
Ada dua bangunan. Rumah klasik. Yang seperti kastil. Apalagi di lokasi yang sepi serta dingin. Semacam pegunungan begini. Begitu menambah kesan angker pada keduanya. Tentunya akan terbayang bagaimana kastil tersebut bakalan di huni oleh para hantu bergentayangan serta vampire penghisap darah yang begitu menakutkan. Dan dua kastil itu sangat pantas sebagai sarang mereka.
‘Kenapa aku merasa di tipu dunia ini mana mungkin ada hal sebaik ini,’ ujar kaos biru sembari menenteng tas serta mengikuti ma Keji yang lancer berjalan menyusuri jalan setapak hutan menuju ke kastil yang sangat menyeramkan itu.
“Kami, platform game Tiantian, berlokasi di atas gunung ini. Ikuti ku,“ kata Ma Keji sembari terus menunjukkan lokasi dimana mereka berada dan hendak bagaimana kemudian.
‘Tidak beres. Mana ada perusahaan game yang berlokasi di atas gunung,’ ujar baju biru itu, terus tak yakin akan kata-kata para karyawan game Tiantian yang seakan hanya berpromosi saja supaya segalanya laku. Lalu terpikirkan sesuatu yang aneh. ‘Jangan-jangan, mereka akan menjual organ ku,’ Dan terbayang bagaimana menderitanya nanti kalau hal demikian terjadi. Yang ada dia hanya akan tergolek lemas dalam suatu boks layaknya boks mandi yang biasanya penuh air kali ini penuh dengan darahnya yang membuat lemas tubuh tak berdaya.
“Halo, semua pikiran di hati mu terlihat sangat jelas,“ ujar Ma Keji yang merasa kalau mereka yang dating ini banyak yang berpikiran tak bagus.
“Tapi, organ dalam yang dipakai untuk begadang setiap hari, juga tidak sehat, mana ada orang yang mau,“ katanya lagi sembari cengar cengir.
“Katakan sekali lagi!“ ujar si tukang begadang itu dengan rasa sangat kesal. Hampir saja dia mengejar si tukang omong kosong itu.
“Ayo, kamu dapat memilih dari semua ini, bekerja sama dengan platform game Tiantian, kamu tidak hanya akan memiliki uang, tetapi juga mendapatkan studio secara gratis,“ ujar Ma Keji seraya menunjuk rumah klasik yang begitu asik untuk di tempati.
“Wah, kalau sampai, kalau sampai aku harus lembur, apa aku boleh tinggal di sini?“ tanya si gamers itu.
“Lembur? Kami Tianlin… Bukan, platform game Tiantian, tidak mengijinkan adanya lembur,“ ujar karyawan Tiantian. Bagaimanapun lembur tak banyak manfaat bagi si pegawai. Karena sudah terlalu lelah untuk mengerjakan pekerjaan yang semestinya. Walau itu untuk menyelesaikan pekerjaan, akan tetapi kondisi badan tak bakalan bagus. Sehingga lama kelamaan akan menjadi lemah. Dan penyakit mudah masuk. Makanya orang yang demikian akan menderita di masa berikutnya. Memang tak akan terasa secara langsung, tapi bakalan kena untuk waktu berikutnya. Padahal bagi seorang manusia, jika terkena suatu penyakit yang berat, maka untuk menyembuhkannya butuh wakt yang panjang. Dan waktu itu yang justru akan membuang kesempatan untuk lebih maju lagi. Makanya banyak perusahaan yang enggan mengadakan lembur.
__ADS_1
“Aih, sama saja, aku masih harus menyewa kamar,“ keluh si pemain.
“Tapi, kalau tidak lembur, hanya tinggal di sana, maka tidak ada masalah,“ ujar Ma Keji yang membatu Lin Tian supaya merugi banyak.
“Aku akan menyumbangkan jantungku untuk platform game Tiantian,“ ujar pemain baju biru itu dengan bersemangat dan sangat berterima kasih sekali karena sudah bisa tinggal tanpa masalah yang berikutnya akan bekerja dengan sangat keras meski jantung taruhan nya.
