Menjadi Orang Terkaya Mulai Hari Ini

Menjadi Orang Terkaya Mulai Hari Ini
Episode 63


__ADS_3

Para gelandangan segera beraksi. Mereka ada yang pura-pura meminta-minta. Ada yang pura pura meminta makan. Kelaparan…. Padahal baru sarapan tadi pagi.


Lalu setelah mendapat informasi, mereka saling bisik.


“Aku paham.“


Dan saat kumpul saling bertukar informasi kembali. Kemudian dikumpulkan masing-masing berkas itu dan kesimpulan diambil.


Pada sebuah rumah . Kendaraan besar nampak berhenti. Rumah rahasia, misterius, serta sudah banyak di intai orang, karena di dalamnya demikian rahasia. Juga sangat kuat sehingga siapa saja yang sudah di dalam sulit keluar, kalau bukan seijin yang punya rumah.


Kepala sekolah Qian dibawa oleh para penculik dengan tangan terikat dan mata ditutup. Namun masih memakai gaun merah yang cantik.


Dia dibawa masuk ke suatu ruangan. Ruangan pengap. Ruang mengerikan. Tempat yang khusus untuk menginterogasi musuh yang tertangkap. Dengan alat-alat yang mengerikan juga agar para tawanan nanti mau membuka mulut, serta mengeluarkan segala rahasia apa yang dia punyai untuk kemudian bakalan mendapat bonus dilepaskan, atau langsung di dor sama musuh itu. Karena sudah tak berguna.


Ada yang mengintip. Seorang misterius. Dengan muka hitam kelam.


“Benar sekali adalah dia.“


Sembari melihat foto Kepala Sekolah Qian. Sudah ketemu. Demikian hebat kerja


intel yang sangat berpengalaman ini. Sehingga informasi sedikit pun tak akan luput dari ingatannya.

__ADS_1


Ssss…


Ayam panggang bakar. Seseorang dengan kaki pincang tengah asik memanggang ayam. Ayam yang bukan sembarang ayam. Namun ayam gelandangan. Sebab yang memiliki seorang gelandangan. Tak punya rumah, tak ada sewa. Sehingga langit sebagai atap rumahnya dan bumi sebagai lantainya.


“Adik Lin makanlah selagi panas,“ ujar gelandangan sama adiknya. Memberi makan. Seadanya. Meskipun hanya dengan daging ayam panggang doang. Tidak mengapa. Namanya juga gelandangan. Itu sudah lebih dari cukup untuk dinikmati hari yang melelahkan itu.


“Tongkat besi Li kamu semakin ahli.“


Mereka makan berdua. Sangat asik. Sangat menikmati. Tiada seindah waktu itu pokoknya, selagi lapar. Semua nikmat. Tak perduli itu makanan apa. Yang penting bisa di manfaatkan, sudah jadi.


“Hahaha… yang aku pakai adalah resep rahasia yang waktu itu kamu berikan padaku,“ ujar Tongkat besi. Dia rupanya memiliki daya ingat yang cemerlang. Sehingga tak mudah saja melalaikan apa yang sudah diajarkan padanya. Apalagi dahulu resep itu sangat mudah, enak dan mengena kala sudah berlumur makanan sangat asik. Sehingga makanan yang demikian saja, hasil dari menggelandang, dengan resep mengasyikkan itu, jadi demikian luar biasa, seakan makanan dari restoran cepat saji yang ber merek mantap saja.


“Trims. “


Mengeluarkan alat. HP andalan. Yang isinya banyak tentang kontak sesama gelandangan ber HP.


“Halo cepat katakan… Eh, sudah ketemu. Baiklah. Awasi terus,“ Perintah tongkat besi si gelandangan yang lagi punya banyak uang sehingga anak buahnya sangat tertib. Sehingga tiap ada masalah selalu melapor. Sebab itu juga kebutuhannya mereka, yang tak perduli uang, tak perlu materi, namun kebersamaan diantara mereka yang kemudian menjadi kekayaan pengganti yang mengasikkan. Sehingga kebutuhan itu terpenuhi, selagi mereka masih dalam kelompok yang satu rasa, satu kepentingan.


