
Di kantor pusat Tian Tian Lin.
“Rahasia yang bisa membuat mati jika mengetahuinya.“
Lin Tian sedang kepikiran sesuatu. Ada yang mengganjal di hati. Nampaknya sesuatu itu demikian membuat pemikiran demikian kacau. Bagaimana mungkin bisa mati. Ini adalah sebuah ancaman. Mengerikan serta bisa membuat hati galau. Bagaimana tidak takut, kalau belum tahu apa-apa sudah harus mengucapkan kematian. Sedangkan hati ini masih ingin hidup. Dan seribu tahun ke depan, itu bila mungkin. Serta mesti paham akan segala yang indah-indah. Bukannya tentang hal mengerikan begitu.
“Kita udah harus pergi dari sini.“
“Lin Tian terima kasih sudah memiliki niat untuk membantu kami.“
“Tapi, Keluarga Qian… Aku bisa membereskannya,“ ujar Lin Tian.
Keduanya tercengang.
“Kau tahu keluarga Qian?“ ujar Duoduo.
“Silahkan cola berumur 82 tahun…“
Sembari menuang cola tua itu.
“Mari kita berbincang sambil minum.“
__ADS_1
“Keluarga Qian adalah anak keluarga terbesar dari keluarga Li. Sedangkan keluarga Li memang seperti perkataan orang-orang, merupakan salah satu dari empat keluarga besar di Fuzhou. Meskipun keluarga Li hanya di urutan ketiga, tapi dia memiliki budaya yang paling kuat. Master piano, catur, lukisan, dan ahli seni lainnya semua berhubungan dengan keluarga Li. Kalau aku tidak salah tebak, kalian keluarga Qian, adalah keluarga yang memasok ahli music pada keluarga Li,“ tebak Lin Tian yang ahli tebak-tebakan tapi tak jago menebak.
“Kami keluarga miskin, mana mungkin berasal dari keluarga besar,“ ujar Qian.
“Tangan tidak akan menipu,“ kata Lin Tian. Dia lumayan bisa melihat dari satu sisi yang Nampak dalam pandangannya. Dan tak akan tersembunyi oleh beberapa petunjuk yang sengaja menyamarkannya. Hal itu sudah menjadi pemandangan yang manis untuk apa dan mengapa kenyataan demikian tak usah di sembunyikan.
“Telapak tangan? Jari? Sidik jari? Kamu telah memeriksa sidik jari kami?“ ujar Qian Duoduo.
“Maksudmu adalah tanda yang ada di tangan kalian tidak akan menipu orang. Tangan kalian sangat halus, tapi ada tanda yang muncul di tangan kalian.“
Lin Tian memegang tangan keduanya. Halus sekali.
“Hanya ada dua jenis orang yang memiliki tanda seperti ini. Yang pertama adalah pria rumahan. Dan satunya lagi adalah pemusik.“
“Kalau keluarga Qian sangat kuat, kenapa kalian sampai harus pergi dari keluarga Qian?“ tanya Lin Tian. “Dan bagaimana kalaian hidup sampai sekarang?“
“Karena ayah kami….“ tak bisa meneruskan.
“Jangan harap kalian bisa mengirim putriku pada keluarga Li untuk dijadikan pembantu!“ seseorang datang tiba-tiba. Nampak menyeramkan. Sesuatu yang demikian berbahaya buat yang tak bisa menandinginya. Karena seram dan galak. Serta terlihat kejam sepertinya.
“Menyebalkan semakin lama semakin banyak yang mengejar.“ Terbayang saat dahulu demikian pahit. Banyak yang mengejar, namun sulit sekali meloloskan diri.
__ADS_1
“Kalian harus hidup dengan baik ya! Ayo! Aku akan memukul sepuluh orang,“ ujar Ayah Qian.
“Ayah, ayah… Ayah, kenapa tidak menginginkan kita lagi? Setelah dewasa, kami baru tahu kalau ayah menjadi korban demi kebebasan kami ayah. Ayah sangat luar biasa…“
Lin Tian ikut menangis.
