
Pada suatu ruangan. Seseorang masuk ke sebuah pintu. Ada yang menemui.
“Wah bapak…“
Nampak senang.
“Angin apa yang membawa anda kemari?“
“Lin Tian, apakah dia adalah murid kelas mu?“ ujar pak guru yang sangat berpengaruh bertanya kepada gurunya Lin Tian.
Mereka menuju ke kelas.
“Siapa Lin Tian? Mohon berdiri!“ ujar pak guru yang langsung menuju ke ruang kelas untuk mencari seseorang yang bernama Lin Tian.
Anaknya tertidur. Si Lin Tian itu. Sedikit ngorok pula. Sangat capek kali dia. Atau tengah memimpikan bertemu dengan bidadari pujaan yang selam ini dia cari-cari.
Brak!
Pak guru marah. Di gebrak nya meja.
“Bangun!“ ujar guru membangunkan Lin Tian. Sangat pantas dia di bentak. Tak tahu adat. Sukanya main sesuai keinginan sendiri. Melanggar aturan. Dan mesti di bentak, biar kaget. Sebab kalau halus halusan di kira berada di gunung terus kena angina sepoi-sepoi. Maka akan bertambah nyenyak tidurnya. Itu tak baik. Dasar sampah, hanya mengotori kelas saja nantinya.
“Eh, sudah selesai pelajaran,“ ujar Lin Tian tergagap. Kaget dia. Benar-benar bukan karyawannya mungkin. Masa membangunkan begitu. Tak ada halus-halusnya. Kalau karyawan nya past telah berusaha selembut mungkin. Selamat pagi, sudah pagi, begitu. Ini main bentak dan gebrak meja saja. Memangnya meja terbuat dari karet yang empuk. Kan keras. Bisa menimbulkan bunyi tak mengenakkan.
“Ternyata kamu adalah Lin Tian. Kamu setiap hari tidur di kelasku. Nilai mu selalu 0,“ ujar pak guru. Dia mengurai tentang hasil belajar pemuda ini yang masih jauh di bawah KKM. Mesti banyak mengulang dan diberi hukuman kalau ingin nilai yang wajar.
__ADS_1
Lin Tian bingung.
“Kamu tidak akan lulus dalam pelajaran ini,“ ujar pak guru yang langsung memberi tanda silang pada daftar nilai. Biar kapok. Sama sekali dia tak akan mendapat apapun di pelajaran yang dia berikan. Karena demikian tak menaati aturan. Serta bebasnya pula main tidur di kelas. Sementara yang lain enak mendengarkan materi berharga yang akan berguna di kehidupan selanjutnya. Ini malahan kacau. Apa artinya kalau hanya tidur. Tidur itu di rumah. Bukan di kelas, di perpus, atau di lingkungan lain nya pada komplek persekolahan yang sangat ketat menjaga aturan ini.
“Guru Li jangan terburu-buru. Lin Tian telah menyelanggarakan kontes di Universitas. Dia juga mengeluarkan modal untuk membenahi taman yang sudah kita abaikan. Perbuatannya sangat terpuji,“ jelas pak guru.
“Membenahi? Membenahi apa?“ ujar Lin Tian yang justru bingung.
“Murid Lin benar-benar terhormat sampai tidak memperhitungkan kebaikanmu sendiri. Kemarin bukannya kamu mengajukan proposal untuk membenahi taman sekolah dengan biaya 600 ribu yuan,“ ujar pak guru menerangkan.
“Oh, semalam aku menandatangani sesuatu dengan setengah sadar. Ternyata proposal ya…“ ujar Lin Tian saat mengingat-ingat dia di dekati cewek cantik.
“Mari ikut denganku sebentar. Ada beberapa poin yang ingin aku bicarakan denganmu mengenai proposal tersebut,“ ajak pak guru.
“Kalau begitu bagaimana dengan nilai Lin Tian?“
“Murid yang sangat memperhatikan pembangunan taman sekolah mana mungkin nilainya tidak bagus,“ ujar pak guru marah. “Berikan nilai sempurna. Harus nilai sempurna!“ katanya lagi.
