Menjadi Orang Terkaya Mulai Hari Ini

Menjadi Orang Terkaya Mulai Hari Ini
Episode 46


__ADS_3

Guru Chen sedih. Dia teringat,


“Ayah….“


Guru Chen sedih. Tentang sakit ayahnya.


“Guru Chen pemulihan ayahmu cukup baik,“ ujar dokter lewat telepon. “Tapi… Dia menghilang dari rumah sakit.“


“Menghilang? Kenapa bisa menghilang?“ Guru Chen terkejut. Ada yang tak beres dengan itu semua. Bukankah ayahnya tengah sakit. Dan tak mungkin pergi jauh-jauh dengan kondisi demikian.


“Ayah sedang dalam masa pemulihan seharusnya dia tidak bisa bergerak kan?“ kata Guru Chen.


“Kita curiga kalau ada orang yang membawanya pergi,“ ujar dokter juga berpendapat demikian. Sebab melihat kondisi seperti itu, maka akan kesulitan menggerakkan anggota badan.


“Aku akan segera kesana,“ ujar Guru Chen. Dia sudah tak tahan lagi. Ini soal nasib ayahnya. Ayah yang kini tak berdaya. Namun mendapat masalah yang bertubi-tubi. Mungkin kalau dilihat dirinya yang kesulitan mencari uang. Tapi sang ayah yang tengah menghadapi itu, pasti lebih menderita lagi.


Kamar tidurnya berantakan. Nampak pernah di pakai namun tak sampai di bersihkan lagi.


“Pak polisi apa ada petunjuk? “


Polisinya menggelengkan kepala.


“Sekarang hanya diketahui kalau semalam ada sekelompok pria berbaju hitam menerobos ke dalam kamar dan menculik ayahmu.“


“Mengenai tujuan mereka apa kamu memiliki musuh yang menyimpan dendam? “

__ADS_1


“Memang aku pernah berselisih dengan orang lain.“


“Tapi tidak sampai mereka berani menculik ayah ku.“


Trrr….


HP bunyi. Getarannya terasa. Membuat jantung yang tengah berdebar semakin kencang debaran itu.


“Ayahmu ada di tangan kami. Jangan melibatkan polisi! Kalau tidak….” Bunyi HP itu. Tidak terdengar, namun rasanya sampai menembus perasaan.


“Apa ada yang terjadi?“ ujar pak Polisi. Dia keheranan dengan tingkah aneh guru yang tengah dia bantu kasus nya itu.


“Tidak… tidak ada apa-apa,“ ujar guru Chen berusaha menyembunyikan berita SMS tadi. Sebenarnya ingin dia melapor pada petugas. Dan orang itu kini sudah ada di hadapannya. Bila itu terjadi maka urusan akan beres. Semua berada di tangan yang berwenang. Namun tidak demikian dengan nasib sang ayah. Bisa saja mereka memperlakukan dengan tidak baik pada apa yang kali ini diderita ayahnya. Dalam kondisi sehat saja belum tentu kuat menahan siksaan, apalagi dengan kondisi sekarang yang boleh dikatakan tengah menghadapi sakaratul maut. Maka akan mengerikan jadinya. Untuk itulah akhirnya dia diam diri, bahkan berbohong untuk satu urusan yang berbeda.


“Siswaku tertimpa masalah aku pergi dulu,“ ujar guru Chen berdalih kalau ada murid yang bermasalah. Tentu hal demikian biasa. Bahkan untuk mahasiswa sekalipun, selain pada bagian bimbingan, juga guru kelas akan bertanggungjawab untuk satu urusan yang mesti dia pahami. Dan itu membuat mereka saling komunikasi. Semakin lancer dalam berkomunikasi, maka akan segera tuntas masalah yang tengah dihadapi tersebut.


Kartu siswa Lin Tian, ada di depannya. Di lihat, diselidiki. Barangkali bisa membantunya. “Apa aku perlu memperingatkannya? Tapi ayahku masih di tangan mereka.“


Mengulurkan tangan. Berdiri. Tiba-tiba saja, mengejutkan. Sesuatu yang tak disangka-sangka. Seakan tangan itu sang iblis yang mengajaknya menuju ke neraka. Sungguh mengerikan di hati Ibu Chen.


