Menjadi Orang Terkaya Mulai Hari Ini

Menjadi Orang Terkaya Mulai Hari Ini
Episode 97


__ADS_3

“Ayah!“


Dengan tergesa-gesa Lin Tian pulang untuk menemui ayahnya. Dia langsung membuka pintu lebar-lebar. Berharap itu tak terkunci.


“Xiao Tian bagus sekali, cepat bantu aku membereskan barang-barang,“ kata ayahnya yang sibuk mengemas barang-barang berharga. Nampaknya dia hendak melakukan bepergian yang lumayan lama. Makanya butuh Persiapan matang.


“Ayah… Apa yang sedang ayah lakukan?“ tanya Lin Tian sampai keluar keringat dingin.


“Tiba-tiba kita memiliki begitu banyak uang. Tentu saja kita harus pergi liburan,“ kata Ayahnya yang merasa menjadi orang terkaya mulai hari ini, maka mesti liburan ke tempat indah hanya untuk bersantai, melupakan masa lalu yang tidak kaya-kaya.


Ayahnya sudah siap dengan topi dan pelampung ban nya demi liburan ke tempat berair.


“Tapi uang itu belum sampai ke tangan,“ ujar Lin Tian mengingatkan. Takutnya kalau uang itu tak kunjung tiba. Nanti terlanjur sudah senang dan kabar telah merebak ke tetangga sekitar, tapi tak jadi kaya, tentu akan malu. Mau ditaruh dimana muka mereka nanti.


“Cepat lambat pasti akan ada. Aku dengar mereka seminggu lagi akan mulai mengambil rumah,“ kata ayahnya yakin.


“Kasihan sekali ayah, dia hidup susah, sekarang ditipu orang,“ Gumam Lin Tian. Begitulah nasib orang miskin. Sekalinya ada kabar menggembirakan, ternyata Cuma tipuan belaka.


“Xiao Tian, setelah melalui hari-hari susah selama ini, sekarang akhirnya berakhir,“ kata Ayah yang merasa jika hari ini menjadi orang kaya.


“Uang 1 juta milik ayah dan ibu adalah milikmu. Kalau kamu tidak punya uang, minta saja ke kami,“ ujar ayahnya yang tak tega dengan kehidupan anaknya yang begitu- begtu saja di sekolah.


“Sebenarnya apa yang terjadi?“ ujar Lin Tian.


Trrrt…


Ayah kaget setelah mengangkat telepon.

__ADS_1


“Cepat keluar, cepat keluar, Ibumu sebentar lagi pulang, Jangan ganggu dunia kita berdua,“ ujar ayahnya berusaha mendorong Lin Tian agar meninggalkan rumah mereka. Jangan sampai si ibu nanti menduga yang tidak-tidak jika mendapati mereka hanya berduaan di rumah itu.


“Tak disangka pada akhirnya aku bisa melihat ayah ibuku bermesraan.“ ujar Lin Tian senang.


“Lebih baik aku membiarkan mereka pergi liburan dulu. Aku akan membeli rumah untuk mereka berdua,“ kata Lin Tian yang hendak berbakti pada ayah bundanya. Yang selama ini tak tahu jika dia sudah sangat mudah mendapatkan uang.


#


Sementara di suatu tempat tersembunyi, dimana ada orang yang terus mengamati gerak-gerik pemuda itu.


“Lapor bos, Lin Tian sepertinya tidak marah,“ ujar Si Pelapor pada bos nya. Dia berharap ada tanggapan untuk laporan kali ini yang sedikit penting. Karena tugasnya memang demikian, yakni untuk terus mengikuti setiap apa yang dilakukan pemuda itu setelah sampai di rumah nya yang sebentar lagi bakal hilang di sita dengan uang yang tak kunjung datang. Karena masih dalam proses transfer yang lumayan lama. Dan harapannya agar laporannya kali ini bisa membuat langkah lanjutan dari sang Bos untuk menentukan sikap tentang pemuda itu.


“Apa, tidak marah… Kenapa? Why?“ kata Zhao Bosi terhenyak. Sembari mengangkat HP biru di telinga kanannya dan monitor di sekelilingnya untuk memantau setiap gerak - gerik mencurigakan di sekeliling nya.


