
Di proyek. Tengah banyak kegiatan. Mengangkat batu, main semen, juga mengaduk pasir. Itu dilakukan cepat-cepat. Agar bangunan segera jadi. Tukang-tukang juga banyak. Mereka hebat-hebat. Tukang batu secara canggih mesti menumpuk peralatan itu agar tersusun secara cermat. Dan tukang kayu membangun jendela-jendela supaya rapi. Walau sekarang banyak penggantinya yang bisa tersusun rapi serta cepat. Dan tinggal mengambil banyak waktu untuk mempercepat pembangunan dengan hanya memasang yang sudah tercetak itu. Lalu menerapkannya tepat pada susunan itu.
“Fiuh memang benar kalau mengangkat batu bata adalah cara bersantai paling ampuh,“ ujar Lin Tian sembari menata nafas. Dia merasa lumayan capek membangun demikian saja. Itu belum lagi yang lebih capek yaitu membangun rumah tangga. Tentu akan lebih rumit lagi. Tapi dengan menjalani dengan telaten. Maka pekerjaan yang berat tersebut dengan mudah teratasi, malahan membuat suasana terasa menyenangkan.
“Kakak-kakak sekalian, waktunya makan…“
Membawa nasi kotak.
“Aku harap nasi kotak pagi ini isinya paha ayam,“ ujar Lin Tian sangat berharap. Sudah lama dia makan demikian, tapi tak juga jera. Maklum saat miskin dulu, dia hanya makan sedapatnya. Banyak-banyak makan nasi tanpa lauk pauk. Apalagi pakai , ...“Lin, bos Lin, ini untukmu,“ ujar si cewek dengan senang memberi jatah bos nya itu nasi yang sama dengan para kuli. Tak dibeda-bedakan. Meski biasanya sang bos dapat makan dengan piring dan sendok emas, tapi kali ini karena kesederhanaannya membuat Lin Tian sangat suka membaur dengan mereka yang juga pekerja berat.
“Jangan sungkan, kita semua keluarga,“ kata Lin Tian yang merasa bukan bos. Lagipula sejauh ini dia demikian saja. Tak membeda-bedakan. Dan itu membuat dia nyaman. Mengenang kembali saat dia belum mengenal sistem. Yang harus makan dengan sekedarnya. Harus bekerja paruh waktu. Dan ke sekolah compang-camping. Serta malu untuk membaur dengan orang kaya yang suka makan sate dan es the. Dia kini sama saja.
Diterima dengan senang hati.
“Lihat apa kamu!“
Direbut nasi kotak tersebut. Orangnya tinggi besar. Sesuai.
“Kenapa kamu tidak antri?“ heran dia dengan beberapa orang yang sama sekali tak mengindahkan budaya tertib.
“Kalau kamu tidak ingin mendapat kesulitan lebih baik cepat dengarkan aku!“ ujarnya dengan suara yang menyeramkan. Mengancam, bahkan membuat detak jantung seakan berhenti saja. Sudah orangnya demikian menyeramkan, tinggi, besar, kerjanya kasar tentu siapa saja bakalan mendengarkan. Kalau telinganya tak ditutup kapas. Dan itu terbukti dengan beberapa orang tak berani melarangnya.
“Tapi…“
“Astaga aku belum pernah melihat nona ini sebelumnya,“ katanya seraya menunjuk ahli desain rumah, namun lagi senang membagi-bagi nasi kotak.
“Nanti - nanti kamu punya waktu untuk main bersamaku tidak?” tanyanya setengah memaksa. Tentu akan membuat yang diajak merasa ngeri, sehingga mau saja. Walau itu Cuma ke bioskop, melihat film romantis yang diambil dari adaptasi novel MT. atau Cuma ke restoran cepat saji dengan menu kekinian itu.
__ADS_1
Lin tian mangkel ada orang seperti itu. Masih ada saja ternyata. Kalau belum kena batunya, maka dia tak merasa sakit. Seperti orang kena kencing batu, dia tentu akan merasa begitu kalau batunya belum diangkat. Begitu juga kali ini. Hanya membuat geram saja. Muak. Dan ingin rasanya dia menceramahi si preman dengan jarak yang lumayan dekat, satu setengah senti.
