
Pegawai dengan helm kuning membawa box besar yang diikat di sana sini pada tiap sisi nya. Ternyata itu batako dengan tukang nya yang sangat ahli di bidang per batako an.
“Panas sekali,“ ujar si tukang batako itu sembari membuka helm nya supaya sedikit hilang keringat yang bercucuran membasahi rambut nya.
“Lama tidak bertemu si aneh.“ Ada yang menepuk pundak. “Bagaimana kabarmu?“ tanya Lin Tian sok akrab yang kelihatan nya tengah mencoba untuk mendekati nya karena ada suatu kebutuhan.
“Xiao Tiantian, kita sudah tidak berjumpa beberapa tahun. Kenapa kamu mencari ku kemari,” ujar Bueri yang sangat senang bertemu teman lama, seakan menjadi reuni kecil-kecilan. Bagaimana tidak senang jika sudah lama tak ketemu, namun dalam kondisi yang seakan berbeda jauh kini menjadi ajang pertemuan yang mengingatkan kembali dengan suasana lama yang selalu merindukan itu.
“Aku melihat post di WeChat mu, tentang kondisi mu memindahkan batako di proyek bangunan,” ujar Lin Tian seraya menunjukan WeChat sahabat nya.
‘Memindahkan batako di proyek bangunan, begitu melihat, aku sudah merasa, kalau dia memiliki potensi cocok menjadi sutradara dalam animasi gagal ku,’ gumam nya seraya menggumam dalam gumaman yang hampir tak terdengar. Hal ini bagi Lin Tian terlihat sebagai potensi besar. Dia tak sadar jika teman nya ini adalah ahli animasi, karena tiap buku pelajaran selalu di coret-coret terutama jika nampak ada bagian yang kosong di suatu lembar nya. Dia ini juga tentunya menggemari kegiatan aneh di samping punya kelebihan tersendiri yang berhubungan dengan lukis melukis.
“Aku memiliki sebuah proyek yang ingin aku serahkan padamu.”
“Proyek. Sekarang aku juga sedang dalam proyek,” kata tukang batako yang justru ingin mengajak Lin Tian menangani proyek besar yang sangat merepotkan jika di tangani sendirian begitu. Hanya saja proyek kali ini ada hubungan nya dengan bangunan. Sebab banyak proyek bangunan besar yang terus di bangun. Makanya tak akan kekurangan ahli hanya untuk mengurusi masalah proyek tersebut. Dan tiap tahun nya selalu mencetak banyak ahli tentang urusan bangunan yang juga bentuk nya sangat banyak. Ada bangunan air, bangunan sipil, bangunan gedung, juga bangun tidur. Banyak sekali yang bisa di kerjakan untuk menjadi lulusan yang sangat berguna bagi masyarakat, bangsa dan negara.
“Aku mengundangmu untuk menjadi sutradara animasi,” bisik Lin Tian, seakan pekerjaan itu penuh rahasia. Takut berhasil. Dengan begitu bakalan ada kerugian yang nanti bakalan mereka tanggung berdua, namun pengembalian dari sistem tetap buat si Lin Tian seorang. Dia cukup bekerja dan mendapat uang di awal saja.
“Tidak, tidak. Aku tidak bisa. Aku sama sekali belum pernah menyentuh dunia animasi,” kata tukang batako itu enggan menerima tawaran menggiur kan namun sama sekali belum pernah dia kerjakan. Nanti hanya akan merugi dan diantara teman tentunya akan sangat menyedihkan. Si petugas batako itu penuh kekhawatiran. Takut gagal. Takut membuat rugi Lin Tian yang sudah mengunjunginya menjadi orang yang demikian penting.
__ADS_1
“1 juta, aku akan langsung transfer untuk mu. Hubungan pertemanan kita dulu masih terlihat jelas di dalam otak ku. Aku benar-benar ingin bermain dengan mu lagi.” Permainan yang saling merugikan tentunya. Maka ingat terus.
“Kalau 1 juta….” Seakan tukang batako ini pikir-pikir.
“2 juta harga teman,” kata Lin Tian main tawar.
