
“Permisi… Perusahaan Tian Lin sangat terkenal, tapi apa bidang industri utamanya?“
“Eh, pertanyaan bagus,“ ujar Lin Tian. ‘Kalau di pikir-pikir, aku juga tidak tahu’ terbayang dalam bayangan nya apa saja yang sudah di buat oleh perusahaan Tian Lin untuk berbagai produk yang sangat menjanjikan. Ada makanan, tim game online, wig, idola berbakat. Semuanya mereka buat. Bagaimana dalam bidang idola langsung terbayang si Hao dengan suara aneh dan mengesankan namun begitu banyak penggemar. Juga kelompok game yang amburadul ternyata mampu bersaing dengan lawan sekelas Korea yang sangat di idola kan penggemar nya. Juga penjualan wig yang demikian saja namun nilai nya bisa di tukar dengan mobil sport yang cukup mewah. Itu semua bidang usaha perusahaan yang tak jelas yang mana yang utama. Semua nya serba menguntungkan dan sangat berpotensi. Makanya Lin Tian sendiri bingung. Beginilah nasib bos kalau banyak usaha, bakalan kebingungan sendiri akhir nya. Lalu tanya nya lagi, “Menurutmu?“
“Seperti nya perusahaan Tian Lin bergerak di bidang manapun. Tapi seperti nya tidak bergerak di bidang mana pun,“ ujar si calon pekerja sembari kebingungan juga saat di tanya demikian. Dia yang bertanya, tapi dia juga yang mesti menjawab. Karena tes wawancara ini juga sedikit membuat kepala berkeringat. Benar-benar memusingkan diri sendiri ini namanya. Kemudian dia berkata, “Aku tahu. Bidang utama Tian Lin adalah investasi.“
“Benar, menghamburkan uang untuk merugi bukankah itu investasi,“ kata Lin Tian senang. Seakan jawaban itu menjawab apa yang tengah dia pikirkan juga. “Kalau begitu mohon saran anda, ahli. Sebaiknya bagaimana aku harus berinvestasi agar meru…. bisa mendapat untung.“
“Kebetulan aku mempelajari ekonomi. Untuk mendapatkan untung, tentu saja harus memilih proyek yang memiliki harapan, lalu berinvestasi berdasarkan pendapatan yang masuk akal,“ terang si ahli ekonomi itu sembari menjelaskan bagaimana sebaiknya berinvestasi yang sangat menjanjikan serta menguntungkan perusahaan walau sedikit membuat Lin Tian menangis nanti nya.
“Benar. Selanjutnya, perusahaan akan mengembangkan proyek investasi harapan, nanti kamu magang di tempatku saja,“ ujar Lin Tian.
“Investasi harapan? Apa itu?“ tanya semua peserta yang ikut hadir.
“Beberapa hari lagi, kalian akan tahu,“ jawab Lin Tian. Sembari tersenyum, misterius.
#
__ADS_1
Beberapa hari kemudian pada suatu ruang kantor. Dimana Bos Lin Tian tengah dihadapkan pada suatu permasalah berat, sembari sedikit merenung, dengan ahli ekonomi berada di depan nya, pada meja yang sama dan tengah berpikir keras sembari memperhatikan komputer yang terus bekerja menampilkan berbagai program nya.
“Direktur Lin, aku sudah siap,“ kata si ahli ekonomi.
“Mari kita sambut pencetus proyek ini,“ kata Lin Tian menyambut yang datang.
“Proyek ku, sangat sesuai dengan tema harapan,“ kata si tukang proyek dengan pakaian yang nyentrik. Sudah pakai ikat kepala hijau tapi rambut awut-awutan, kaos pink, dan sepatu ungu. “Ini adalah proyekku. Proyek ku ini membawa harapan saling pengertian dan kemajuan umat manusia.“ Seakan tukang sulap saja dia kemudian membuka kotak dengan hati-hati.
Kedua orang yang ada Nampak terkejut. Berdebar-debar menanti apa yang bakalan terjadi.
Satu bentukan kecil yang sudah tergambar baik. Seperti sebuah maket bangunan saja yang dibuat sangat detail.