“Apa semua orang kaya bisa semaunya seperti ini?“ ujar guru bingung. Kalau semua di rubah tanpa ada nya data dukung, maka akan pusing sendiri. Walau sangat mudah seorang guru merubah dari satu nilai ke nilai lain, tapi jika semuanya dilakukan demikian saja maka akan sedikit aneh kelihatannya. Mesti remidi. Atau mengerjakan tugas adalah sebuah kewajiban untuk mengisi data dukung perbaikan nilai itu. Bahkan ada yang membawa alat bermanfaat bagi sekolah, misalkan sapu atau sabit. Semua ini bisa dipakai untuk kebersihan ruang. Daripada jika mesti merubah nilai dengan tes yang hasilnya juga tak memenuhi KKM. Maka mesti dilakukan berulang-ulang.
“Bapak, apa ada masalah pada proposal nya?“ tanya Lin Tian dengan pak guru di ruangannya yang sangat nyaman itu.
“Atasan sangat memandang penting renovasi taman ini. Kita harus mengedepankan kualitas. Jadi sumbangan dana mu ini akan diwakili olehku untuk pengelolaannya. Aku akan mengawasi semua pekerja dengan baik,“ kata Pak Guru menjelaskan tujuannya mengundang murid yang sudah sangat menyumbang dengan lumayan banyak itu.
“Ingin korupsi. Mau mengeluarkan dana seminim mungkin dan menelan dana besar sisanya. Apa uangku jatuh dari langit? Kalau dipikir baik-baik memang benar. Tidak apa-apa kalau ingin menghamburkan uang sembarangan. Tapi kalau untuk korupsi. Jangan harap!“
__ADS_1
“Terima kasih atas perhatian bapak. Tapi sejak awal aku sudah merencanakan hanya aku lupa menulisnya saja,“ kata Lin Tian.
“Mana bisa begitu. Aku sudah membuat rencana. Bagaimana alokasi dananya?“ kata pak guru sedikit bingung mendapati kenyataan kalau Lin Tian sama sekali tak bersedia memberinya pelang untuk mengembangkan bakat. Sehingga akan kacau kalau sampai taman yang diidamkan banyak orang tersebut batal dikerjakan. Semua akan terbengkalai. Dan pemandangan yang memanjakan mata sama sekali bakalan tak bisa terwujud. Ini semua gara-gara Lin Tian yang enggan melepaskan uang 600 itu.
“Teman teman. Kata bapak guru, renovasi taman sekolah akan di mulai sekarang. Semuanya bisa berpartisipasi. Durasi pembenahan 3 hari. Seorang 5000 yuan. Totalnya memerlukan 120 orang,“ kata Lin Tian yang hendak berbagi. Daripada hanya masuk ke kantong seorang saja, mendingan di bagi-bagikan pada teman satu kelas yang sudah selalu bersamanya itu.
“5000 yuan? Aku bisa membeli Krypton dengan uang itu,“ kata murid gamer yang tengah berusaha mendapat itu.
“Akhirnya aku bisa beli HP baru,“ kata yang lain yang demikian menyukai aplikasi bermutu yang bisa menambah wawasannya.
“Aku mau.“
“Aku juga mau…“
Pada berebut. Ini rejeki namanya. Di rumah tak banyak uang saku nya. Makanya dengan adanya tambahan uang itu, bisa membantu orang tua dalam mengirit pengeluaran.
“Cepat berterima kasih kepada bapak guru,“ kata Lin Tian menunjuk pada seseorang yang tengah lesu. Mesti begitu. Murid harus sopan pada gurunya. Tak terkecuali akan hal tersebut. Dimana telah diberi ilmu dan berbagai pendidikan moral yang sangat berguna bagi masa depannya.
“Terima kasih pak guru,“ ujar para murid sangat senang. Jangankan di beri uang, jam kosong saja semua pada senang. Apalagi yang di inginkan seorang murid kalau bukan hanya diberi ilmu untuk masa depannya. Tapi kali ini mendapat yang lain, maka akan lebih berterima kasih lagi.
Bertambah lesu pak guru nya.
“Kalau kamu membuat keributan lagi, aku akan membatasi keikutsertaan semuanya dalam kontes,“ ancam pak guru. Mangkel dia. Tak bisa mengelola keuangan yang sangat banyak dari si kaya Lin Tian. Makanya mesti ada usaha untuk mendapatkan sesuatu itu.
“Bapak anda adalah penolongku,“ kata Lin Tian berbinar.
__ADS_1
Guru bertambah bingung.