
Sekolah musik keluarga Qian. Sangat popular, juga demikian terkenal. Karena sangat piawai orang-orang yang terlibat di dalamnya yang masih merupakan keturunan dari keluarga Qian yang memang sangat melegenda itu.
“Kepala sekolah, gawat, ada masalah besar!“
“Pak guru Xiaoli.”
”Apa kamu datang untuk minum teh?“ Seperti biasa, kebiasaan demikian sudah menjadi semacam ritual. Sebab the nya juga dibuat khusus dengan ramuan yang istimewa. Bahkan mengambil daunnya juga tak sembarangan. Mesti daun pilihan yang pantas sebagai minuman segar serta menyehatkan. Terlebih lagi, the khusus dari pegunungan tertentu itu sudah terkenal berkhasiat serta menjadi jamuan minum yang manis. Untuk para tamu penting yang bisa disejajarkan dengan jamuan makan keluarga kelas atas di luar daerah.
“Kepala sekolah ada yang membuat kekacauan,“ ujar ahli itu melaporkan keadaan yang sangat genting. Hal ini sudah bisa dirasakannya. Apalagi dia seorang pemusik yang tentu saja mempunyai jiwa dan rasa yang demikian halus. Makanya terkadang satu hal kecil bisa di rasa sampai membuat demikian melekat hal demikian untuk bisa dirasakan sampai ke dalam jiwa.
“Jangan panik, biarkan aku minum teh dulu, sebelum ke sana,“ ujar Kepala Sekolah yang demikian santai, bijaksana namun keputusannya penuh dengan pertimbangan dan sangat berbobot. Sehingga untuk menghadapi lawan tangguh juga sudah paham tata caranya. Mesti santai dan tak sembrono, maka semua akan bisa diatasi dengan akhir yang melegakan.
“Cepat… panggil kepala sekolah kalian keluar. Kalian semua tidak layak bertemu denganku!“ ujar Lin Tian yang terlampau berani. Masa kepala sekolah suruh dipanggil. Kan yang berhak memanggil ketua yayasan. Apalagi dia hanya murid, sudah pasti, bakalan bermasalah.
“Lewati aku dulu kalau mau bertemu dengan kepala sekolah!“ ujar yang jago music merasa anak itu bukan apa-apa yang mesti menghadap kepala sekolah sebagai pimpinan dari sebuah institusi dimana mesti dijaga kewibawaannya sehingga tidak sembarang orang bisa menemuinya, sejauh masih ada bawahan yang setia kepada sang kepala sekolah itu.
“Aku tidak berbakat, hanya pemain clarinet top dunia saja.“
“Mari kita bertanding.“
“Clarinet boleh saja. Er Mazi, maju!“ ujar Lin Tian yang merasa dirinya bisa main demikian namun ada yang lebih piawai yaitu rekannya yang bodi nya demikian saja. Namun layak dibanggakan kalau mesti bermain tiup meniup begitu. Soalnya dia sudah terbiasa termasuk demikian sering melatih diri kalau harus menghadapi musuh yang demikian jago. Makanya kala dipanggil namanya langsung dengan bangga membusungkan dada, seraya memperlihatkan wajahnya yang tampan serta penuh simpati itu.
“Hehe akhirnya giliranku,“ kata Er Mazi yang senang sekali mendapat kesempatan untuk tampil dan menunjukkan kelebihannya yang kurang itu.
“Kamu meminta orang seperti ini bertanding denganku?“ ujar si jagoan meniup yang seakan menganggap enteng lawan yang demikian kacau, baik penampilan maupun kenyataan lain yang mestinya teramat parah. Namun sebagai lawan, dia mesti mengalahkannya, walau harus sedikit menguras air mata kala melihat sebegitu nya lawan itu, bagaikan di tusuk hidung tapi kedalaman.
