
Episode 2
Sistem menghamburkan uang lempar dollar yang ajaib ini. Itu untuk kisah kali ini.
Namun kalau diceritakan harus dimulai dari seminggu yang lalu. Yang mana pada waktu itu, “sudah selama ini kenapa belum sampai juga?“
“Silahkan bawa kartu ATM anda.” Terdengar suara yang menyeramkan sekali. Pertanda kalau tidak mengenakkan dengan mesin itu.
“Mau menabung saja susah sekali. Kerja keras sebulan hanya mendapat uang segini?“ terus saja Lin Tian menggerutu. Dia malas sekali menyentuh hal begituan. Sangat tidak sesuai dengan harapan juga pengeluaran tenaga yang susah payah dia keluarkan demi pekerjaan yang sangat berat. “Uang sejumlah ini mungkin saja perampok juga malas menyentuhnya. “
Baru saja dia selesai berucap demikian, langsung ada kegaduhan.
Bruk!
Ada suara senapan.
Rampok!
Pada berteriak.
Beberapa perampok muncul dengan senjata di tangan. Kaca-kaca berhamburan ke lantai, akibat berondongan senjata itu. Juga sekeliling ruangan tak luput.
Perampok itu langsung masuk, dan terus saja menodongkan pistolnya.
Orang-orang didalam tempat tersebut hanya bisa diam tertegun. Perampok - perampok itu menggunakan penutup muka. Layaknya kena penyakit mengerikan. Dimana sekarang banyak yang melakukannya demi menghindari penyebaran virus. Namun sang perampok malah sudah menggunakannya terlebih dahulu, sebelum virus itu benar-benar menjadi pandemi yang menakutkan dunia.
“Aku. Aku hanya sembarang bicara saja. kenapa benar-benar ada perampok? “
__ADS_1
Pucat pasi lin tian menghadapi kenyataan demikian. Terkadang kata-kata seakan menjadi doa. Sehingga bisa langsung terkabulkan. Namun kali ini benar-benar bukan yang diharapkan. Dan itu mesti dihindari.
“Tiarap semua!“ ujar perampok. Dia tidak segan-segan mengacungkan senjata rahasianya. Kalau di muka umum, sudah pasti bakalan kena undang-undang itu. Mengacungkan senjata tidak pada semestinya. Karena akan membuat orang lain ketakutan. Seperti saat ini. Semuanya selain terkejut juga langsung takut. Dan serta merta melakukan apa yang diinginkan para perampok itu.
Ada yang memegang belakang kepala. Ada yang menggelosor bahkan ada yang berusaha melihat.
“Apa yang kamu lakukan?“ ujar perampok. Ditodongkan senjata itu. Ini sebuah geliat yang tak baik. Mesti di larang. Kalau tidak akan berbahaya bagi perampok. Dan tentu saja jika dibiarkan dan para orang takut dalam ruangan itu tahu, maka mereka nantinya juga akan ikut-ikutan mengintip, lalu menari celah untuk melakukan perlawanan atau setidaknya bakal melarikan diri. Ini tentu akan menyimpang dari rencana awal mereka.
“Pantatku gatal tadi aku hanya garuk garuk pantat saja,“ ujar Lin Tian beralasan.
’Sekecil apapun nyamuk tetap adalah daging. 200 yuan ini tidak boleh direbut begitu saja,’ gumam Lin Tian yang semula dia saja meremehkan uang tak seberapa itu, yang tak sebanding dengan tenaga dan pikiran yang dikeluarkan. Namun jika uang segitu kecilnya saja sudah mesti diserahkan pada orang tak benar, maka akan bertambah sia-sia apa yang sudah dia keluarkan selama ini. Tidak. Hal itu tak boleh terjadi. Bagaimanapun uang itu mesti dipertahankan.
Argh!
Ada yang berteriak. Di saat genting tadi. Dimana perampok sudah sangat marah pada Lin Tian karena ulahnya tadi, namun suara itu membuat arah pandang mereka sedikit terbagi.
‘Kesempatan bagus bisa melarikan diri,’ gumam Lin Tian lagi mencoba memanfaatkan satu situasi yang memang sedikit aneh serta agak luang itu.
“Jangan harap!“
Rupanya memang ada sedikit kehebohan. Seorang wanita tengah menjerit-jerit. Selain ketakutan dan dia ikut tiarap bersama pengunjung yang lain, juga karena salah seorang penjahat itu mulai berbuat tidak senonoh padanya.
