Menjadi Orang Terkaya Mulai Hari Ini

Menjadi Orang Terkaya Mulai Hari Ini
Episode 315


__ADS_3

Dalam sebuah pesawat dengan kecepatan hypersonic.


Tidur ngorok si gendut.


“Tianlin?“ Seorang pramugari yang cantik jelita tengah membangunkannya.


“Pesawat akan segera mendarat, mohon bersiap-siap,“ ujarnya lagi supaya tidak sampai kebablasan hingga ke halte berikutnya.


“Oh…“ Hanya sekedar menguap. “Baik, terima kasih.“ Sembari menggeliat dan selanjutnya sudah bersiap untuk turun. Lalu membuka penutup mata, agar semakin gelap, maka semakin lelap dalam tidur di perjalanan menyenangkan itu.


#


Selanjutnya meniti tangga turun dengan langkah panjang sembari mendukung tas punggung dan topi cantik yang sangat nyaman.


“Selamat datang Pak Li dalam dunia hiburan. Silahkan naik mobil. Kita langsung pergi ke lokasi syuting. Maaf bolehkah menunjukkan voucher berhadiahnya, sekali lagi?“ ujar penjemput dengan sangat sopan serta mengarahkan yang di jemput itu dengan kendaraan mewah yang sangat bagus serta pemandangan panoramik yang begitu mewah tersedia dalam kendaraan jemputan itu.


“Hehe maaf ya, aku juga tak menyangka diriku bisa menjadi mentor,“ ujar Li seraya menunjukkan voucher itu dengan sedikit malu-malu namun mau.


Dan dalam ruangan tunggu yang mewah, dimana peserta didik sudah menunggu dengan gelisah kehadiran para mentor yang sangat berilmu tinggi itu.


“Siapa sebenarnya empat mentor kali ini? Kenapa masih belum tiba?“ ujar para mahasiswa yang gelisah serta bertambah penasaran akan siapa mentor-mentor itu.


“Selama ini hanya kita yang terlambat jangan jangan para mentor ini adalah orang-orang terkenal itu.“ Mulai pada menebak. Benar, bila sangat terkenal bukankah selalu terlambat. Karena jadwalnya sangat padat, sehingga terkadang melupakan suatu urusan yang kurang penting.

__ADS_1


“Sudah datang.“


“Aku ingin melihat siapa orang hebat itu.“ Semakin penasaran saja para orang itu demi menanti orang hebat yang akan berbagi ilmu tadi.


Dan berjalanlah para mentor hebat tersebut.


“Siapa mereka aku sama sekali tidak kenal mereka.“ Sedikit ketawa mereka menyaksikan para mentor yang sedikit aneh dan lain dari yang biasa mereka peroleh selama ini.


“Hehe baguslah kalau tidak kenal,“ ujar Lin Tian sangat senang demi urusan yang tengah dia rencanakan sesuai dengan kenyataan yang di dapat.


“Kenapa mentor harus artis atau sutradara terkenal?“ Sebab memang begitu, sebagai seorang mentor mesti berpengaruh dan punya wibawa, sehingga dalam menyampaikan ilmu langsung bisa di terima oleh para peserta didik juga mereka yang mengikuti pelatihan sampai tuntas ilmu yang di punyai para guru. Sehingga kala mesti mengerjakan tugas baik melalui zoom maupun pakai online langsung tanggap serta bisa di kerjakan dengan sangat cepat tanpa berpikir lagi. Beda dengan orang biasa yang meskipun punya ilmu tapi tak dianggap oleh mereka sebagai murid yang hanya menginginkan nilai-nilai dan bukan keahlian yang di dapat. Makanya setelah selesai seakan tak bisa apa-apa yang Cuma bisa plonga-plongo dan lirik sana-lirik sini tanpa arti, sehingga hasil yang di peroleh juga di bawah standar dengan nilai murni yang mesti di cantumkan pada selembar kertas supaya pada tahu kalau ilmu yang di serap memang sebatas itu. Dan bukan banyak lagi. “Kalian seharusnya memandang penting para penonton.“


“Mentor pertama adalah ibu yang membeli sayur di peternakan Tianlin.“ Seorang ibu-ibu berambut merah dan berbaju merah seperti semangatnya.