“Tapi kalau tidak lembur, aku mungkin tidak bisa menyerahkan pekerjaanku tepat waktu,“ ujar nya lagi sembari menghitung-hitung kalender yang sudah banyak di tandai serta waktu yang menjelang berakhir.
“Tidak perlu khawatir, aku sudah menyiapkan semuanya,“ ujar Ma Keji seraya menjentikkan jari, maska terpuaskan napsu…
“Di masa lalu, studio game hanya bisa mengandalkan rasa bersalah, karena menunda-nunda untuk menyelesaikan pekerjaan mereka. Dan selalu jatuh ke dalam lingkaran setan, di mana kerja lembur tanpa efisiensi,“ jelas Ma Keji. “Ini hanya karena kurangnya manajemen waktu dan tidak bisa mengendalikannya.“
Lalu ma Keji menunjuk ke orang yang datang sembari salto dan bergaya. “Ini adalah manajer game yang sudah aku sediakan untukmu.“
Guru manajemen waktu ‘Luo Zixiang.’ Orangnya enerjik. Dengan rambut yang di semir hijau, pakai jaket biru serta celana kasual yang sangat santai. Serta mengenakan kacamata hitam.
“Bagaimana kalau serahkan waktumu padaku?“ ujarnya memberi penawaran serta mengulurkan tangan nya.
“Iya, kau harus memperlakukanku dengan baik ya,“ ujar si bocah.
__ADS_1
Lalu dia berkata, “Oh ya ada satu lagi masalah yang sangat penting. Setelah karyamu diunggah, bagaimana pembagiannya dengan platform?“ karena ini sangat penting bagi dia yang sudah bekerja sangat keras, namun bila tak jelas di akhirnya maka bakalan sangat mengecewakan sehingga untuk kerja selanjutnya pasti sudah sangat jenuh.
“Pembagian? Pembagian apa?“ tanya Ma Keji. Dia tak jelas urusan bagi membagi begitu. Yang ada dalam pikiran Lin Tian, sang bos hanya menghamburkan uang. Dan tak perlu berbagi. Makanya dia sedikit kebingungan akan hal tersebut. Karena secara perhitungan bagi membagi demikian sedikit rumit dan tak akan membawa keuntungan berarti.
“Huh ketahuan juga, kalian tidak akan melakukan pembagian. Ingin menelan semuanya.“
“Apa yang kamu pikirkan tidak benar. Seorang filsuf pernah mengatakan kepada ku bahwa untuk melayani pencipta dia menetapkan bahwa kita tidak akan berbagi. Ini karena Kami tidak akan meminta sepeser pun selama pemain memiliki platform yang bagus kami sudah puas,“ jelas karyawan. Hal ini supaya si karyawan baru tak segan-segan untuk mulai bekerja dan memberi untung pada perusahaan sehingga segalanya nanti akan berjalan lancar dan taka da kendala soal pembagian yang diinginkan oleh si gamers itu.
“Pria hebat itu, aku mau dicelakai olehnya,“ ujar pemain itu sedikit terbelalak.
“Tenang saja aku akan mengatur waktu mu dengan baik,“ kata Ma Keji sok akrab. Kemudian dia mengajak masuk si gamers itu agar memulai pekerjaan nya tanpa peru lembur dan sedikit merugikan perusahaan. Tentu akan sangat membuat senang si bos.
“Ayo aku akan mulai bekerja,“ ujar si pekerja dengan mantap. Dia ingin segera menyelesaikan games platform yang sudah sangat di tunggu oleh perusahaan Tianlin agar segera jadi serta membawa dampak pada perusahaan nantinya. Dan game Tiantian segera booming lagi untuk sanggup bersaing dengan perusahaan game ternama lainnya yang sudah mapan.
Ujar Ma Keji dengan senang, “Studio pertama sudah selesai, proyek inkubator game kita resmi dimulai. Selanjutnya adalah berbagai proyek yang lebih unggul.“
#
Dalam suatu gedung dimana di dalam satu ruangannya, Lin Tian tengah bergembira, sembari main-main HP nya, “Hehe bagus juga. Mendirikan platform ini sangat menghamburkan uang. Bagaimana kalau membuat platform untuk setiap aspek?“
__ADS_1
#