Ada yang memegang pundak. “Tahan diri, kita tidak bisa mengganggunya,“ ujarnya memperingatkan. Karena dia memang demikian menyeramkan sekaligus sakti. Dimana taka da yang ditakuti, apalagi menakutinya. Yang mereka perlu hanya beberapa rasa takut, sehingga akan memberikan apa saja yang diminta.
“Oh apa latar belakangnya? “
“Pokoknya dia orang yang sulit ditaklukkan , terlibat mafia....“
“Kalian disana bisik-bisik apa hati-hati aku akan menguliti kalian."
Melihat HP.
“Nanti aku akan membereskan kalian.“
Kedua orang itu terkejut.
Takut… Kaget.
“Kalau memang harus ada yang mendapat kesulitan dialah orangnya disini aku adalah bos,“ ujar Lin Tian yang merasa Bos, serta tidak ingin mendapat kesulitan. Bagaimanapun. Dia punya uang. Dia punya rencana. Dan pembangunan tempat itu mesti terlaksana saat itu. Tanpa ada pengganggu. Dan pengganggu itu mesti enyah. Kalau tidak sekarang kapan lagi. Tempat itu juga didapat dari jerih payahnya mengatasi berbagai kesulitan. Semudah itu main palak disini, tak bisa. Mesti dilenyapkan orang-orang seperti itu. Enyah dari sini, juga kalau perlu dari seluruh penjuru negeri, bahkan dunia yang serba keras ini.
Temannya bingung.
“Kak sanya ada perintah apa hari ini?“ tanya si tinggi besar.
“Sudah ada yang pergi ke proyek kalian?“
“Nanti kamu….“
__ADS_1
Mereka ingin melakukan sesuatu.
“Sialan Xiaoli masih dalam pemulihan obat tidur tidak ada yang membantuku,“ ujar Lin Tian panik. Bagaimana tidak, salah satu kekuatan yang membuat dia bertahan hingga sekarang dalam menghadapi musuh adalah kekuatan Xiauli yang demikian hebat. Kali ini tanpa dia tentu merupakan sebuah kerugian. Dan itu bisa menjadi bencana yang lebih besar.
Orang - orang kumpul.
“Pergi kalian!“
Untuk merencanakan sesuatu. Baik melawan, maupun akan bertahan demi sesuatu yang mesti dipertahankan. Dan itu bukan hanya musuh yang bisa mengerahkan demikian banyak orang. Kalau mereka bersatu, juga akan sanggup menghentikan orang-orang itu. Dan kini inilah yang tengah mereka lakukan demi menunggu kegiatan apa yang akan dilakukan sang Bos.
“Hahaha orang ini bodoh beraninya melawan kita.“
“Bahkan berani bilang kalau dia turun tangan, kita akan habis. Omong kosong!“
Bogem mentah mendarat. Bakalan pusing yang kena. Jangankan yang segede itu tangannya. Kena sedikit saja sudah bisa merasakan pusing tiada terkira.
Diambil sekop. Dia juga ingin menghentakkan itu pada lawan. Lumayan juga seperti pasir yang terambil tentu kepala juga bisa se gawat itu.
“Entah apakah kamu akan merasa sakit kalau dipukul menggunakan sekop ini?“
Semua terbelalak. Ancaman itu tentu sangat mengerikan. Apalagi yang membawa bertubuh besar. Tenaganya kuat. Maka tak ayal kalau mengani betulan, bakalan sirna.
Boom.
Meledak.
Thit.....
__ADS_1
Bus besar datang.
“Kalau mobil ini menabrak mu apa kamu merasa sakit?“ ujar Lin Tian yang terpaksa berbuat keras. Sementara tak akan mendapat bantuan dari Xiauli yang jelas masih lelap dalam obatnya. Dan itu salah satu cara guna menghentikan sepak terjang lawan yang begitu menyeramkan.