“Mentor kedua adalah pembeli yang belanja di swalayan Tianlin.“ Yang sedikit gendut dengan membeli hanya minuman bersoda yang sangat popular sehingga sangat nyaman untuk di nikmati, apalagi kala tengah kepanasan serta AC dalam ruang mati akibat sabotase.


“Dibandingkan dengan mentor yang terkenal mata para penonton paling terang,“ kata Lin Tian menjelaskan.


“Tapi mereka tidaklah profesional, lagi pula hanya ada tiga mentor. Mentor yang terakhir seharusnya adalah orang yang professional, masa juga hasil undian berhadiah,“ sungut para peserta didik yang kecewa.


“Oh iya, aku hampir lupa. Mentor keempat merupakan orang yang memiliki jiwa seni paling menakjubkan. Dan pasti bukan undian berhadiah,“ kata Lin Tian kelupaan.


“Mentor keempat adalah adik kecil kita ini. Yang terpilih dari lembaga pendidikan Tianlin. Ku Beritahu adik kecil ini berbeda dari yang lainnya. Dia mahir dalam berbagai bidang.“ Bidang catur, bidang sekak, bidang makan buah, serta bidang permainan ondol-ondol, ping, yang sangat memerlukan pemikiran serba hebat.

__ADS_1


“Kebetulan mentor ketiga adalah ayahnya.“ Tentu saja yang paling perhatian dengan membawakan tas bekal, serta perhatian penuh termasuk uang saku sampai serratus ribu yang tak semua orang bisa memberi apalagi jika banyak hutang. Maka untuk hal demikian sangat sulit. Apalagi bila hal turun menurun, maka sudah sangat tepat jika keahlian sang orang tua dalam berbagai permainan game terkenal, bakalan di wariskan pada sang anak.


“Dan keempat mentor ini adalah ayah kalian,“ kata Lin tian sembari menunjuk keempat orang aneh yang memiliki keahlian masing-masing dengan posisi yang sangat kompak termasuk dalam hal mengembangkan ilmunya buat mengajari para mahasiswa dalam perusahaan Tianlin itu.


“Bukannya kalian sering berkata, penonton adalah orang tua kedua kalian? Kenapa sekarang malah tidak senang?“ ujar Lin Tian melihat ekspresi dari para peserta itu yang berbagai jenis. Namun kebanyakan tidak menunjukkan sikap simpatik sama sekali.


“Cek senang aku senang kok. Aku akan pergi mendandan dan mulai rekaman,“ ujar karyawan rambut kuning dengan sikap yang sama seperti tuannya yang suka dengan gurauan semacam itu. Namun bagiannya segala sesuatu jika di ambil dari sisi paling baik, maka hasilnya juga bisa di manfaatkan oleh mereka demi banyak keinginan tersebut.


#


“Sialan, berani nya mempermainkan aku. Siapa sampai perlu sekelompok orang ini datang mengomentari ku. Aku akan cari cara untuk di diskualifikasi besok,“ ujar karyawan baju putih itu tengah mencari cara bagaimana hal terbaik yang mesti dia lakukan di hari esok itu.


“Wahai para penonton, para mentor sudah memberikan nilai kesan pertama.“


Kamera tersembunyi.


“Wah 33 kemampuan seperti apa ini.“


Saling memberi nilai, oleh para mentor itu.


Tercatat 7,8,8,dan 10.


“Sepertinya artis terkenal ini ada kesempatan masuk ke babak final dan dikeluarkan bersama-sama dari dunia hiburan.“ Sesuai aturan tentunya. Siapa hebat dia dapat di tendang. Itulah kesan pertama, makanya saling berlomba-lomba, memperebutkan kuasa, pribadi semata.

__ADS_1


“Pff artis terkenal. Kamulah tokoh utama dalam acara show kali ini,“ ujar Lin Tian sangat senang dengan permainan kali ini, terutama para mentor yang sudah bersikap seperti dalam acara di TV- TV terdekat kebanggaan anda.


“Mantap hasil acara sangat memuaskan, bagaimana dengan jumlah tayangan?“ Lin Tian terus memantau layar monitor yang bentuknya berbagai bentuk.


__ADS_2