahaan walaupun apa yang terjadi, sebab pekerjaan nya kini adalah harapan buat masa depan selanjutnya. Andai sudah tak bekerja disitu, maka ini juga merupakan dasar dari kinerja yang mesti dilakukan supaya nantinya bisa lancer kala bekerja di perusahaan yang baru tersebut.


“Salah! Wakil Direktur She jawab!“ tanya Lin Tian pada wakil direktur yang sudah kacau sejak sebelum rapat tiba.


“Tentu saja kita harus tidur saat tidak memiliki mood bekerja,“ jawab wakil Direktur She dengan polos nya. Sebab kalau tidak mood maka pekerjaan akan kacau. Demikian juga dalam bidang lain. Semisal membuat tulisan. Kalau tidak mood maka tak akan selesai. Semua nya berantakan. Kacau, tak indah pada waktu penyelesaian nya. Namun jika mood dating maka tiga atau lebih yang dibutuhkan penulis dalam menyelesaikan karya nya tentu bakalan segera dirampungkan dengan cepat.


“Bekerjalah di saat ada mood, ketika tidak ada mood beristirahatlah sehari. Ini adalah peraturan kedua perusahaan kita. Kamu, mengerti,“ tanya Lin Tian sembari memegang kepala seakan dalam posisi memberkati. Dia tak mau tahu dengan keadaan si anak buah yang nantinya tak memberi kerugian pada perusahaan sehingga bakalan membuat dia sendiri tak untung banyak.


“Sebenarnya perusahaan apa ini jangan jangan multilevel marketing.” Sedikit aneh dia. Jawaban nya salah melulu, namun tetap di terima juga walau apa yang terjadi. Sepertinya sejauh ini dia sudah menjawab sesuai prosedur serta buku terbaru dari tata cara menjawab wawancara kerja yang benar. Namun disini sedikit aneh posisi nya. Kelihatan nya dia mesti banyak belajar lagi demi meniti karier yang lebih tinggi nanti nya.

__ADS_1


__ADS_2