“Telepon umum,“ jelas nya. Nampak sebuah peralatan kuno yang sekarang sudah jarang di pakai. Namun pada jaman nya sangat mengesankan. Di dalam boks itu banyak orang yang suka mengantri. Dan demikian betah tinggal di dalam nya hanya demi bicara dengan orang yang sangat di kasihi, di cintai. Tak harus pacar, setidaknya saudara atau ayah bunda yang sudah lama tak ketemu, misalkan seminggu, hanya untuk bisa mendengar suara nya saja sudah senang. Tak seperti sekarang yang bisa video call, dan bisa memandang orang nya, hanya dengan mendengar suara saja sudah langsung terbayang bagaimana bentuk muka yang mengangenkan itu. “Dengan scan code menggunakan telepon genggam, kalian langsung bisa menggunakan telepon umum ini. Tidak hanya retro dan keren, tapi juga sejalan dengan tren ekonomi berbagi.“
“Tapi, kita bisa menelepon menggunakan telepon genggam kita, kenapa harus scan code?“ tanya ahli ekonomi dengan masih kebingungan cara kinerja yang justru serasa semakin membingungkan dan bikin ribet.
Yang ditanya bingung. Seakan dia tak paham dengan apa yang dia bicarakan sendiri. Walaupun dia lulusan dari universitas ternama di luar negeri yang kemampuan nya di akui dunia, namun kalau tak jelas ya tetap saja kebingungan. Apalagi pertanyaan nya benar-benar tak bisa menjelaskan keuntungan yang bakalan di raih perusahaan.
__ADS_1
Lalu berpaling dan menuju pintu, “Saya pamit dulu.“
“Mohon tunggu sebentar,“ kata Lin Tian menahan nya. Setelah mereka dekat, lin tian berkata, “Aku akan berinvestasi pada proyek mu.“
“Ha, investasi,“ Ahli Ekonomi jadi kebingungan sendiri. Bagaimana bisa berinvestasi pada suatu proyek yang tak jelas serta bakalan tak mendapat untung.
“Tidak hanya itu, aku akan berinvestasi dalam jumlah besar. Setiap 100 m harus ada telepon umum ini selain itu telepon umum ini juga akan mengeluarkan uang banyak. Kita akan menggunakan bahan paling bagus untuk membangun bilik nya, agar terlihat mewah,“ kata Lin Tian dengan rancangan muluk-muluk nya yang bisa menguras dana perusahaan. Bahkan kalau perlu box telepon umum itu tak hanya di buat sederhana namun mau di bikin gaya gothik yang sangat klasik. Dengan pilar yang kokoh dan Menara yang menjulang tinggi serta meruncing itu. Bangunan nya benar-benar gaya renaisans yang dahulu pernah populer, sampai sekarang juga banyak di kagumi. Namun memerlukan dana besar untuk menyelesaikan nya. Sangat mahal.
“Pemuda hebat, hebat sekali. Inikah dunia orang kaya?“ ujar ahli ekonomi tak terbayangkan bagaimana nanti akan mendapat untung jika membangun boks nya saja sudah menyaingi istana boneka.
“Hahaha, perusahaan Tian Lin kita harus berinvestasi pada proyek yang memiliki harapan seperti ini. Apa kamu sudah mengerti?“ ujar Lin Tian.
#
Grup Lin Tian… pada suatu gedung kaca yang tinggi, tempat kantor nya,
“Lin Tian, penanam saham berbakat seperti dia. Kenapa bisa sampai rela mengeluarkan uang untuk proyek seperti ini?“ ujar ahli proyek yang keheranan sendiri. ‘Tidak beres, pasti ada maksud tertentu di balik semua ini. Kalau dilihat dari proyek-proyek sebelum nya yang di danai perusahaan Lin Tian. Ah, aku tahu. Lagi-lagi aku tahu. Eh, kenapa aku bilang lagi-lagi?’ gumam nya. Seakan dia banyak tahu sampai detail yang sudah Nampak di depan mata. Atau setidaknya dia paham pada segala sesuatu yang telah terjadi namun masih menjadi misteri bagi semua orang. Dan dia yang sudah mengenal betul untuk rahasia tersebut.
__ADS_1
#