__ADS_1
“Kenapa? Apa semua pemain musik harus tampan?“ ujar Lin Tian tak menyangka jika musuh demikian meremehkan temannya yang demikian kacau namun bisa diandalkan, setidaknya dipanggil namanya saja sudah sangat bangga, itu berarti ada harapan untuk menang. Dibandingkan jika dipanggil namun diam saja bahkan pura-pura tak mendengar karena tengah mendengarkan head set. “Kalau begitu bukankah aku adalah pemain musik?“
“Huh. Malas sekali berbicara denganmu. Aku akan langsung memulai pertunjukanku“
Alunan musiknya merdu sekali. Hanya dengan alat music tiup itu saja. Sampai suasananya demikian berbunga-bunga. Apalagi dengan pemain yang sangat anggun. Rambut yang indah melambai, menjadi mahkota indah sebuah wajah yang juga menawan. Belum lagi clarinet nya juga sangat cantik. Bukan mudah memainkannya, tapi kala itu di tiup oleh nya menjadi satu alunan tiada tara yang membuat pendengarnya hanyut untuk bisa menitikkan air mata dari segala bidang.
“Aku hampir menangis karena terharu…“ Sedih pendengar. Memang musik terkadang demikian. Mampu membuat suka, mampu juga sebaliknya, menyedihkan. Bahkan sampai ada music yang bisa membawa si pendengar sampai bunuh diri, karena terhanyut akan kalimat jika di bawakan pakai nada. Namun kalau melengking tinggi, suara alat music itu juga mampu menyihir pendengarnya. Sehingga nada audio yang semestinya bisa di terma oleh pendengaran manusia, andai di naikkan atau di turunkan akan sebaliknya. Membawa pikiran manusia itu hanyut pada satu ilusi yang mengerikan. “Iya benar - benar seorang master.“
“Bagus juga seorang ahli yang bisa mengharukan penonton,“ kata Lin Tian memuji keunggulan keluarga Qian yang punya pemain demikian piawai melagukan kidung dari clarinet yang sangat langka.
“Tentu saja clarinet memiliki jangkauan yang luas, hampir empat oktaf dan merupakan juara musik dari alat musik jenis tiup. Ditambah lagi dengan pertunjukanku. Siapa yang bisa menang dariku?“
“Bukankah hanya bertanding siapa yang bisa membuat orang terharu? Er Mazi maju!” kata Lin Tian memanggil jagoannya. Pikirnya hanya supaya bisa membuat orang bisa menangis saja. Tak perduli itu di taburi bubuk cabai, kena debu, atau di tusuk hidungnya, yang penting bisa mengeluarkan air mata campur air liur.
Semua penonton… pada menggertakkan gigi.
“Bajingan dalam dunia musik.“
“Suona…“
Suram.
“Ini bukan air mata karena terlalu tidak enak didengar, ini adalah kepedihan murni, karena, di tanah Fuzhou semuanya meniup suona saat pemakaman.“
Semua jadi terkenang akan saat-saat duka kala mengingat saudara serta kerabat yang sudah mendahului mereka. Bagaimana tidak haru kalau seterusnya tak akan bisa melihat lagi. Dan itu tentu kenangan yang tak terlupakan.
__ADS_1
“Nenek cucu belum bisa melihatmu untuk yang terakhir kali…“
“Ayah waktu itu tidak seharusnya aku…“
Begitulah banyak orang yang mengingat kejadian pilu dahulu.
“Kali ini aku kalah, tapi kamu tidak bisa selalu mengandalkan trik ini untuk menang.“
Orang itu berbalik. Membiarkan yang sudah berlalu.
“Aku akan melawan sepuluh orang, siapa berikutnya?“ tantang Lin Tian.
“Aku!“
Mendekat dengan langkah anggun. Membuat terkejut Lin Tian serta semua yang ada di situ.
“Oh kamu adalah cucu pertama keluarga Qian. Kepala sekolah Queen kan?“ ujar Lin Tian.
“Kamu adalah Lin Tian si pemberani yang telah menantang seluruh keluarga Qian?” ujar Kepala sekolah tetap dengan suasana tenang. Walau sudah mengetahui rekannya sudah kalah bukan karena keahlian, namun karena kecerdikan pemuda satu ini dalam menguasai keadaan.
“Wah tubuhnya indah sekali biarkan aku melihat lebih dalam. Mata tembus pandang. Saat ini aku hanya bisa membacakan puisi….“
“Kalimat awal mati sebelum meninggalkan guru.
Lin Tian sampai terkapar. Dengan hidung mimisan.
__ADS_1
“Kalimat akhir tak disangka kepala sekolah.“