“Adik Lin, adik ipar sudah ditemukan. Sebuah proyek di selatan kota basis rahasia keluarga Qian mungkin ada di sana,“ jelas si Tongkat Besi mengatakan hasil laporan anak buahnya yang demikian akurat. Sehingga tak mungkin salah bahwa yang ditangkap dan ditawan dalam sebuah rumah di lokasi tersebut memang orang yang tengah mereka cari untuk segera dibebaskan. Lagipula, meskipun hanya berbekal gambar, tapi melihat demikian popular nya kepala sekolah, maka ciri-ciri yang sudah umum itu dengan mudah di kenali.


“Baiklah bergerak sesuai rencana,“ kata Lin Tian sembari berdiri dan hendak menuntaskan rencana.

__ADS_1


“Biar mereka tahu kehebatan geng gelandangan,“ ujar Lin Tian sembari mengunyah makanan sisa. Saying kalau di buang. Walau rasanya sudah tak demikian enak, karena telah ada keputusan yang mesti dilaksanakan. Itu yang sangat mempengaruhi pemikirannya. Dimana ingin buru-buru menuntaskan segala keperluan yang masih mengganjal, jika belum tuntas. Maka mendingan melanjutkan rencana awal saja. Mengusahakan agar sukses.


“Benar, biar mereka tahu kehebatan kita.“ Tongkat besi Li juga mengunyah. Dia bangkit. Dengan tongkat penyangga yang di pegang tangan kirinya. Rambut terurainya berkibar menyeramkan.


#


Pada gudang itu. Nampak para penjaga. Benar-benar di jaga sangat ketat. Dua puluh empat jam. Non stop. Silih berganti. Oleh para piawai dalam bidangnya itu. Sebab dengan saling tukar, maka taka da kelelahan sekalipun. Soalnya waktu yang bergulir itu terus berubah seiring para penjaga yang juga berganti-ganti. Dan itu membuat tenaga mereka serta kekuatannya pulih walau hanya dengan istirahat saja. Sebab orang tak istirahat akan lemah. Orang kurang tidur juga lemah. Makanya setelah itu akan lancer kembali. Terus ada makanan yang men suplay nya. Jelas bertambah kuat.


“Pengelana di luar sedang merindukanmu… Sayang…“ ujar gelandangan penyair mendatangi penjaga. Sembari bawa botol. Mabuk mabukan dan ber pujangga dia. Seakan dunia ini miliknya saja. Atau sekedar menumpang. Sehingga orang lain dianggapnya tak ada.


“Pemabuk dari mana ini, cepat pergi!“ Usir penjaga dengan ber jas. Dia marah. Maklum orang demikian tak pernah punya kekayaan. Jadi jangan-jangan nanti hanya akan mengambil benda-benda berharga dalam rumah itu. Atau malahan Cuma mengambil tempat makan ayam, atau ember bekas, sebab benda itu masih dipergunakan. Sehingga yang punya kebingungan. Sedangkan orang-orang seperti ini terkadang main comot saja. Keterlaluan. Sungguh. Belum lagi kalau dia ini ternyata adalah mata-mata musuh yang tak boleh sedikitpun memberikan informasi tentang keberadaan kepala sekolah tawanan mereka. Maka akan sangat berbahaya. Sangat mengundang musuh untuk pada dating. Dan berikutnya bakalan membuat tawanan itu terlepas dari genggaman. “Pergi jauh!“


Hoek…


Di muntahin penjaga. Senjata rahasia. Hasil mabuk. Parah memang.


“Argh.. Bau, bau, bau.. Enyah kau!“ ujar penjaga gundul. Menodongkan senjatanya. Sangat marah dia. Masa muntah di depan muka. Benar-benar tidak sopan. Di tangkap Dengan tangan saja sudah baunya minta ampun, apalagi ini, langsung ke muka. Sembarangan sekali. Bisa-bisa kalau ada virus langsung tercemar tubuh ini. Perlu di kasih pelajaran. Jangan sekali-kali berbuat begitu lagi. Itu tidak baik. Tidak mendidik. Walau hanya seorang gelandangan compang-camping saja, tapi mesti punya etika dalam tata cara berkomunikasi antar sesame orang. Jadi tak boleh sembarangan. Apalagi orang sedang berjaga demikian. Itu tak boleh di ganggu gugat. Kalau nanti dia sampai mau ke belakang untuk cuci muka, itu akan bahaya. Meninggalkan pos nya untuk bisa sekedar membersihkan diri dari bau itu.


Soo…


Ada yang melempar pistol. Senjata rahasia geng gelandangan. Anak panah tulang ayam. Sangat mengerikan apalagi …

__ADS_1


__ADS_2