
“Aih… Bagaimana ini?“
Di suatu gedung nan tinggi.
“Masih ada dua pertandingan lagi baru bisa melakukan perhitungan akhir semoga tidak terjadi halangan lagi. Tapi sudah terlanjur begini. Hasilnya bisa memburuk sampai mana?“
“Eh, siapa yang menelepon pagi-pagi begini,“ ujar Lin Tian memandang HP nya. Pasti penting. Bagaimana tidak. HP. Telepon. Fungsinya untuk hal penting. Komunikasi mudah. Cepat. Dan langsung bisa mengerti isinya. Maka tak heran jika langsung menduga demikian. Karena untuk apa tidak penting mesti memakai alat komunikasi canggih demikian. Hanya akan membuang-buang saja.
Bu Guru Chen. “Lin Tian. Apa kamu melupakan sesuatu?“
“Apa itu, bagaimana kalau istriku yang mengingatkan ku?“ ujar Lin Tian mencoba se romantis mungkin. Dia masih ingat bagaimana meskipun si cantik itu berada pada posisi yang rumit, namun sudah pernah menjalani kehidupan suami istri pura-pura yang mestinya bisa berlanjut hingga sekarang.
“Jangan sembarangan memanggil orang. Aku menelepon untuk mengingatkanmu. Kalau kamu masih seorang mahasiswa. Ujian sudah hampir tiba,“ kata Guru Chen sembari mengenakan pakaian supaya di waktu yang sempit begini juga masih bisa berbuat hal terbaik bagi siswa nya yang sedikit malas itu. Kalau tak demikian akan payah. Makanya sembari menelepon dia mengenakan pakaian seragam yang paling rapi.
“Minggu ujian. Apa langit ingin membunuhku?” Lin Tian mengeluh. Sebuah hari yang demikian berat. Menghadapi ujian sementara belum siap. Belajar pun sia-sia. Hanya masuk sedikit. ”Tunggu dulu. Untuk apa aku bersusah hati. Si Panda dan Zhai Zhen juga ujian kan? Ini adalah kesempatan baik untuknya,“ kata Lin Tian langsung mendapat ide untuk sebuah permainan yang mesti di menangkan.
#
__ADS_1
TTL IMAX.
Pada gedung itu, Lin Tian kesana. Menemui para gamers nya yang tengah santai. Tentunya bakalan dia utarakan hal-hal yang berkenaan dengan usaha membantu nya supaya segalanya berhasil di lewati dengan baik. Baik itu ujian yang mesti lulus, juga permainan yang mesti bisa dimenangkan oleh anak buah yang demikian saja.
“Zhai Zhen. Xiao Zhai Zhen. Sebentar lagi akan ujian. “
“Aku tahu,“ ujar Zhai Zhen tetap tenang. Seakan dia sudah memahami kalender pendidikan yang mesti di tempuh sesuai rencana. Dan di ujung perjalanan itu sudah dipahami bahwa mesti melewati hal paling sulit yang di alami seorang pelajar. Dan kini, sekarang ini, itulah yang mesti dihadapi diantara berbagai permintaan yang harus dilalui juga. Harus bisa dan mesti sanggup.
“Kalau kamu tidak mulai belajar, kamu tidak akan lulus pelajaran itu,“ ujar Lin Tian langsung menduga demikian. Bagaimana mau belajar, kalau kesukaannya main game dan sudah pasti menang. Makanya pasti bakalan main game terus, sampai mata jadi belo. Dan tubuh pucat pasi karena kurang tidur malam.
Uhuk, Uhuk…
“Tim TTL mengedepankan perkembangan sempurna di segala aspek. Baik dari moral kecerdasan dan fisik. Kalau sampai tidak lulus. Jika kamu gagal dalam satu mata pelajaran, kamu akan menjadi pengganti tim TTL yang dengan tegas mempromosikan energi positif kampus,“ ujar Lin Tian.
