
Negara Mei.
Taman Niu Yue.
Hari itu…
Seorang cantik tengah berlari pagi menyusuri taman nan indah. Hal ini sangat serasi dengan bentuk tubuh yang juga begitu menawan. Dengan pakaian super ketat dan celana pendek yang juga menyerap keringat. Dengan sepatu sneaker yang nyaman di gunakan.
Gadis tersebut terus saja melangkahkan ayunan kakinya di sertai suara berirama yang sesuai dengan derap langkah.
Juga detak jantung yang semakin stabil andai hal itu dilakukan secara teratur di tiap paginya seiring dengan sang dewangkara yang juga teratur menyambut pagi.
“Olahraga pagi di taman, benar-benar enak sekali. Aku pasti adalah orang pertama yang datang,“ ujarnya yakin karena sejauh itu tak ditemui satu batang hidung pun orang yang memenuhi taman. Apalagi orang biasanya senang ke lokasi tersebut kala senja datang atau saat mentari menjelang tenggelam. Dimana udara panas mulai teduh, dan suasana taman sudah tidak lembab.
“Ha ha!“
Ada suara.
Membuat terkejut.
Nampaknya sudah ada orang yang dengan tangkas mewarnai suasana dingin taman yang begitu syahdu.
“Eh suara apa itu?“ si gadis terkejut. Dia hentikan langkah. Menajamkan pendengarannya. Untuk lebih memahami akan siapa dan mengapa suara tersebut sudah ada di pagi buta begini.
Gadis itu terus mengikuti ke arah suara. Menyibak dedaunan. Dan mencermati apa dan siapa yang sudah berani-beraninya mengagetkan dirinya yang tengah melampiaskan kegemaran untuk meniti taman yang rindang tersebut.
“Eh, tak disangka,“ Gadis itu terkejut lagi. Saat mengetahui siapa yang ada di sana.
Ternyata, dalam taman tersebut, pada suatu tanah lapang yang demikian lega, begitu asik para lansia yang tengah mengumbar kesumat untuk saling memamerkan ilmu oleh kanuragan sembari mengeluarkan jurus andalan yang dimilikinya.
Gerakan-gerakan ini Nampak begitu indah kala dimainkan dalam taman yang penuh dedaunan serta berada dalam pagar tembok tinggi menjulang pencakar langit. Sangat sesuai dengan latar belakang yang begitu keren.
Sat…
Di sisi lain, Nampak lansia itu tengah mengeluarkan ilmu kalong, alias menggantungkan diri dengan kepala di bawah dan kaki berada pada tumpuan tiang yang menjulur sejajar.
Jika bukan orang sakti, mana bisa demikian. Paling tidak dia mesti menguasai jurus andalan suatu perguruan yang sudah melegenda.
__ADS_1
“Oh my god, senam berputar…“ ujar gadis itu dengan tak henti-hentinya kagum, serta memahami kalau yang tengah dimainkan itu adalah jurus berputar.
Berikutnya lain gerakan.
“Wow, beruang hitam menabrak pohon!“ saat melihat sang lansia, tengah main tabrak hingga pantatnya membentur pohon besar dan angker di tengah taman yang penuh dengan buah larangan tersebut.
“Bela diri China!“
Berikutnya Nampak sang lansia mengeluarkan semacam jurus atau kata yang sangat aneh. Namun bagi para penghayat aliran ini sudah pasti paham akan jurus yang sangat hebat tersebut.
“Ini pasti adalah seni bela diri China. “
Mungkin kehebatannya sama dengan jurus kunyuk melempar buah, atau pendekar lembah huai yang sangat hebat itu.
“Orang negara Hua dan semuanya adalah lansia. Kenapa mereka hebat sekali.“ Kagum sang gadis. Ternyata memang benar kata pepatah, semakin tua semakin menunduk. Itu ilmu padi yang sangat berisi. Dimana semakin banyak usia, semakin banyak juga pengalaman beserta ilmu yang dimilikinya. Serta bukan hanya omong kosong, dimana sekedar tua ke jemur, semakin tua hanya gosong saja.
“Gadis kecil, masih ada yang lebih hebat,“ ujar lansia merendah. Sebab ada kalanya di atas langit masih ada langit. Di mana ilmu seseorang yang sangat tinggi, ternyata masih ada orang lain yang juga masih mempunyai kemampuan dahsyat yang menjangkau tinggi langit.
“Hasako…“
Si lansia mengeluarkan pedang saktinya. Untuk di mainkan dengan jurus maut yang paling ampuh kala menguasainya.
“Semua ini adalah untuk kesehatan dan kebugaran. Apa kamu ingin belajar?“ tanya lansia yang ingin berbagi ilmu, supaya ada generasi berikutnya, sehingga ilmu dahsyat itu tidak ikut terkubur bersama dirinya yang sudah lelah dalam malang melintang di rimba persilatan.