“Baiklah. Aku menerima tawaranmu, melihat pertemanan kita,” kata Bueri dengan lesu, karena pertemanan yang pernah mereka alami membuat dia tak bisa berpaling untuk menolak tawaran dengan uang demikian banyak bagi dunia batako nya.
“Haha, baiklah. Sampai jumpa 3 hari lagi,” kata Lin Tian senang. Pertemanan merugi nya terus bisa berlanjut.
“2 juta, harga teman. Ya sudah, harga teman,” kata tukang batako itu dengan lesu nya harus meninggalkan dunia batako nya. Mau bagaimana lagi, teman si tukang batako kan juga teman lin tian juga, makanya dia merasa tidak enak.
“Guru Bu’eri tempat sudah dikosongkan. Silahkan anda lanjutkan,” kata rekan bisnis nya.
“Baiklah kali ini aku akan mempercepat. 3 hari beres.”
Bu’eri membuka tas nya. Dikeluarkan isi yang banyak, tentang peralatan melukis. Ada kuas. Ada cat warna warni.
“Baik mulai bekerja,” kata tukang batako akan menyelesaikan tugasnya secepat mungkin. Dia naik tangga. Mendekati mural yang besar di dinding. Setelah sampai atas dia melanjutkan tugasnya. Menyelesaikan Last Supper karya Leonardo yang fenomenal itu.
__ADS_1
“Silahkan anda melukis dulu, bayaran anda kali ini adalah 12 juta, setelah tax, saya akan meminta orang untuk mentransfer nya ke rekening anda,” kata bos sang pemesan lukisan kudus yang punya makna sangat berarti itu.
“12 juta adalah harga teman untuk kalian. Aku doakan semoga galeri seni kalian lancar,” kata Bueri sembari mengiringi kepergian si pemesan lukisan. Lalu katanya lagi, “demi si Lin Tian yang tidak punya malu. Kurang 10 juta tidak apa-apa lah. Aku tidak kekurangan uang.”
#
Sementara bagi Lin Tian itu semua dianggap nya sebagai pengeluaran yang sangat besar. “Sudah kubilang kan, bekerja di bidang seni harus rela membayar mahal. Memang kenapa kalau menghamburkan uang.”
‘Ada apa dengan tuan, jelas-jelas dulu dia sembrono dalam mengeluarkan uang, kenapa sekarang malah menghemat uangku?’ ujar Xiao Qian yang ternyata sudah paham seberapa mahal harga si pelukis tenar teman Lin Tian dulu itu. Makanya 20 juta tak sebanding dengan 2 juta yang dikeluarkan nya. ‘Sepertinya aku harus bersiap baik padanya.”
“Hahaha… aku menghamburkan uang banyak sekali sampai Xiao Qian mulai memijit ku meminta ampun ya,” kata Lin tian yang merasa mengeluarkan sangat banyak, tapi kenyataannya dia tak seberapa keluar uang dibandingkan dengan pemasukan yang didapat oleh teman SMP nya yang Bengal-bengal itu.
#
“Lin Tian, Bos perusahaan ini benar benar adalah kamu?” ujar Xiao Ge.
“Xiao Ge, cepat sekali sudah datang,” kata Lin Tian sangat senang dengan kehadiran teman SMP nya. Sehingga akan reuni ulang lagi sembari mengingat masa-masa nakal dulu, yang suka meloncat jendela jika suntuk, atau guru dalam menjelaskan tak jelas-jelas.
“Tentu saja, kan untuk mencari untung. Aku segera bergegas berlari kemari,“ kata Xiao Ge dengan sangat senang nya yang membuat dia melonjak lonjak seraya berpelukan sembari menari-nari dan meluapkan kegembiraan nya bertemu dengan bos perusahaan yang kekurangan itu. Juga seakan tanpa perlu mengeluarkan kata-kata besar yang menunjukkan kalau sebenar nya dia sangat kaya raya dari berbagai kepunyaan yang dia punya itu.
__ADS_1
“Miskin sekali ternyata, bagus bagus…” ujar Lin tian yang semakin tak mengerti. Padahal biasanya mengerti.