“Aku juga berpikir demikian,“ kata Zhai Zhen. Pikirannya demikian jauh. Sehingga apa yang sekiranya kurang tepat pada sasaran akan menjadi sebuah polemik yang kemungkinan tak bakalan berhasil apa yang dia tempuh. Makanya langsung sadar diri dan mesti banting setir ke arah yang bagus. Kendaraan saja kalau setir nya tidak di banting akan membuahkan kecelakaan serius, makanya hal ini lebih baik jika banting setir untuk melaju di jalur yang kiranya sesuai dengan angan dan harapan, terlebih lagi seirama dengan kemampuan yang dia punya, maka akan membuahkan hasil maksimal yang bisa di capai.
“Bagus, bagus, kesadaran mu sangat tinggi,“ ujar Lin Tian memuji anak buahnya yang sudah sangat paham akan aturan yang aling baik demi seorang pemain agar segalanya berjalan dengan baik. Baik dalam bertanding, namun moral nya juga apik. Dan itu yang diinginkan setiap pemilik sebuah tim.
__ADS_1
“Tapi aku sudah kelewatan. Sudah mengikuti ujian seluruh mata pelajaran semester 8. Sekarang aku menjalani gelar S2,“ kata Zhai Zhen sembari terus main komputer.
Di depannya Xiaomajun juga tengah menatap layar monitornya. Serius sekali dia kalau tengah main game. Tak ada yang boleh mengganggu.
“Aku tinggal di asrama selama 2 tahun, tidak keluar. Guru-guru juga tidak memperdulikan ku. Karena aku lebih cepat naik ke gelar S2,“ jelas Zhai Zhen tanpa perlu membanggakan diri. Dia hanya berkisah tentang kenyataan yang ada. Dan akhirnya itu yang di dapatkan. Walau sekarang pendidikan demikian sudah umum. Bahkan kemampuan antara pemilik S1 dan S2 sama saja, setidaknya dengan mempunyai gelar itu bakalan di ketahui orang kalau sudah menempuh gelar sejauh yang di dapat. Karena sebagaimana disadari bahwa mendapatkan hal itu tidaklah mudah. Banyak rintangan yang menghadang. Dan andai kini sudah ada di genggaman maka untuk selanjutnya bakalan di fungsikan sebaik mungkin agar bisa berguna buat nusa, bangsa dan agama. Maka di lain waktu hal yang sebelumnya belum di pahami kegunaannya, lambat laun juga akan bermanfaat.
Lin Tian ternganga. “Bagaimana denganmu? Kamu tidak mungkin sudah S2 kan?“
“Tidak, tidak…. Aku sudah lama hidup di warnet, tidak mungkin S2,“ kata Panda sembari makan dari dalam tempat yang praktis. Tinggal buka, seduh, langsung di lahap. Tanpa menunggu dingin. Makanan praktis anak kost an yang mudah di bawa termasuk bermalam di warnet.
“Beruntung aku memilikimu,“ kata Lin Tian. Dia senang. Begitu bangga dia mempunyai anak buah seperti si gendut yang memang mirip itu.
“Aku adalah mahasiswa jurusan sosiologi. Aku telah menulis pengalamanku bermalam di warnet menjadi laporan akhir. Professor dari jurusan kami menyukai laporan ku. Dan memintaku ke laboratorium saat liburan untuk meneliti topik ini. Dan aku tidak perlu mengikuti ujian,“ kata Panda. Dia senang. Bagaimana mau ikut ujian yang bikin pusing, andai solusi lain lebih bermakna baginya. Yah di laboratory langsung bisa praktek. Tanpa perlu berpikir keras serta memikirkan hal lain yang bikin otak pusing. Serta kemungkinan bisa lebih bisa dengan langsung praktek. Kalau terus menerus memikirkan suatu pelajaran yang sama sekali tak tercantum di otaknya pasti bakalan kacau nanti.
Lin Tian sedih.
“Kalian.. Kalian semua menindas ku,“ ujar Lin Tian sembari menutup muka. Ternyata rencana nya tak semulus dengan kenyataan yang di hadapi. Semua seakan menolak untuk melakukan kebaikan untuknya.
__ADS_1
“Dulu aku bijaksana dan berani. Begitu sistem diperbaharui seluruh dunia terasa sedang melawanku,“ ujar Lin Tian dengan air mata bercucuran dan merasakan seakan hatinya tengah patah, jantungnya bagai robek dari atas ke bawah. Terbelah. Pecah.