“Aku mau, mau kesehatan dan kebugaran, hebat sekali,“ si gadis demikian ambis dalam menyikapi tawaran sang pendekar tua yang sudah kemakan usia itu.
“Dengan membeli 1 pakaian tradisional Han, kamu sudah dapat bergabung dengan tim kebugaran Tianlin kami. Dapatkan bimbingan fitness tatap muka, 1-1. Jumlahnya terbatas. Kalau mau, beli secepatnya,“ ujar lansia Tianlin itu sedikit promosi agar ada yang mau bergabung dengan perguruan hebat tianlin yang sangat melegenda dan mempunyai jurus langka yang sudah sangat kuno itu.
Mendengar itu si gadis berpikir sejenak. Ada yang aneh dengan ilmu bela diri ini.
“Aku mau!“
Namun di belakangnya Nampak antusias, para pemuda pelajar yang menginginkan ilmu itu sebagai dasar dari bela diri yang sangat diperlukan untuk menghadapi dunia nyata yang sangat keras untuk ditaklukkan.
“Aku datang duluan, berikan padaku!“ Gendut dan sangat kekar tentu saja bakalan mudah dalam mempelajari ilmu langka dan kuno tersebut. Makanya dia yakin akan sanggup memilikinya.
“Jangan berebut denganku. Aku juga mau beli untuk kakakku di negara Ying!“ ujar gadis perkasa yang justru berhasil paling depan dalam antrian yang sebelumnya Nampak tak ada orang akan tetapi selanjutnya mereka menampakkan diri.
__ADS_1
“Sekarang adalah bulan promosi kebugaran Tianlin dan setiap negara kelompok kebugaran sendiri untuk lansia. Promosikan budaya kesehatan China dan promosikan pakaian tradisional Tiongkok. Semuanya tidak perlu panik ya.“ Nampaknya bakalan banyak yang laku dan mengikuti olahraga tersebut demi luasnya tradisi dari negeri itu untuk bisa lebih memasyarakat.
#
Nampak pesawat terbang mendekat.
“Apa setiap negara memiliki tim pemasaran? Sebesar itu skalanya?“ tanya Ma Keji.
“Benar. Mana cukup memasarkan dengan satu ajang Huanfa saja. Mana boleh kita hanya menyebarkan olahraga, tapi tidak menyebarkan budaya,“ ujar Lin Tian.
Nampak dalam HP
TIM KESEHATAN DAN KEBUGARAN MENYAPU DUNIA GAYA BARU KEBUGARAN MENGHIDUPKAN KEMBALI PAKAIAN TRADISIONAL
FASHION OLAHRAGA MUNCULNYA KEAJAIBAN BISNIS TIANLIN GRUP.
“Tim publisitas kesehatan dan kebugaran ini terdiri dari para peserta raja lansia berapi-api. Keren Direktur Lin, bagaimana anda bisa terpikir cara ini?“ ujar Ma Keji bengong saat menatap layar HP gede-nya.
“Ini semua karena kalian para karyawan teladan yang memaksaku. Kalau bukan karena kalian, mana mungkin aku bisa tahu cara kerja yang merugi untuk mendapatkan untung ini.“
“Tapi, aku masih ada satu pertanyaan lagi. Untuk apa kita pergi ke puncak gunung sekarang?“ tanya Ma Keji seraya melongok keluar jendela pesawat helikopter merah yang melaju kencang dengan angin yang semakin dingin saja.
“Semua kelompok, bersiap mulai bergerak,“ kata Lin Tian melalui Walkie talkie memberi perintah. “Kompetisi raja lansia berapi-api kali ini membuatku menyadari kalau ingin rugi. Ehem, ingin melayani semua orang harus dimulai dari hal-hal dengan melakukan hal yang tidak berani dipikirkan dan dilakukan oleh orang lain.“
“Contohnya….“
Tiba-tiba tangan kekar bagaikan monster dari neraka merengkuh dengan kuat leher Ma Keji. Tentu saja sang pemilik meronta-ronta dan ingin terbebas.
Berikutnya Nampak dari helicopter merah itu meluncur dua sosok tandem yang hendak melawan gravitasi bumi.
Ma Keji terus menjerit-jerit sampai akhirnya tak bisa menjerit bahkan keluar suaranya pun. Dan hanya bisa menganga seperti orang kehabisan nafas akibat rasa panik yang begitu hebat.
Sementara orang monster dengan santainya mencabut tali handel untuk mengembangkan parasutnya dan tandem tersebut melayang dengan santai ke bawah, menuju titik terpasti.
“Terimakasih telah menjadi orang pertama yang mencoba proyek baru perusahaan, Ma Keji,“ ujar Lin Tian tersenyum licik, demi melihat kengerian tersebut. Dan dengan senyum lebar, dia puas akan kinerja perusahaan yang sukses membuat acara. “Ini adalah proyek terbaru dari perusahaan game Tianlin.“
“PERJALANAN DETAK JANTUNG….“
__ADS_1
#