
Pada duduk di suatu meja bundar dengan alas warna orange bukan pink. Menghadap botol. Mereka saling menatap dalam pertemuan.
“Adik, marga ku Mai, namaku Mai Jiayao,“ kata Mai Jiayao sembari mengangkat air minum, the tawar, less sugar.
“Aku dan kakak dari keluarga Mai, namaku Mai Budong,“ ujar Budong sembari minum sampai Budong. Langsung dari botol gendul yang isinya sangat banyak.
“Namaku Lin Di,” ujar lin Tian sedikit menyamar, karena dia taka ham apakah lawan bicara nya kali ini juga merupakan seorang penyamar atau nama asli dia tak paham. Terutama Budong. Bisa-bisa itu hanya karena bentuk tubuhnya demikian dia memakai gelaran itu.
“Barusan kamu bilang, kalau aku adalah saingan mu, maksud mu apa?“ tanya Lin Tian. Dia tak senang dengan ucapan saingan begitu. Padahal mereka sudah saling minum bareng. Tapi masih menganggap saingan. Ini berbahaya. Bisa-bisa nanti dia menusuk dari belakang sebagai saingan. Kan gawat.
‘Mulai, pemuda ini sedang menguji ku. Dia sedang menguji kerapatan mulut ku, selain itu, dia juga sedang menguji kemampuan reaksi ku.‘ Gumam Mai Jiayao penuh rasa curiga sembari menebak apa isi dalam kepala nya.
“Maksudku adalah menjadi cucu. Bukan mencintai lansia. Kita bergerak di bidang yang sama, mengurangi rasa kesepian para lansia,“ jelas Mai Jiayao tentang perasaan aneh lin tian yang beranggapan dia adalah lawan. Sehingga saling curiga.
“Oh, kalau begitu, kamu memiliki cara untuk menjaga lansia?“ tanya Lin Tian yang selama ini dia tak mengira kalau kegiatan nya menghamburkan uang perusahaan dianggap mendekati lansia.
“Tentu saja. Aku adalah pelaku profesional dalam bidang membuat lansia senang.“
“Baguslah kalau begitu, aku akan mempekerjakan kamu, dengan begini, aku bisa menjadi bos yang bermalas-malasan,“ kata Lin Tian sangat senang, sembari memberikan kartu kredit nya. Berapapun yang dia minta bakalan di berikan.
‘Dating lagi ujian kedua.’ Hatinya penuh curiga. “Jangan memandang rendah ku dengan uang, kepedulian ku dengan lansia murni adalah hobi saja.“
“Baiklah, paling-paling aku merugi lebih sedikit saja,“ ujar Lin Tian dengan sedih nya.
__ADS_1
“Aku dan saudara ku akan melanjutkan rencana cinta untuk lansia mu,“ ujar nya dengan tersenyum penuh persahabatan. Namun dalam hati dia bicara, ‘Kemudian aku akan mencari kesempatan untuk menendang mu keluar.’
‘Para kucai lansia ini, aku akan mengiris mereka,’ kata Lin Tian dalam hati juga penuh rasa dendam. Ujarnya lagi, “tidak bisa, bagaimana kalau sampai mereka membuat ku mendapat untung. Aku harus mencari orang untuk mengawasi.’
Dihubungi beberapa orang untuk tugas penting itu.
#
Mengintai. Anak buah Lin Tian langsung melaksanakan tugas nya. Dengan sembunyi-sembunyi dia terus mengikut Mai ke mana juga dia bertindak.
Si cewek mengendap-endap. Bersembunyi di pintu yang terkuak. Sembari mengintip orang tua yang dihibur nya.
Bahkan demi membantu sesama, dia sampai rela berkorban. Nenek di gendong sembari membawa bingkisan.
