
Lin Tian suka. Dia di elu-elukan orang karena sangat dermawan. Memberi kebijakan aneh. Dimana akan mendapat rejeki semua.
“Xiao Tian Tian! Xiao Tian Tian kamu kan itu?“ ujar orang tua diantara kerumunan orang banyak.
“Kamu…. Paman wang?“ Lin Tian mengenalinya. Paman Wang kala muda, ngganteng nya luar biasa. Setelah tua ternyata demikian. Sudah berumur dan sedikit keriput.
“Ternyata benar kamu Xiao Tian Tian. Kamu tidak lupa denganku, Paman Wang kan?“ ujar Paman Wang berusaha mengingatkan kembali memori Lin Tian sehingga nanti kalau ada bagi-bagi rejeki, dia juga di ingat.
“Mana mungkin aku melupakanmu,“ ujar Lin Tian Teringat dimana saat-saat bersama. “Dulu kamu sering membawaku pergi main game. Kemudian kamu pindah rumah sampai aku tidak ada tempat main lagi.“
“Tak disangka, sekejap mata, kamu sudah menjadi pengusaha besar,“ ujar Wang. Tentu saja sangat terkejut. Dimana sebelum itu mereka tengah asik main game bareng, apa-apa bareng, sekali kalah lalu menang, teriak bersama kala mati lampu, juga game yang lagi popular tengah mereka mainkan, semisal tekken, Mario bros, sepak bola piala concacaf, atau soliter, tapi kini telah berbeda. Semasa mereka tak bisa main lagi bersama, dan suasana sudah berubah. Lin tian seakan berada di atas langit, sedangkan dia demikian saja. Ingin bertemu saja sulitnya minta ampun, mesti memanggil-manggil, menelusup diantara ketiak para penonton, dan saling sikut. Seperti orang pendek yang mesti naik pohon ara saja kalau ingin menemui si orang terkenal.
“Benar, uangku akan aku gunakan untuk membagikan kebahagiaan di masyarakat,“ kata Lin Tian. Yang sudah terlanjur menjadi orang dermawan. Maka tak akan malu mengakuinya sama teman bermain dulu saat masih sama-sama berjuang bersama, baik suka maupun duka, dan tentunya marah-marah kalau tengah mati lampu atau listrik turun. Dan itu mereka rasakan bersama. Demikian pahit getir rasanya menjadi orang tak punya. Dan itu masih dialami oleh paman Wang. Sementara dia tidak. Untuk itu dia ingin terus berbagi dengan mereka-mereka dan masa lalu nya itu. “Aku tidak akan membiarkan semua orang melalui hari yang sulit. Asalkan semuanya masih tinggal disini. Setiap bulannya mendapatkan jatah bantuan.“
#
Di suatu tempat…
Si kaya tercengang. Dia menelepon seseorang.
“Bos. Gawat!“ ujarnya dalam telepon. “Tanah ini awalnya bisa dibeli dengan harga murah. Tapi tiba-tiba ada orang yang membagikan uang pada penduduk di sini sehingga semuanya memilih untuk tinggal. Sepertinya tidak akan berhasil kalau tidak dengan cara kasar.“
Ternyata ada yang dirugikan. Tidak hanya satu, tapi satu setengah, karena yang lain berada di seberang telepon. Mereka ini yang kini ketar ketir. Membayangkan bagaimana sudah tampak membengkak saja pengeluaran yang hendak mereka keluarkan kini.
Brukk!
__ADS_1
Membantai meja.
“Apa? Siapa yang membagikan uang? Siapa yang menghalangiku mengembangkan usaha properti?“ ujar Zhao Bosi. Ruangan yang semula damai, kini menjadi panas. Amarahnya seakan terbakar saja. Dan itu terjadi kala mendengar jika usahanya akan terganjal oleh seseorang yang bekerja di luar perkiraannya. Yang membuat mereka mesti merubah rencana demi terwujudnya sebuah properti yang hendak terwujud dan kemudian menguntungkan mereka.
Brak!
HP juga di banting.
“Lin Tian. Lagi lagi Lin Tian. Kenapa selalu kamu?“ ujar Zhao Bos kesal. Usahanya terganjal. Lagi-lagi orang tersebut yang terus saja berbuat tak mengenakkan hatinya. Hingga bakalan berdampak buruk juga pada keuangan yang dipegang perusahaannya. Dimana sebelumnya hanya mengeluarkan sedikit saja, tapi dengan mahalnya harga tanah, maka akan membengkak juga pengeluaran nanti.