“Jadi kami tidak bisa menyia-nyiakan jasanya. Kami harus hidup jauh dari keluarga Qian,“ jelas dua perempuan itu yang seakan tak menyesali kalau kali ini lumayan bisa berdiri di kaki sendiri. Meski masih ada bayang-bayang ketakutan, jika mereka kemudian akan menemukan kembali dan menjadikan mereka satu hal yang lumayan kacau. Itu akan membuat mereka terus-terusan berada di pihak yang rendah, dan sulit melakukan perlawanan dimana orang kuat demikian akan mampu melaksanakan kehendak sendiri secara tak menguntungkan buat mereka.
“Apa kalian tidak ingin membalas dendam?“ ujar Lin Tian sembari mengusap air matanya. Sedih sekali kalau melihat kenyataan demikian. Sebuah kesejarahan yang akhirnya memaksa satu generasi harus berada di pihak yang mesti kalah. Itu benar-benar sulit untuk bisa di terima secara akal sehat. Sementara semua ingin merasa kebebasan. Jadi tak harus berada dalam sebuah generasi yang harus selalu kalah, hanya karena terlahir pada sebuah keluarga yang sudah kalah semenjak sebelum itu.
“Lin Tian jangan mengambil resiko, kalau keluarga Qian menyadari keberadaan kami, kami tidak bisa hidup dengan tenang lagi,“ ujar Qian Duoduo yang merasa pesimis kalau mesti berhadapan dengan orang-orang itu yang selalu dan selalu bisa menemukan keberadaan mereka. Makanya mereka berusaha menyembunyikan diri dengan identitas yang juga berbeda dari waktu ke waktu. Sehingga kala ada yang melacaknya akan sedikit kesulitan. Dan itu berlangsung lumayan lama, sampai ada masalah dengan keberadaan Bos Muda yang sedikit ingin paham akan kehidupan mereka. Sebab hal ini lumayan bisa membuyarkan konsentrasi dalam menyembunyikan diri. Lebih jauhnya lagi akan payah kalau ketahuan pula.
“Masih pertanyaan tadi, apa kalian tidak ingin balas dendam?“ tanya Lin Tian. Yang merasa kejadian tadi belum menemukan jawabannya. Sebab hal ini penting. Untuk melanjutkan langkah yang sangat baik guna membereskan satu urusan yang belum tuntas.
“Sulit sekali untuk melawan keluarga Qian.“ Keduanya menggelengkan kepala. Semacam tak berani. Sedangkan kenyataannya memang demikian. Mereka mesti selalu berada dalam kesulitan untuk mengalahkan kelompok kuat itu.
“Aku Lin Tian, selamanya akan memecahkan kesulitan apapun itu,“ kata Lin Tian. “Jika tidak ada kesulitan, aku akan menciptakannya hanya untuk memecahkannya. Aku akan membantu kalian membalaskan dendam.“
Lin Tian membuat surat tantangan. Dia tidak main-main. Walau hanya mengandalkan keberuntungan. Selama ini dia merasa selalu beruntung. Sehingga banyak lawan yang terkalahkan berkat bantuan sistem yang membuat dia selalu beruntung. Walau begitu akal juga mesti diandalkan. Dan merasa kalau akalnya lebih hebat dibanding para lawan. Itu akan membuat dia juga percaya diri. Dimana semua bisa berjalan dengan lancar. Sesuai dengan apa yang direncanakan itu.
“Ini…“
__ADS_1
“Kamu mau menantang keluarga Qian?“ tanya Qian Duoduo tak yakin. Sebab keluarga Qian demikian tangguh. Meskipun beberapa kali Lin Tian menunjukkan siapa sebenarnya dia yang lebih tepas sebagai jagoan, namun kalau harus melawan demikian banyak orang, maka harus orang perkasa yang sanggup memenangkan sebuah pertarungan itu. Walau tak harus perkasa secara fisik, akan tetapi mengungguli sesuatu dengan akal juga dianggap perkasa dalam artian mampu mengalahkan kelompok kuat itu. Sebab kalau perkasa secara fisik, tapi lemah mental, maka dia akan terkalahkan juga. Lihat saja Goliath yang mesti menyerah sama orang yang lembut. Atau raksasa Kumbakarna yang mesti kalah melawan monyet. Itu sebuah kenyataan, jika tak selamanya orang besar akan menang menghadapi kecerdikan.
“Tantangan individu, aku bukan berjuang seorang diri. Aku Lin Tian… Membuat kekacauan berdasarkan pesanan,“ kata Lin Tian.