“Kamu begitu tidak percaya nya pada ku, sampai selalu mengutus orang untuk mengintai ku. Lagi pula kita kan bekerja di bidang yang sama, ini terlalu mencolok,“ ujar Mai demikian marah nya sama si Lin Tian yang sudah berlaku demikian. Mengutus orang untuk terus mengikuti nya. Serta melaporkan apa saja kegiatan yang tengah dia perbuat dengan orang-orang sudah manula itu. Mulai dari menyuapi, sampai main gendong-gendongan. Ini benar-benar suatu hal yang tak bagus dilaporkan, tapi membuat orang pada bersuka ria, karena permainan anak-anak begitu sudah jamak dilakukan di usia yang kembali merayap naik namun perangai nya seakan kembali ke masa dimana mereka dulu masih ber tangan empat. Begitu seterusnya, sampai kembali ke asal. Dari tak ada kembali hilang selama nya.
“Kakak sudah sangat bersusah payah, aku akan membantunya,“ ujar Mai Budong. Sembari menatap barang berbahaya itu. Dia akan mencoba membantunya. Bagaimanapun sudah jauh-jauh dari kampung dan hendak mencari pengalaman dalam kota yang serba penuh dengan banyak resiko. Kali ini adalah kesempatan. Hidup ini adalah kesempatan. Maka mesti melakukan sebaik mungkin. Kali ini ada barang itu. Maka bakalan di usahakan bagaimana supaya laku.
#
“Lagi-lagi menyuruh ku kemari untuk memberikan penghargaan pada Lin Tian. Bagaimana cara dia melakukan semua hal yang layak mendapatkan penghargaan. Dia sudah hampir menjadi cahaya kota ini,“ ujar polwan itu.
“Nenek ku semenjak menjadi kurir perusahaan keluarga Suxue, mendapatkan banyak teman, membuatnya bersemangat setiap hari,“ ujar pak polisi bangga juga pada Lin Tian. Sehingga layak dia mendapat penghargaan tersebut.
__ADS_1
“Benar, dulu kakek ku ditipu oleh orang, demi beras, minyak dan suplemen. Setelah ada Lin Tian, penipu itu hilang jejak nya,“ ujar pak polisi sangat bangga akan penipu yang sudah lenyap.
“Nenek, lihatlah suplemen ini sangat bagus. Setelah mengkonsumsi suplemen ini, rasanya akan sama dengan makan sebiji bakpao, sangat bersemangat,“ ujar Budong tengah membantu sang kakak, demi laku suplemen hebat tersebut.
Para polwan keheranan. Baru saja mereka membicarakan tentang kehebatan Lin Tian dalam memberantas barang terlarang, kini ada lagi yang main-main. Benar-benar kejahatan yang sangat sulit di berantas. Ada saja yang melakukan nya. Seakan tak ada takut-takut nya. Tak ada habis nya. Kena satu, yang lain bakalan tumbuh. Begitu seterusnya sampai dunia sepi.
Si Budong tentu saja ikut terkejut saat melihat siapa yang ada di sana. Dan seakan menatap nya penuh keinginan. Makanya dia berusaha menyapa.
“Kalian juga berminat. Kakak ku masih memiliki banyak stok.“ Dia menawari semua yang ada benda tersebut. Dan berharap bisa laku banyak. Sehingga kakak nya bakalan senang dengan kinerja nya yang sangat hebat.
Di borgol. Barang bukti jelas. Terkejut. Bahkan hendak naik ke kendaraan polisi yang mewah. Benar-benar satu hal yang sangat sensitif ini. Apa-apa main begituan.
#
“Adik Lin, langsung saja aku katakan padamu. Aku sudah menaklukan 80 % lansia di bawah mu,“ ujar Mai Jiayao dengan sangat bangga telah berhasil menaklukkan hati para lansia yang sudah beku dan membiru itu. “Kota ini hanya bisa memiliki satu ketua penipu, cepat beri tahu cara mendapatkan uang.“
Lin Tian hanya bisa pasrah. Dia memberitahu caranya. Termasuk kontrak.
“Hahaha, aku tidak menandatangani kontrak denganmu. Kalau aku lapor polisi yang di tangkap adalah kamu.“
“Apa, mencari uang, kamu sudah menuduh aku yang tidak tahu apa apa ini. Dan juga tidak perlu lapor polisi. Mereka sudah datang,“ kata Lin Tian yang sudah berhadapan dengan satu peleton polisi berseragam biru.
#
__ADS_1