“Shuzai kita sedang melakukan tugas besar. Kenapa kamu bersiap cabul lagi?“ ujar seorang perampok dengan wibawanya. Dia rupanya menjadi pemimpin berandal kecil itu.
“Bos, wanita ini kualitas unggulan,“ujar Shuzai yang berambut keriting dan tatapan matanya benar-benar berandal sejati. Sehingga melihat yang bening begitu, langsung saja gairahnya meningkat. Dan untuk beberapa waktu sebelum ini langsung tak bisa mengontrolnya. Hingga ingin berbuat yang tak baik.
“Aku Chen Zhilin, walaupun mati, juga tidak akan menyukai bajingan seperti kamu,” kata Chen Zhilin. Sangat tak menyukai mereka. Selain bentukannya memang tak karuan, sebagai wanita, bahkan terhormat, tentu akan mempertahankan kehormatannya itu. Agar tak ternodai oleh orang yang tidak berhak. Dan itu orang-orang kasar yang kali ini tengah menginginkannya itu.
__ADS_1
Waa.
Tombol darurat dipencet. Menimbulkan suara aneh. Terutama disaat yang tak mengenakkan itu. Jadi hening sunyi bahkan mencekam. Hanya teriakan perampok saja yang membuat keriuhan.
Stop!
Argh.
“Lepaskan wanita itu. Ada apapun hadapi aku saja lepaskan guru kelasku bu Chen,“ ujar Lin Tian yang tak menginginkan ada seorang wanita mendapat kekerasan dari orang-orang keras itu. Apalagi kali ini adalah gurunya yang antik dan bahenol. Tentu saja ketambahan baik hati. Dimana ilmu yang sangat bermanfaat sudah dia serap sampai ke akar-akarnya. Itu juga yang mestinya dilakukan oleh seorang anak didik. Dimana pada waktu yang dibutuhkan dia bersedia membantu, guna membalas jasa dari seorang yang memberikan ilmu nya. Pegangan Chen Zhilin lepas. “Tentu saja kalau mau mencabuli ku, suruh saja wanita.“
“Sialan sejak kapan kamu membuka pintu?“ gertak sang pimpinan yang langsung menodongkan senjata mematikan itu, ke arah Lin Tian karena berani-beraninya datang dengan tak diundang dan membuka pintu secara sembarangan dimana mereka tengah asyik-asyiknya menodong para penakut itu.
“Kalau ada apapun bicarakan baik-baik. Memukul dan membunuh sangat tidak.....“ belum juga dia menyelesaikan ucapannya, langsung mendapat hadiah tak mengenakkan dari bos perampok tersebut.
Bruk!
Sat....
Tembakan dari sang pemimpin langsung terlontar ke arah Lin Tian. Tentu saja membuatnya terjungkal. Tak kuat menghadapi timah panas. Itu membuat dia tak tahan. Semua juga demikian. Sangat kecil kemungkinannya untuk bisa menangkalnya. Sebab sudah diperhitungkan apa yang keluar dari laras pendek senapan itu mesti membuat musuh terkapar. Sehingga dari waktu ke waktu, dari tiap saat, akan melakukan perubahan demi senjata mematikan tadi. Mulai dari bentuk paling sederhana, hingga menggunakannya saat ini yang terus dilakukan pembaruan. Sehingga diharapkan satu peluru untuk satu nyawa. Dan itulah yang sangat mengerikan, jika lin tian yang kena akan langsung membuat dirinya seperti sekarang ini.
“Apa aku mati begitu saja?“ gumamnya. “Tidak bisa. Aku tak boleh mati. Setidaknya aku harus menghabiskan 200 yuan.“
Menerima misi dalam satu menit menghabiskan 1 juta yuan, itu yang tertulis. Dan hadiah nya terhindar dari kematian, mendapatkan sistem lempar dolar.
“Apa yang kamu lakukan?“
Tik tak kali ini waktunya jam 3:51.
__ADS_1
“Anggap saja ini kenyataan.“
Dalam tiga menit aku akan menghabisi kalian. Ujar Lin Tian. Semacam pertaruhan jadinya. Sehingga untuk waktu yang sudah ditentukan itu membuat dia mesti menuntaskan tugasnya. Demi apa yang sudah disepakati itu.