“Su… Su Wumei.“


“Bu Chen apa kamu sudah mempertimbangkan. Terimalah cintaku,“ ujar Su Wumei. Dia sudah tidak tedeng aling aling lagi. Kalau cinta ya cinta. Langsung diungkapkan. Juga mumpung masih sendiri. Dalam ruang sepi. Tanpa teman, juga orang lain. Maka diungkapkan sekarang, hanya akan di dengar oleh dua orang itu saja. Semua merupakan rahasia.


“Lupakan aku, aku sudah memiliki kekasih,“ ujar Guru Chen yang berusaha menolak cinta orang itu secara halus. Mungkin dengan demikian akan bisa membuat orang yang lupa diri itu bisa melupakan cintanya untuk nya.

__ADS_1


“Apa! Selama ini kamu mempertimbangkan, tapi malah menolak ku?“ ujar Su Wumei mangkel. “Beraninya kamu menolak ku!“


“Maafkan aku pak Su,“ ujar Guru Chen yang merasa tidak enak, tetapi tidak menyukai orang itu. Ada sesuatu yang dirasa tak baik untuknya. Makanya dia menolak. Terkadang cinta memang harus dipaksakan. Untuk bisa mencintai. Sebab cinta membutuhkan waktu. Dan terkadang lama-lama waktu itu bisa merubah seseorang untuk bisa mencintai. Dimana suatu ketika akan melihat sisi baik dari sang pencinta itu. Sebab manusia mencinta terkadang bukan hanya karena wajah atau postur. Namun ada sisi lain yang bisa membuat mencintai. Itu yang namanya cinta sejati. Sehingga kebersamaan terkadang bisa menimbulkan cinta. Namun cinta juga tak bisa dipaksakan. Walau waktu, tak bisa memaksa seseorang untuk berubah. Sehingga sampai waktu lama, kalau sudah tak cinta, maka akan menolaknya juga. Bahkan meskipun bersama, tetap saja tak bisa.


“Bu Chen jangan tidak tahu diri. Aku tahu kalau kamu melakukan siaran langsung. “


“Ini aku… aku…“ Guru Chen bimbang.


“Menurutku kamu memang suka dilihati oleh pria,“ ujar Su Wumei yang sudah tidak tahan lagi. Dia kali ini ingin mengungkapkan rasa cintanya secara langsung. Cinta yang kebablasan. Dimana akan menjadi petaka kalau diteruskan. Dan akan mendapat bencana di kemudian waktu nya.


“Apa… apa yang mau kamu lakukan?“


Bu Chen mundur. Dia berusaha menjauhi Su. Sungguh satu hal yang tak baik. Dimana kini hanya ada mereka berdua. Laki-laki dan perempuan. Tak akan ada yang bersedia mendengarkan teriakannya. Tak mampu. Atau memang tak bisa. Sebab ruangan mewah itu lumayan jauh dari semua orang. Dimana bakalan tak terdengar walau berteriak sekalipun. Tapi itu mesti dilakukan. Kalaupun tak bisa mungkin masih ada orang didekatnya yang bisa mendengar. Atau akan mengabarkan pada orang lain kalau merasa tak mampu, namun kasihan dengan nasib sang ibu cantik itu.


“Biasanya aku hanya penasaran berapa ukuranmu. Biarkan aku memastikan pakai tanganku, hahaha…. Kamu adalah milikku!“ Su Wumei terus mendekati wanita cantik itu.


Argh…


Jerit guru Chen.


“Aku disentuh…“ ujarnya lirih. Tambah mangkel guru Chen. Kini sudah tak bisa lepas lagi. Dalam jarak dekat, maka akan menjadi bencana. Tak bisa lepas lagi. Sungguh. Sebuah malapetaka yang akan menimpanya. Kini. Wanita cantik ini, akan merasa sedih selamanya. Oh…


Su terkejut.


Lin Tian di belakang.

__ADS_1


“Bu guru… Disentuh oleh tidak berarti disentuh kan? Ini adalah perhatian dari bos,“ ujar Lin Tian.


__ADS_2