“Zhao Bosi jangan panik. Aku harus memikirkan makna di belakang semua gerak geriknya. Pertama-tama eleminasi hal-hal yang salah. Lin tian sangat cerdik. Pasti bukan Cuma-Cuma merugi. Tidak salah lagi. Hanya ada dua pilihan. Pertama dia sudah tahu rencana ku. CCTV sekolah selalu mengawasinya. Dia tidak menyerang ku dengan sengaja. Jadi lihat ini bisa di eliminasi. Aku tahu. Aku sekarang mengerti. Hanya tersisa satu kemungkinan. Yaitu ada mata-mata di dalam perusahaan ku,“ ujarnya menebak.
“Pekerja kalangan menengah harap perhatiannya,“ ujar Bos Zhao bicara dalam Walkie talkie.
“Kalian semua di pecat. Kalau mau menyalahkan, salahkan Lin Tian,“ ujarnya lagi. “Lin Tian jangan harap ingin menghalangi rencana ku. Paling-paling aku harus mengeluarkan lebih banyak uang saja kan.“
#
Haciu!
“Direktur Lin, ada sesuatu yang ingin disampaikan bos kita padamu,“ ujar seseorang seraya memberikan HP.
“Hai, siapa ini?“ tanya Lin Tian mengangkat telepon itu.
“Ingin menghalangiku di bidang property? Kamu akan mendapatkan balasannya!“ kata Zhao Bosi mengancam dalam telepon itu.
__ADS_1
Plak!
Sambil menyambar HP, utusan itu terus berlari. Dia khawatir nampaknya. Jangan-jangan HP nya akan diminta. Atau tak dibalikin. Maklum anak muda sekolah saja biasa pakai kresek. Melihat HP bagus, mana tidak ingin. Atau dia khawatir akan didamprat di depan orang itu kalau tahu bos nya marah. Juga bisa jadi akan langsung dibanting jika mendengar ancaman sang bos tadi. Makanya secepat kilat dia meninggalkan tempat tersebut sebelum kejadian tak terduga akan menimpa mereka.
“Jadi siapa tadi yang bicara denganku?“ ujar Lin Tian bingung. Seperti kentut saja. Ada suara tapi tak ada wujud.
Telepon berdering.
Ayah bicara.
“Eh, ayah juga meneleponku?“
“Halo putraku, kabar baik,“ kata Ayah. “Akan ada pembongkaran di rumah kita. 50 meter persegi. per meter perseginya 20.000. Kita akan mendapat 1 juta. “
Lin Tian bingung. Tadi yang mengaku paman. Sekarang ayah. Malahan membicarakan gusuran. Buat apa semua itu. Sementara dia telah banyak memberikan uang. Dimana orang-orang akan senang akibat harga tanahnya melambung andai bersedia menjual tanahnya. Dan sudah pergi dari situ, sedangkan dia tak memberi lagi uang pada yang pergi, hanya untuk yang bersedia tinggal saja. Itu semua menjadi boomerang sendiri.
“Kelak keluarga kita akan menjadi konglomerat,“ ujar ayah senang. Maklum biasa miskin. Dapat tanah gusuran tentu sangat senang. Darimana lagi akan dapat uang kalau bukan mengenai itu. Maklum tanah yang semula hampir tak berharga, kini dihargai lumayan tinggi, maka akan jadi suatu yang sangat menguntungkan, secara perhitungan.
Ini suatu yang gawat. Sebelumnya Lin Tian khawatir jantung ayah dan ibu tidak akan kuat mempertanyakan dari mana uang yang didapatkan, sehingga tidak memberi tahu mereka.
“Tunggu dulu. Orang yang tadi bicara denganku itu, jangan-jangan ingin membicarakan pembongkaran,“ gumam Lin Tian.
“Ayah. Apa kamu sudah tanda tangan?“ tanya Lin Tian memastikan.
“Haha…. tentu saja. Aku dengar, uangnya akan segera di transfer,“ ujar ayah senang.
__ADS_1
“Gawat! Terjebak…. Kita ditipu!“ kata Lin Tian semakin cemas. Matanya mendelik, mulutnya dan giginya gemeletuk.