“Jelas-jelas aku sudah memberitahunya, kalau aku bisa membeli rumahmu dalam sekejap mata, lebih baik kamu jaga sikap. Kenapa dia tidak bereaksi. Orang kaya yang pintar. Paling tidak tahan diperlakukan seperti itu. Apa dia mengira aku penipu? Lin tian sangat cerdik, mana mungkin salah paham,“ ujarnya lagi dengan terus menduga – duga, ada apa dengan pemuda satu itu yang sulit sekali dibuat marah.


#


“Xiao Qian. Keluarlah! Sangat mendesak!“ teriak Lin Tian yang menginginkan gadis itu segera menemuinya di tempat tersebut. Dia sudah menemukan cara supaya bisa membahagiakan orang tuanya dan mendapatkan ganti rumah kalau benar-benar rumah tersebut disita, dan masih bisa tinggal dalam rumah yang lebih nyaman karena selama ini dia belum pernah membahagiakan ayah bundanya. Bahkan hanya bertemu berdua saja sudah demikian senang. Memang kebahagiaan terkadang tak harus dengan muluk-muluk. Apa yang sudah didapat dengan lega saja sudah membuat keluarga sederhana itu senang.


“Ini pertama kalinya, tuan memanggilku dengan begitu kasar,“ ujar gadis rambut biru dan bikini biru juga yang merasa jika panggilan tersebut sangat mengejutkan. “Tapi Xiaoqian tetap suka,“ ujar gadis itu. Dia rupanya tak memikirkan perasaan lagi. Dan sudah seringkali menjumpai berbagai karakter dari orang yang mesti dia layani. Ada yang terlalu lembut, ada yang sangat kasar. Yang lembut namun lemot juga ada. Semua karakter itu seiring dengan watak tiap manusia yang berbeda-beda, dan itu berkembang seiring jumlah manusia itu juga semakin banyak saja.


“Kalau sekarang aku menyelesaikan perhitungan, berapa yang bisa aku dapatkan?“ tanya Lin Tian butuh uang untuk membelikan rumah orang tuanya, jika hasil yang didapat dari hitung - hitungan itu berhasil.


“Kali ini, aku bisa memberitahumu. Tapi lain kali tidak ya,” ujar Xiaoqian sembari mengerdipkan mata sebelah.


Lalu mulailah sistem menghitung pendapatan Lin Tian kali ini.

__ADS_1


“300 yuan,“ kata Xiaoqian setelah hitung menghitung sembari menunjukkan tiga jari nya.


“300 yuan lagi? Bukankah aku sudah membagikan uang untuk merugi?“ kata Lin Tian tak percaya usaha selama ini tak ada hasil.


“Bantuan rakyat miskin dilakuan secara berkala. Jadi tidak bisa di total dalam satu minggu,“ jelas Xiaoqian.


“Lakukan perhitungan. Dengan begitu, aku baru bisa leluasa mengurus masalah rumah baru ku,“ ujar Lin Tian memaksa.


“Sistem melakukan perhitungan minggu ini mendapatkan untung 300.000 yuan. Misi berhasil. Sistem menambahkan modal awal. Total 6,66 juta yuan.“


Misi selesai, perhitungan selesai.


“Tuan, aku mengingatkan mu. Mengeluarkan uang untuk ayah dan ibumu termasuk juga ke dalam aset mu,“ Xiaoqian mengingatkan.


“Siapa bilang aku mau membeli rumah untuk ayah dan ibu,“ kata Lin Tian.


“Tapi kamu tadi bilang….“


“Aku tanya hadiah untuk karyawan termasuk dana sistem kan?“ tanya Lin Tian.


“Tentu saja,“ jawab Xiaoqian.


“Perusahaan memiliki subsidi untuk makanan, pakaian, tempat tinggal dan transportasi kan?“


“Maksud tuan adalah….“


“Tempat tinggal adalah tempat bertahan hidup seorang karyawan. Aku tidak membelikan rumah untuk ayah dan ibuku, tapi aku membeli rumah untuk karyawan ku,“ kata Lin Tian lagi. Setelah dipikir-pikir pendapatannya tak akan bisa membuatkan ayah bunda nya sebuah rumah, maka ada sedikit akal untuk tetap bisa mendapatkan tempat tinggal buat mereka namun tak terlampau merugi sekali.

__ADS_1


“Aku umumkan. Aku akan mempekerjakan ayah dan ibuku!“ Teriak Lin Tian.


AKU MELAMPAUI PENGATURAN SISTEM.


__ADS_2